Tambak Kecil Bertarung dengan Iklim: Merasakan dari Dekat Dilema Petambak Udang saat Banjir Rob Pesisir Banyuwangi
Menjelang peringatan Hari Laut Sedunia, 8 Juni 2026.
***
Jam dinding menunjukkan pukul sebelas saat kami sedang duduk di sebuah warung, bersama sejumlah petambak udang di pesisir Desa Wringinputih, Kecamatan Muncar, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur. Malam itu, 7 November 2025, suasana warung hanya berisi canda dan tawa, sampai akhirnya seorang petambak pergi untuk memeriksa saluran irigasi yang mengalir ke kompleks tambak udang miliknya.
Petambak itu kembali ke warung dengan raut wajah yang tak lagi semringah. Dahinya mengerut. Ia bilang bahwa debit air saluran di tambaknya mulai deras. Setelah mendengar informasi itu, para petambak lain menduga air pasang laut akan lebih tinggi dari biasanya.
Tak butuh waktu lama, lantai warung tempat kami berbincang mulai digenangi air luapan dari sungai yang berhulu dari laut. Semua petambak terkejut dan langsung bergegas menuju tambak masing-masing, berharap keadaan tak memburuk.
Suasana warung yang awalnya terasa hangat karena senda gurau, seketika berubah dingin usai ditinggal orang-orang yang takut jika tambaknya diterjang banjir rob dan membawa kerugian.
Sebenarnya, tiga hari sebelumnya, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Banyuwangi mengeluarkan peringatan bahwa pada 7 November akan ada arus pasang maksimum, yang diperkirakan mencapai 120 cm pada pukul sepuluh malam. Itu artinya, peringatan BMKG nyaris akurat. Namun informasi seperti itu tak pernah sampai ke para petambak. Tak satu pun dari mereka mengakses kanal-kanal resmi peringatan, entah laman BMKG atau media sosial lainnya. Para petambak hanya sesekali memantau cuaca lewat sebuah aplikasi pemantau pasang surut laut, yang lebih akrab bagi mereka, namun tidak rutin.
Keesokan paginya, seorang petambak bercerita kepada kami bahwa debit air dari pasang laut yang deras itu menghancurkan salah satu sisi dinding tambaknya. Kejadiannya begitu cepat hingga ia tak sempat berbuat banyak untuk melindungi area tambaknya. Sebagian udang di tambaknya bisa terselamatkan, sisanya hanyut bersama arus. Imaji akan panen yang melimpah hasil dari kerja keras berbulan-bulan kandas merugi dalam satu malam.
Nasib Petambak Udang di Tengah Ancaman Banjir Rob
Beberapa hari setelahnya, seorang petambak udang lainnya mengajak kami untuk mencari kepiting di malam hari. Sembari berjalan, ia bercerita bahwa kegiatan mencari kepiting dilakukan untuk memenuhi kebutuhan rumah saat tak ada praktik budidaya udang pada bulan Oktober hingga akhir tahun. Pasalnya, periode tersebut adalah musim pasang air laut yang rentan membawa banjir rob ke desa mereka, seperti yang terjadi tahun lalu. Alhasil, para petambak takut untuk bertambak.
Ketakutan para petambak tak hanya isapan jempol. Sepanjang perjalanan mencari kepiting, kami melihat sejumlah tambak udang sudah rata dengan air laut yang menggenang. Semakin dekat dengan daerah aliran sungai, semakin tinggi permukaan airnya.
Dengan mendengar sejumlah cerita di atas, kami mulai memahami bahwa banjir rob bisa datang di tengah ketidaksiapan atas perubahan iklim yang cepat dan menggerus potensi panen udang para petambak. Kejadiannya berulang nyaris setiap tahun, sehingga para petambak kebingungan menghadapinya.
Lantas, keputusan seorang petambak untuk tidak membudidaya udang pada periode tertentu dan bertahan dengan cara yang lain adalah keputusan terpaksa yang mau tidak mau harus diambil. Ia tak ingin beradu nasib dengan iklim yang cepat berubah, meski konsekuensinya adalah pendapatan yang menurun. Para istri petambak akhirnya juga harus bekerja di musim paceklik tersebut agar dapur bisa tetap mengepul.
Semua kisah getir atas dampak banjir rob tersebut kami dapatkan dari para petambak skala kecil yang masih menjalankan sistem tradisional. Mereka cenderung mengandalkan pasang-surut laut untuk menyuplai kebutuhan air di tambak sehingga lokasi tambak mereka umumnya berada dekat laut atau muara sungai. Itu artinya, mereka merupakan kelompok yang paling rentan terkena dampak banjir rob.
Kerentanan Tambak Udang Skala Kecil
Warga Desa Wringinputih tak sendirian. Kerentanan serupa juga banyak terjadi di negara-negara belahan Bumi lainnya. Data Badan Penerbangan & Antariksa (NASA) menunjukkan permukaan laut global meningkat hingga 10 cm sejak 1993, yang mendorong gelombang pasang mencapai lebih jauh ke daratan. Secara global, setidaknya 34% lokasi budidaya pesisir berisiko tergenang. Di Australia, yang relatif dekat dengan Indonesia, 98% tambak udang diproyeksikan terdampak, mengancam hingga 50% produksi perikanan budidaya nasional. Sementara itu, 19,2% produksi akuakultur di Tiongkok diperkirakan terendam hingga dua meter pada 2050.
Data ini memperlihatkan pola yang konsisten: tekanan iklim di pesisir terus meningkat dan dampaknya bisa terjadi di mana saja. Dengan demikian, apa yang menimpa petambak Banyuwangi bukan sekadar nasib buruk, tetapi bagian dari ancaman iklim yang meluas di seluruh wilayah pesisir dunia.
