Koperasi Susu sebagai Pengungkit Transisi Energi: Pelajaran dari KPBS Pangalengan untuk Dekarbonisasi Rantai Pasok Nasional
Efisiensi energi di titik pengumpulan dan pengolahan susu membuka peluang nyata untuk menekan biaya operasional sekaligus mendorong dekarbonisasi rantai pasok susu nasional.
-
Rantai pasok susu sangat energi-intensif, dengan titik kritis pada Milk Collection Point (pendinginan & sanitasi) dan fasilitas pengolahan (pemanasan & utilitas), sehingga efisiensi energi di titik ini memberikan dampak operasional paling signifikan.
Intervensi berbasis kebutuhan operasional terbukti efektif, di mana audit energi dan penerapan teknologi seperti Solar Water Heater dan VSD mampu menurunkan konsumsi energi serta meningkatkan efisiensi, termasuk peningkatan efisiensi listrik sebesar 17,83% dari pemanfaatan energi surya.
Efisiensi energi membuka manfaat ganda: selain mendukung dekarbonisasi, penghematan energi memperbaiki struktur biaya produksi, meningkatkan ketahanan usaha, dan berpotensi direplikasi di seluruh rantai pasok susu nasional berbasis koperasi.
This article is currently only available in Indonesian.
Di balik segelas susu, terdapat rantai produksi yang sangat bergantung pada energi. Produksi susu merupakan salah satu rantai pasok pangan yang paling bergantung pada energi. Dari pendinginan susu segar di titik pengumpulan hingga pemanasan air untuk sanitasi di fasilitas pengolahan, hampir setiap tahap membutuhkan pasokan listrik dan panas yang stabil dan berkelanjutan.
Ketergantungan ini membuat sektor susu menjadi energi-intensif dan rentan terhadap gejolak harga energi. Karena sebagian besar proses produksi bergantung pada listrik dan sumber energi konvensional, kenaikan tarif listrik atau fluktuasi harga energi dapat langsung meningkatkan biaya operasional fasilitas pengolahan. Dalam sistem produksi yang berjalan setiap hari dengan kebutuhan pendinginan dan pemanasan yang konstan, perubahan biaya energi tersebut dapat dengan cepat memengaruhi efisiensi produksi serta struktur biaya penanganan susu di sepanjang rantai pasok.
Kondisi tersebut memiliki implikasi iklim yang signifikan. Pada tahun 2022, industri makanan dan minuman, termasuk produk susu, menyumbang sekitar 4,77% dari total emisi gas rumah kaca nasional1. Artinya, peningkatan efisiensi energi dan adopsi energi bersih di sektor susu dapat berdampak bagi target penurunan emisi Indonesia.
Dalam konteks ini, fasilitas pengumpulan dan pengolahan susu menjadi titik penting untuk mendorong perbaikan kinerja energi. Berbagai proses operasional, mulai dari pendinginan susu segar di titik pengumpulan susu (Milk Collection Point) hingga pengolahan di fasilitas produksi membutuhkan pasokan energi yang stabil dan berlangsung secara terus-menerus.
Pengalaman intervensi di sistem produksi dan pengolahan susu di Koperasi Peternak Bandung Selatan (KPBS) Pangalengan menunjukkan bagaimana intervensi efisiensi energi di fasilitas pengolahan dapat menurunkan konsumsi energi sekaligus meningkatkan efisiensi operasional dalam rantai pasok susu. Secara keseluruhan terdapat potensi dekarbonisasi di sepanjang rantai pasok susu di KPBS Pangalengan, mulai dari titik peternakan hingga konsumsi.
Berdasarkan pemetaan tersebut, terdapat dua lokasi utama yang memiliki signifikansi paling besar dalam efisiensi penggunaan energi. Lokasi pertama adalah unit Milk Collection Point (MCP) yang berfungsi sebagai pusat pengumpulan dan pendinginan susu, dan lokasi kedua adalah fasilitas pengolahan pada anak perusahaan KPBS, yaitu PT SKP. WRI Indonesia dan HSBC Indonesia memfokuskan intervensi pada kedua titik ini karena karakteristik penggunaan energinya yang sangat intensif dan berlangsung terus-menerus, sehingga perbaikan efisiensi di lokasi tersebut akan memberikan dampak positif yang paling optimal bagi keberlanjutan operasional koperasi.
Pada fasilitas MCP, kebutuhan energi didominasi oleh proses pendinginan susu dan pemanasan air untuk sanitasi, yang bergantung pada listrik sehingga membuka peluang efisiensi melalui optimasi penggunaan energi dan substitusi dengan energi terbarukan. Sementara itu, di PT SKP sebagai fasilitas pengolahan, konsumsi energi paling besar berasal dari proses pemanasan (boiler) dan sistem utilitas seperti pompa dan chiller, yang menjadikannya titik dengan potensi efisiensi energi paling besar melalui intervensi teknologi dan perbaikan sistem operasional.
Peningkatan efisiensi energi di sejumlah titik rantai pasok tersebut tidak hanya berdampak pada pengurangan emisi, tetapi juga berimplikasi pada struktur biaya produksi. Ketika konsumsi energi dan biaya operasional fasilitas pengolahan dapat ditekan, terdapat ruang yang lebih besar untuk meningkatkan efisiensi pengelolaan rantai pasok susu secara keseluruhan. Dalam sistem yang terhubung dengan ribuan peternak, perbaikan efisiensi pada tahap pengolahan pada akhirnya dapat membantu menjaga stabilitas biaya penanganan susu serta mendukung keberlanjutan ekonomi pelaku usaha di sepanjang rantai pasok.
