This project page is currently only available in Indonesian

TUJUAN

Inisiatif Ekonomi Pangan Baru menjadikan pangan sebagai pintu masuk strategis untuk mendorong transformasi ekonomi yang inklusif dan regeneratif di Indonesia. Pangan tidak diposisikan sebagai sektor yang berdiri sendiri, melainkan sebagai bagian dari cara Indonesia mengambil keputusan ekonomi secara lebih luas, termasuk dalam tata guna lahan, investasi, pengembangan industri, dan kebijakan publik.

Melalui penguatan basis bukti, pembangunan koalisi, dan pengembangan jalur kebijakan, inisiatif ini mendorong agar pangan ditempatkan sebagai penggerak pertumbuhan yang lebih terdiversifikasi, distribusi nilai yang lebih adil, serta pengelolaan sumber daya alam yang berkelanjutan. Tujuan akhirnya adalah mendukung model ekonomi di mana pertumbuhan, ketahanan, keberlanjutan, dan kesejahteraan sosial saling memperkuat.

DI MANA

17 kabupaten/kota di wilayah Indonesia Timur dan Barat

MENGAPA

Pangan merupakan salah satu pengungkit ekonomi paling kuat di Indonesia. Sektor ini memengaruhi struktur lapangan kerja, pendapatan perdesaan, alokasi lahan, arah pengelolaan hutan, kesehatan masyarakat, hingga capaian iklim. Dalam sistem tata kelola yang terdesentralisasi, strategi pangan nasional juga berdampak pada perizinan di tingkat daerah, investasi infrastruktur, keputusan konversi lahan, serta arah pembangunan wilayah. Tidak banyak sektor yang memiliki pengaruh seluas ini terhadap sistem ekonomi dan ekologi sekaligus.

Namun dalam praktiknya, pangan sering diperlakukan sebagai sektor yang terpisah dan dinilai terutama dari target produksi, neraca komoditas, atau stabilitas harga. Cara pandang yang terlalu sektoral ini membatasi pemahaman tentang peran pangan dalam dinamika pembangunan yang lebih luas. Padahal, keputusan mengenai apa yang ditanam, di mana diproduksi, bagaimana dibiayai, dan siapa yang memperoleh nilai tambahnya secara langsung membentuk kesejahteraan wilayah, hasil keberlanjutan, struktur pasar tenaga kerja, peluang pendidikan, serta ketahanan ekonomi jangka panjang.

Karena itu, pertanyaannya bukan sekadar memilih antara sistem pangan lokal atau produksi skala besar. Isu yang lebih mendasar adalah bagaimana ekonomi pangan yang beragam berinteraksi dengan arus investasi, tata kelola lahan, strategi industri, serta batas-batas lingkungan. Ketergantungan pada satu pendekatan saja, baik ekspansi monokultur maupun pendekatan lokalisasi yang sempit, berisiko menciptakan kerentanan struktural. Ekonomi yang tangguh membutuhkan diversifikasi produksi, kepastian tenurial, kerangka investasi yang bertanggung jawab, serta tata kelola yang menyelaraskan insentif ekonomi dengan keberlanjutan lingkungan dan keadilan sosial.

Di sinilah peluang strategisnya. Jika pangan diposisikan sebagai bagian inti dari strategi ekonomi nasional, bukan sekadar urusan pertanian, maka sektor ini dapat membantu menyelaraskan kembali arah pembangunan lintas sektor. Keputusan dalam ekonomi pangan memengaruhi apakah suatu wilayah berkembang melalui industri yang ekstraktif atau regeneratif, apakah pertumbuhan lapangan kerja bersifat rentan atau stabil, serta apakah ekspansi ekonomi memusatkan kekayaan atau memperluas kesejahteraan. Sebagaimana visi yang dikembangkan oleh WRI Brasil melalui inisiatif Ekonomi Baru untuk Hutan Amazon Brasil menunjukkan bahwa perlindungan hutan dapat memperkuat kinerja ekonomi nasional dengan dampak turunan yang luas, Indonesia juga memiliki peluang untuk menunjukkan bahwa penataan ulang ekonomi pangan berbasis keadilan, ketahanan, dan pengelolaan ekologis dapat menghasilkan kemakmuran yang inklusif dan berkelanjutan.

Dengan demikian, transformasi tata kelola pangan menjadi salah satu jalur strategis untuk menyelaraskan pertumbuhan ekonomi dengan keadilan dan keberlanjutan. Tujuannya bukan sekadar memperbaiki sistem atau ketahanan pangan, melainkan membangun arsitektur ekonomi yang lebih inklusif, di mana tata guna lahan, investasi, ketenagakerjaan, dan pengelolaan lingkungan saling memperkuat, bukan saling bertentangan.

BAGAIMANA

Inisiatif Ekonomi Pangan Baru dikembangkan bersama Kementerian Koordinator Bidang Pangan untuk memastikan keselarasan dengan prioritas pembangunan nasional sejak awal.

Pelaksanaan dimulai di sejumlah kabupaten/kota terpilih. Program ini melakukan penelitian lapangan dan analisis ekonomi politik untuk memahami bagaimana keputusan terkait pangan memengaruhi alokasi sumber daya, pasar tenaga kerja, pola penggunaan lahan, arus investasi, kesejahteraan masyarakat, serta implikasi ekonomi di tingkat daerah. Pendekatan ini membantu melihat bagaimana kebijakan nasional dijalankan dalam konteks nyata di lapangan.

Temuan dari tingkat kabupaten/kota kemudian menjadi dasar bagi pemodelan ekonomi terintegrasi yang menilai berbagai alternatif jalur pembangunan serta implikasinya terhadap aspek pangan, ekonomi, keuangan, dan keberlanjutan. Pemodelan ini digunakan untuk memahami trade-off, dampak distribusi, dan risiko jangka panjang dari setiap pilihan kebijakan.

Berdasarkan analisis tersebut, inisiatif ini juga menelaah kerangka kelembagaan dan regulasi yang memengaruhi dinamika tersebut, serta mengidentifikasi ruang untuk memperkuat keselarasan kebijakan di berbagai tingkat pemerintahan.

Pembangunan koalisi dan keterlibatan publik nantinya akan mendukung program Ekonomi pangan Baru memastikan bahwa realitas di lapangan tetap menjadi bagian dari pertimbangan dalam pengambilan keputusan nasional.

MITRA

Tim Ekonomi Pangan Baru

Inisiatif Ekonomi Pangan Baru didukung oleh Ford Foundation dan dikembangkan bersama Kementerian Koordinator Bidang Pangan serta Kementerian Dalam Negeri. Program ini juga bekerja erat dengan Badan Perencanaan Pembangunan Nasional untuk memastikan keselarasan dengan prioritas pembangunan nasional maupun daerah.

Di tingkat lapangan, kolaborasi dilakukan dengan komunitas pangan akar rumput, organisasi masyarakat adat, asosiasi petani kecil, jaringan pemuda, serta berbagai organisasi masyarakat sipil di seluruh Indonesia. Kemitraan dengan institusi akademik di Indonesia bagian Timur dan Barat turut memperkuat landasan analisis serta jangkauan wilayah kerja.

Dalam jaringan global WRI, program ini juga mengambil pembelajaran dari pengalaman WRI Brasil, termasuk riset Ekonomi Baru untuk Hutan Amazon Brasil, sebagai bagian dari pertukaran pengetahuan mengenai pendekatan transformasi ekonomi berbasis sektor lahan.