Tekanan tersebut semakin terasa di Indonesia, yang mengalami kenaikan muka laut lebih cepat dibanding rata-rata global. Tahun lalu, tim Data Lab WRI Indonesia sempat melakukan analisis ulang atas data badan Administrasi Kelautan dan Atmosfer Nasional (NOAA), dan menemukan bahwa seperempat abad terakhir rata-rata kenaikan muka air laut di Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia tercatat sebesar 0,4 cm per tahun. Di Banyuwangi, laju kenaikan muka air laut lebih rendah dibandingkan dengan rata-rata nasional, yaitu 0,27 cm per tahun. Namun, pada 2022, Banyuwangi mengalami kenaikan muka air laut yang sangat tajam, yaitu sebesar 17,3 cm.
Bagi wilayah pesisir seperti Desa Wringinputih, kenaikan ini berujung pada luapan sungai saat musim hujan dan membuat banjir rob semakin tinggi serta arus semakin deras. Akibatnya, dinding tambak kerap jebol, kualitas air memburuk, dan produktivitas tambak terus menurun karena kerap tergenang, membuat proses pengeringan dan pembersihan tambak tidak optimal.
Melihat Krisis Iklim Antropogenik dari Dekat
Kisah para petambak di atas kami dapati saat penelitian di Desa Wringinputih, yang merupakan bagian dari program Wahana Riset Indonesia berbarengan dengan insiatif AQUADAPT, sebuah program yang ingin mengedepankan budidaya udang ramah lingkungan dengan mempromosikan praktik keberlanjutan, memperkuat mata pencaharian, serta mendukung kebijakan publik dan investasi berbasis riset. Program ini dikerjakan oleh konsorsium tiga organisasi, yaitu WRI Indonesia, Konservasi Indonesia, dan Universitas Padjadjaran dengan nama Leveraging Climate-Smart Shrimp Aquaculture Solutions in Indonesia (LEAPS). Kerja pelaksanaan konsorsium didanai oleh Government of Canada’s International Climate Finance Initiative dan International Development Research Centre, Ottawa, Kanada.
Dengan penelitian berbasis observasi partisipan untuk memahami kehidupan para petambak secara mendalam, kami belajar dari mereka yang mengalami permasalahan ini setiap harinya. Mengamati aktivitas petambak, mendengar pengalaman dari istri para petambak yang perannya kerap tak terlihat, hingga pemuda yang harus membagi waktu antara bertambak dan sekolah.
Dengan mencatat semua hal yang diamati, dialami, bahkan dirasakan tiap harinya, kami bisa melihat dan menganalisis masalah di lapangan secara utuh dan komprehensif, termasuk dilema yang dihadapi para petambak skala kecil saat banjir rob.
Salah satu posisi dilematisnya, semisal, saat debit saluran irigasi yang deras membuat para petambak harus membuka pintu air agar tekanan pada tanggul tambak berkurang. Karena jika dibiarkan, tanggul akan hancur, air tambak mengalir ke saluran irigasi, membawa udang berserakan keluar tambak. Di sisi lain, membuka pintu air juga artinya membuat air masuk ke tambak mereka sendiri dalam jumlah banyak dan waktu yang singkat. Air bah yang masuk ke tambak rentan membawa patogen atau bisa membuat udang stres, yang akhirnya rentan membuat udang terkena penyakit. Jika tidak ditanggulangi, penyakit-penyakit akan membuat kematian massal udang, dan tentu saja merugikan petambak. Kejadian seperti itu umum terjadi bagi petambak udang skala kecil di Desa Wringinputih.
Bukan Sekadar Nasib Buruk
Dari berbagai cerita dan fenomena yang kami dengar dan lihat langsung, sekaligus menganalisisnya dengan secara mendalam, kami makin sadar bahwa banjir rob di Desa Wringinputih merupakan imbas dari krisis iklim yang dialami oleh Bumi.
Setiap tahun, petambak merasakan fenomena yang tak lagi sama: siklus alam tak lagi konsisten, kondisi air cepat tercemar, penyakit makin sering menjangkit udang. Bagi petambak skala kecil, rentetan kejadian ini bukan sekadar gangguan musiman atau ancaman di masa mendatang, melainkan realitas konkret harian di depan mata.
Kami merasa observasi partisipasi yang kami lakukan, dengan tinggal bersama warga selama lebih dari dua bulan, membuat krisis iklim jauh lebih terasa, melampaui akumulasi fakta & data. Dengan membangun kedekatan dan mendengar cerita para petambak, kami paham bagaimana banjir rob membuat para petambak dilematis: menjaga kualitas air atau menyelamatkan dinding tanggul, tetap membudidaya di musim banjir rob dengan potensi merugi atau mencari nafkah alternatif lainnya.
Dari proses penelitian ini, pemahaman atas krisis iklim tak sebatas fact & figures, namun juga memori yang membuat kita berempati terhadap mereka yang hidup di wilayah pesisir. Dalam momentum Hari Laut Sedunia yang berlangsung tiap 8 Juni, kisah petambak kecil di Desa Wringinputih merefleksikan vitalnya peran laut bagi kehidupan, sekaligus mengingatkan kita untuk menjaga kelestarian laut melalui upaya mitigasi dampak krisis iklim. Upaya untuk merespons krisis iklim tak bisa hanya sekadar bertumpu pada solusi intervensi berbasis angka, namun juga pendampingan empatik yang kontekstual pada realitas petambak sehari-hari.[]