Menghitung Potensi & Aliran Sumber Daya Laut dengan Ocean Account: Sebuah Pengantar
Raut wajah Surtini berubah menjadi sedih sekaligus kesal ketika mengingat kembali hari ia menanam mangrove di pesisir Desa Bulutui, Kec. Likupang Barat, Kab. Minahasa Utara, Sulawesi Utara, beberapa tahun lalu. Usahanya sia-sia, tak satu mangrove yang ditanamnya tersisa.
Mangrove yang ditanamnya patah, tak bisa hidup, mati satu per satu karena terlibas masifnya sampah dari daratan. Tak hanya sampah kemasan sabun, botol plastik, atau kantong plastik, namun sampah kayu bekas konstruksi pelabuhan juga menjadi ‘biang kerok’ mangrove Surtini gugur semua.
“[Sampah] sangat menghambat pertumbuhan mangrove. Dulu sekali, mangrove lebih cepat berkembang dibanding saat ini. [Kini] jika surut, banyak sampah yang tertinggal dan tersangkut di sekitar mangrove,” kata Surtini, saat kami temui pada Januari lalu.
Wilayah melaut Surtini dan ratusan nelayan lainnya di pesisir Likupang Barat, yang dulu menjadi tempat bergantung hidup, kini tak lagi sama. Mereka harus hati-hati memilih jalur laut yang aman, menghindari tumpukan sampah dan limbah yang mengapung di bawah permukaan, agar tidak berakhir merusak baling-baling kapal. Bagi mereka, sampah adalah ancaman nyata.
Masifnya sampah di pesisir Likupang Barat juga mengganggu habitat ikan. Ikan berpindah ke wilayah perairan yang lebih bersih. Tentu saja, ini adalah mimpi buruk bagi nelayan.
Sepanjang 2024, Minahasa Utara menghasilkan sekitar 34.464,73 ton sampah padat dari sektor rumah tangga & non-rumah tangga (toko, pasar, fasilitas kesehatan, restoran, hotel, sekolah, dan industri lainnya). Lima belas persen di antaranya—atau sekitar 5.069,78 ton—adalah sampah plastik. Dari angka tersebut, diperkirakan 1.058,32 ton sampah plastik mencemari laut, hingga akhirnya merugikan Surtini dan ratusan nelayan lainnya.
Kekayaan Ekosistem Laut Minahasa Utara
Apa yang dialami oleh Surtini dan para nelayan di Minahasa Utara menggambarkan bagaimana tercemarnya ekosistem pesisir dan laut turut mendegradasi ruang hidup nelayan dan fauna. Ketika laut tak lagi sehat, ikan-ikan akan hengkang dan profesi nelayan terancam tinggal nama.
Di sisi lain, wilayah perairan tempat Surtini dan ratusan nelayan lainnya melaut masuk dalam Kawasan Konservasi Perairan Daerah Minahasa Utara dengan ekosistem lamun yang luas. Pada 2024 lalu, luasan lamun mencapai 796,65 hektare, meningkat dari sekitar 768,72 hektare di tahun sebelumnya.
Hasil observasi lapangan dan analisis menunjukkan kenaikan angka ini sebagai status yang sehat, dengan rata-rata tutupan lamun sebesar 65,98% dan kategori indeks keanekaragaman sedang. Ini tentu merupakan kabar positif. Lestarinya padang lamun akan mendorong ekosistem perairan yang sehat karena lebih maksimal menyerap karbon, menjadi wilayah pangan dugong, habitat ikan tetap terjaga, serta berkontribusi sebagai tempat pariwisata.
Dari luasan ekosistem lamun tersebut, pada 2024 lalu, total nilai ekonomi yang bisa diperoleh dari kegiatan yang berkaitan dengan lamun diperkirakan mencapai 5,95 juta dolar Amerika Serikat per tahun. Dari angka tersebut, lebih dari 45% nilainya berasal dari kegiatan perikanan. Secara spesifik, penyediaan perikanan menyumbang 3,22 juta dolar per tahun; penyerapan karbon mencapai 1,22 juta dolar per tahun; dan jasa pariwisata hingga 2,74 juta dolar per tahun. Sedangkan peningkatan nilai ekonomi penyerapan karbon dari tahun 2023 ke 2024 adalah 0,04 juta dolar per tahun.
Kendati demikian, baik di level global maupun nasional, ekosistem lamun terancam karena perubahan iklim yang semakin tidak menentu. Tantangan bagi Surtini dan ratusan nelayan lainnya akan semakin berat di masa mendatang jika ekosistem lamun di wilayahnya juga mengalami hal yang sama dan akhirnya berdampak ke penghidupan mereka.
Pada akhirnya muncul satu pertanyaan krusial: berapa kerugian yang harus dibayar atas dampak dari ragam ulah manusia maupun krisis iklim terhadap ekosistem laut ini? Bisakah kerusakan itu dihitung?
Ocean Accounts sebagai Kalkulator Aset Lingkungan
Untuk membantu menanggulangi sengkarut masalah ini, Neraca Sumber Daya Laut (NSDL) diharapkan bisa menjadi solusi. Akrab disebut dengan Ocean Accounts (OA), ini adalah kompilasi ragam akun berisi informasi mengenai laut dan pesisir, termasuk di dalamnya kondisi sosial, ekonomi, dan lingkungan.
