Partisipasi WRI Indonesia di Food YouthPreneur 2025, Perkenalkan Produk Olahan dari Imah Maggot Bantaran
Di tengah persoalan sisa pangan dan sampah makanan yang kian mendesak di Kota Bandung, muncul sebuah inisiatif yang datang dari masyarakat. Namanya Imah Maggot Bantaran (IMB), yang dikelola oleh Komunitas Cika-Cika. IMB mengolah sisa pangan dan sampah makanan dengan bantuan larva black soldier fly (BSF), atau biasa disebut maggot. Sejak dibentuk pada 2023, IMB sudah berhasil mengelola lebih dari enam ton sisa pangan dan sampah makanan. Angka itu menunjukkan kerja besar dari sebuah komunitas kecil, yang kini masih terus melanjutkan perjalanannya.
Pengelolaan berbasis komunitas ini bukan hanya soal mengurangi timbunan sampah, tetapi juga menghasilkan produk turunan yang bermanfaat. Dengan dukungan pendampingan dari WRI Indonesia melalui program Urban Futures, IMB menargetkan produksi olahan maggot yang lebih terukur, mulai dari 500 kilogram pur (pakan) ayam, 100 kilogram pupuk organik (disebut bekas maggot/kasgot), hingga 100 kilogram pelet . Hasil-hasil ini diharapkan menjadi bukti nyata bahwa sisa pangan dan sampah makanan bisa diubah menjadi sumber daya.
Urban Futures adalah program yang dikelola oleh Yayasan Humanis dan Inovasi Sosial (Humanis) yang memadukan sistem pangan perkotaan, kesejahteraan orang muda, dan aksi iklim. Di Bandung, program ini bergerak melalui konsorsium berbagai organisasi yang bersama-sama memperkuat ekosistem sistem pangan berkelanjutan, inklusif, dan berpihak pada generasi muda. Salah satu inisiatifnya adalah NURTURE, sebuah pendampingan bisnis intensif bagi wirausaha muda di sektor pangan, yang berpuncak pada kegiatan Food YouthPreneur (FYP) yang digelar pada Senin, 25 Agustus 2025 di Pendopo Wali Kota Bandung. Sebagai salah satu konsorsium yang mendukung Urban Futures, WRI Indonesia turut berpartisipasi dalam acara tersebut.
Acara ini menjadi forum bagi generasi muda wirausaha pangan untuk berkolaborasi, bertukar ide, dan memamerkan inovasi yang mereka kembangkan. WRI Indonesia bersama IMB turut meramaikan acara dengan mendirikan booth. Booth tersebut tidak hanya berfungsi sebagai tempat memamerkan dan memperkenalkan aneka produk maggot, tetapi juga menjadi ruang interaktif untuk mengenalkan lebih jauh inisiatif pengelolaan sisa dan sampah makanan yang didorong WRI Indonesia melalui program Urban Futures.
Pengunjung yang datang diajak mengenal proses pengolahan sisa pangan dan sampah makanan dengan maggot. Salah satunya lewat kuis singkat yang dibuat ringan namun edukatif. Ada pula sesi kecil di mana peserta ditunjukkan daur hidup maggot, mulai dari telur, larva, pre-pupa, pupa, hingga menjadi lalat dewasa. Untuk menambah keseruan, booth juga menghadirkan tantangan unik, yakni memegang maggot hidup secara langsung selama satu menit. Peserta yang berhasil menyelesaikan kuis dan tantangan mendapatkan hadiah, salah satunya berupa paket menanam yang dilengkapi pupuk kasgot.
“Salah satu olahan maggot, yaitu pur ayam, ini kita buat dari maggot segar yang direbus dan dicampur dengan dedak, jagung kering, dan bangkai lalat. Dari bahan-bahan tersebut, kita aduk, baru diblender, jadilah serbuk untuk jadi pur ayam. Tidak hanya bisa digunakan untuk ayam, tetapi juga untuk unggas lainnya,” ujar Aam Zaman, salah satu pengurus IMB ketika menjelaskan produk-produk turunan maggot.
Pengunjung pun dapat memesan secara langsung produk-produk olahan maggot. Ketertarikan terasa besar lantaran sebagian dari mereka berkebun atau memelihara hewan ternak sehingga membutuhkan pupuk dan pakan alternatif. Booth pun menjadi ruang tukar pikiran yang hidup, di mana peserta bisa bertanya tentang proses pengolahan, berbagi pengalaman berkebun, atau sekadar berdiskusi tentang solusi mengurangi sisa pangan dan sampah makanan di rumah tangga masing-masing.
“Tadi kita dapat banyak ilmu dan informasi penanganan limbah makanan dari maggot. Kita baru tahu dari maggot bisa jadi kasgot, pelet, pur ayam. Kebetulan kita lagi senang banget bercocok tanam di lingkungan rumah dan tempat kerja jadi ini bermanfaat banget,” ujar Hervina, salah satu pengunjung dari Poltekkes Kemenkes Bandung.
Melalui partisipasi dalam kegiatan FYP, IMB dan WRI Indonesia tidak hanya menampilkan inovasi. Mereka juga menghadirkan ruang interaksi yang mempertemukan pengetahuan, praktik, dan kebutuhan masyarakat setempat. Kegiatan ini menegaskan bahwa pengelolaan sisa pangan dan sampah makanan adalah solusi berkelanjutan yang bisa dimulai dari langkah sederhana, dan bahkan bisa menjadi peluang ekonomi baru.
Projects
Urban Futures
Part of Pangan, Lahan, dan Air