Dari Studi Kelayakan ke Penurunan Konsumsi Energi
WRI Indonesia dan HSBC Indonesia bekerja sama untuk menerapkan teknologi panas bersih (clean heat) untuk mendorong transisi energi dalam proses produksi susu. Berdasarkan temuan audit energi level 2 (pemetaan pola konsumsi listrik dan panas proses secara detail pada pabrik pengolahan produk susu), efisiensi penggunaan energi saat ini dinilai belum optimal karena indikator kinerja energinya baru mencapai angka 32%. Hal ini menunjukkan bahwa masih banyak energi yang terbuang dalam proses produksi. Melalui implementasi rekomendasi hasil audit, fasilitas ini berpeluang meningkatkan efisiensinya secara drastis hingga mencapai angka 94%. Salah satu intervensi yang diidentifikasi adalah optimalisasi sistem utilitas melalui penerapan Variable Speed Drive (VSD).
Penerapan Variable Speed Drive (VSD) difokuskan pada sistem pompa air dingin (chilled water pump) yang berperan penting dalam proses pendinginan. Sebelumnya, pompa beroperasi pada kecepatan konstan meskipun kebutuhan pendinginan bervariasi. Dengan VSD, kecepatan pompa dapat menyesuaikan beban aktual, sehingga konsumsi listrik menurun dan operasi pada beban maksimum dapat dihindari. Penerapan VSD di fasilitas pengolahan PT SKP menghasilkan potensi penghematan konsumsi energi sekitar 1.826 kWh per bulan.
Selain itu, dilakukan studi pra-kelayakan untuk mengevaluasi potensi pemanfaatan teknologi surya, baik dalam bentuk pembangkit listrik tenaga surya (Solar PV) maupun pemanas air tenaga surya (Solar Water Heater). Studi ini menilai ketersediaan radiasi matahari, karakteristik beban energi di Milk Collection Point dan fasilitas pengolahan, kebutuhan panas proses, serta aspek teknis dan finansial masing-masing teknologi. Hasil kajian menunjukkan bahwa pada tahap awal, Solar Water Heater merupakan opsi yang paling sesuai dengan kebutuhan operasional KPBS, khususnya untuk proses pembersihan peralatan (cleaning-in-place) yang membutuhkan air panas secara konsisten. Teknologi dapat menggantikan listrik dengan kompleksitas sistem yang relatif sederhana dan biaya investasi yang lebih terjangkau dibandingkan Solar PV.
Implementasi Solar Water Heater di salah satu Milk Collection Point merealisasikan hasil studi tersebut dengan menggantikan pemanas air listrik yang sebelumnya menjadi kontributor utama konsumsi energi harian. Pemanfaatan energi matahari untuk kebutuhan pembersihan menggantikan sistem pemanas berbasis listrik, sehingga ketergantungan pada listrik untuk proses pemanasan dapat dikurangi tanpa mengganggu standar operasional. Implementasi Solar Water Heater sejak Agustus hingga Desember 2025 menunjukkan peningkatan efisiensi energi listrik sebesar 17,83%.
Intervensi yang dilakukan pada sejumlah titik rantai pasok industri susu ini berimplikasi pada pengendalian biaya operasional yang lebih berkelanjutan serta kontribusi terhadap penurunan emisi dari aktivitas produksi. Dalam konteks yang lebih strategis, langkah tersebut memperkuat arah dekarbonisasi industri, mendorong transisi energi di sektor pengolahan susu, dan meningkatkan ketahanan energi koperasi melalui diversifikasi sumber pasokan dan optimalisasi sistem produksi.
Efisiensi Energi sebagai Strategi Ketahanan dan Model Replikasi Rantai Pasok Susu
Secara lebih luas, kombinasi intervensi efisiensi energi dan adopsi teknologi terbarukan menunjukkan bahwa transformasi sistem energi di fasilitas pengolahan susu dapat dimulai dari langkah yang terukur dan berbasis kebutuhan operasional. Pada akhirnya, penguatan kinerja operasional koperasi melalui pengelolaan energi yang lebih efisien dan berkelanjutan diarahkan untuk menciptakan nilai tambah yang kembali kepada anggota, sehingga mendukung peningkatan kesejahteraan peternak sebagai tujuan utama penguatan rantai pasok susu.
Struktur rantai pasok susu nasional yang bertumpu pada koperasi membuka peluang replikasi model ini secara luas. Pengalaman implementasi di Milk Collection Point serta instalasi pengolahan susu milik KPBS Pangalengan menunjukan bahwa langkah awal tidak harus kompleks: Pemetaan penggunaan listrik dan bahan bakar, identifikasi sistem intensif energi, dan intervensi berbiaya rendah dapat menjadi pintu masuk yang terukur. Pendekatan bertahap dapat menekan risiko investasi sekaligus membangun kapasitas internal.
Untuk meningkatkan skala dampak, diperlukan dukungan kebijakan, skema pembiayaan yang sesuai, dan program peningkatan kapasitas koperasi. Dengan kombinasi tersebut, efisiensi energi dapat direplikasi di lintas wilayah, menurunkan emisi sektor susu, hingga memperkuat ketahanan rantai pasok susu nasional dari hulu.
1Sumber: Analisis WRI, 2025 berdasarkan BUR3 2021