NSDL atau OA bentuknya berupa peta, data, statistik, dan indikator yang memuat ragam informasi soal sumber daya laut, disertai analisis dan penelitian yang relevan. Karena ragam akun tersebut kerap terfragmentasi dan tercecer, di sinilah fungsi NSDL atau OA: membuat semua informasi tersebut menjadi koheren, terpadu, serta andal sebagai landasan kebijakan publik.
NSDL atau OA merupakan alat yang digunakan untuk mengukur aset sumber daya laut suatu negara. Melalui pendekatan ini, aliran keluar-masuknya aset dapat dipetakan dari tahun ke tahun, sehingga membantu pengambil kebijakan dalam merumuskan langkah strategis untuk pengelolaan sumber daya laut yang berkelanjutan. Jika terjadi penurunan aset secara signifikan, dapat menjadi indikasi adanya kerugian ekonomi dari pemanfaatan sumber daya laut tersebut.
Di Indonesia, konsep “neraca sumber daya” sudah dikenal sejak 2001 oleh Badan Pusat Statistik (BPS). Satu tahun setelahnya, barulah Badan Koordinasi Survei dan Pemetaan Nasional (Bakosurtanal)—yang sekarang adalah Badan Informasi Geospasial (BIG)—mulai memperkenalkan “neraca sumber daya ikan laut”, kendati belum mencakup seluruh wilayah Indonesia.
Di level global, pada 2021, Global Ocean Account Partnership (GOAP) memperkenalkan tujuh neraca yang digunakan untuk menyusun kerangka NSDL atau OA: Neraca Aset Lingkungan/Ekosistem, Neraca Arus ke Ekonomi, Neraca Arus ke Lingkungan, Neraca Ekonomi Kelautan, Neraca Tata Kelola dan Kelembagaan, Presentasi Kombinasi/Semua Neraca, Neraca Kekayaan Laut serta dilingkupi oleh konteks sosial dan kelembagaan.
Menghitung Kerugian Sumber Daya Laut
Secara konkret, NSDL atau OA bisa digunakan untuk menghitung aset ekosistem laut dan pesisir yang selama ini memberikan nilai ekonomi bagi manusia. Penghitungan ekosistem ini juga berlaku jika kegiatan ekonomi yang dilakukan manusia pada akhirnya mencemari ekosistem itu sendiri. Dalam menghitung aset ekosistem, perubahan lanskap ekosistem dari waktu ke waktu akan dianalisis dan dicari penyebabnya—baik karena ulah manusia maupun akibat perubahan iklim dan bencana.
Saat ekosistem mangrove ditebang secara masif, wilayah pesisir akan rentan terhadap abrasi dan banjir rob, pemerintah biasanya membangun infrastruktur pemecah ombak dengan biaya miliaran rupiah. Padahal, menurut studi, dengan membangun ekosistem mangrove yang sehat, bisa membuat sejumlah negara seperti Vietnam, Bangladesh, India, China, dan Kamerun menghemat hingga 855 miliar dolar Amerika Serikat—atau setara dengan Rp13.851 trilliun—sebagai ‘tembok alami’ (natural barrier) terhadap gelombang badai dan abrasi hingga satu abad mendatang. Indonesia, dengan wilayah mangrove terluas tidak masuk dalam daftar negara-negara yang punya contoh baik pengelolaan mangrove, karena deforestasi mangrove yang tinggi sepanjang 1996-2010. Gambaran semacam ini menunjukkan bahwa kerusakan ekosistem bukan hanya persoalan ekologis, tapi juga menjadi beban ekonomi yang ditanggung oleh negara dan masyarakat.
Dengan adanya penghitungan lewat NSDL atau OA, data yang akurat dan komprehensif soal besaran aset ekosistem laut dan pesisir yang akan relevan diberikan untuk para pembuat kebijakan dan aparat penegak hukum. Hasil analisis dari metode ini bisa digunakan sebagai dasar kebijakan publik untuk menetapkan zonasi kawasan konservasi, penerapan kebijakan restorasi, dan juga perhitungan nilai ekonomi ekosistem untuk mendukung insentif konservasi. Ia juga penting untuk mendorong integrasi nilai ekosistem ke dalam perencanaan daerah, mendukung pembiayaan iklim dan konservasi, serta mengurangi polusi laut dengan pemetaan sumber utama limbah.
Dengan NSDL atau OA, kita tidak hanya bisa menilai manfaat laut yang telah kita nikmati, tapi juga membangun sistem perlindungan jangka panjang demi masa depan yang berkelanjutan. Lebih dari itu, nasib Surtini tak lagi sekadar cerita nelayan yang kalah dari sampah. Kerusakan mangrove akibat aliran sampah seperti yang dialami Surtini dapat diperhitungkan dengan lebih akurat melalui NSDL atau OA, sehingga tidak lagi nilai-nilai penting dari ekosistem ini luput dari perencanaan pembangunan.
Sudahkah kita siap jika ekosistem mangrove dan lamun Indonesia di masa depan punah, rusak tanpa restorasi, karena krisis iklim dan polusi yang tak terbendung?[]
***
Cerita ini ditulis berdasarkan wawancara saat riset lapangan pada Januari lalu dan sejumlah riset pendukung lainnya yang terverifikasi. Publikasi cerita ini merupakan pengantar dari seri tulisan mengenai nercaya sumber daya laut (NSDL) dan perannya dalam menjaga kelestarian ekosistem laut dan pesisir.