Siaran Pers

World Resources Institute (WRI) Indonesia

***

Jakarta, 2–3 Desember 2025 — Lebih dari 500 ilmuwan muda dan akademisi dari dalam dan luar negeri, serta pembuat kebijakan dan praktisi Indonesia, berkumpul secara hybrid dalam 1st International Young Environmental Scientists (YES) Conference yang diselenggarakan oleh WRI Indonesia. Dengan tema “Building a Just and Climate-Resilient Future: Youth Innovation for People, Nature, and Climate”, konferensi ini menjadi platform kolaborasi multipihak untuk mendorong riset yang relevan, inklusif, dan bisa langsung diintegrasikan ke dalam kebijakan publik, khususnya dalam mebangun masa depan yang tangguh terhadap perubahan iklim.

Konferensi dua hari ini menampilkan lebih dari 57 presenter, empat sesi pleno, 15 panel paralel, dan 27 poster penelitian dari generasi muda dari berbagai negara seperti Indonesia, Australia, Belanda, China, India, Bangladesh dan negara-negara lain. Mereka datang dari latar belakang akademik, bisnis, lembaga donor, pemerintah, media dan lembaga nirlaba.

Topik yang dibicarakan sangat penting dan mendesak dalam mendukung resiliensi terhadap perubahan iklim seperti sistem pangan berkelanjutan, tata kelola iklim, energi bersih, teknologi untuk ketangguhan iklim, gender dan inklusi sosial, keberlanjutan pesisir, dan inovasi berbasis komunitas dari Papua.

Dalam pidato pembukaan, Prof. Mari Elka Pangestu, Ketua Badan Pembina WRI Indonesia, menekankan pentingnya pengetahuan ilmiah yang relevan dan dapat ditindaklanjuti.

“Bumi tempat kita tinggal sangat rentan bencana, terutama bila bentang alam yang rapuh bertemu dengan cuaca ekstrem akibat pemanasan global. Di tengah kerentanan ini, para ilmuwan muda kita adalah sumber energi dan aset intelektual, yang mampu mendorong solusi transformatif untuk masa depan yang lebih tangguh.” — Prof. Mari Elka Pangestu

Dalam keynote speech, Prof. Dr. Arif Satria, Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), menegaskan pentingnya membangun budaya riset sejak dini.

“Pertumbuhan ekonomi membawa kemakmuran tetapi juga dampak seperti polusi dan berkurangnya sumber daya alam, yang  berisiko pada kesejahteraan generasi mendatang. Karena itu, pembangunan membutuhkan investasi pada sumber daya manusia, khususnya generasi muda yang memiliki energi dan kreatifitas yang esensial untuk menghadapi tantangan pembangunan termasuk perubahan iklim.”  — Prof. Arif Satria

Sesi pleno pertama mengenai budaya riset, Nirarta Samadhi, Country Director WRI Indonesia, menekankan bahwa tantangan iklim tidak bisa diatasi tanpa penelitian berbasis data yang dilakukan secara berkelanjutan.

“Bencana alam yang melanda beberapa wilayah Sumatera akibat kawasan hutan yang terdegradasi, adalah pengingat nyata bahwa pembangunan tanpa perhitungan dampak lingkungan hanya memperparah dampak perubahan iklim global. Dengan riset yang kuat, kita dapat mencegah atau setidaknya mengurangi risiko ini, terlebih setelah dunia kembali menegaskan komitmen menghentikan deforestasi dalam COP30.” — Nirarta Samadhi

Konferensi ini menghadirkan riset-riset yang menjawab kebutuhan nyata di lapangan dengan spektrum riset yang inklusif dan beragam dan mewakili sebagian besar wilayah Indonesia, mulai dari kearifan masyarakat adat Papua untuk ketahanan iklim, inovasi ketahanan pangan dari Rote, hingga pemetaan risiko emisi lahan gambut di Kalimantan.

Salah satu persentasi menarik perhatian hadirin adalah kajian Ida Bagus Oka Agastya dari Ikatan Ahli Geologi Indonesia Pengurus Daerah Bali, bertema From People Voice to Advocacy: Case Study Flash Flood Disaster 2025 in Denpasar City.

Presenter dari luar Indonesia antara lain Elpida Dalietou dari SEAL Greece, Monk Seal Alliance, NECCA, mempresentasikan A Multistakeholder Framework for Marine Conservation and Sustainable Project Management.

Riset yang relevan dengan kondisi bencana alam di Sumatera saat ini berjudul From Tsunami to Flood Risk: Spatial and Governance Dynamics of Post 2009 Earthquake Urban Development in Padang City yang dibawakan oleh Angelika Fortuna dan Hernand Kurniawan, peneliti dari Wahana Riset Indonesia Program.

Para presenter juga membawakan isu-isu perkotaan seperti adaptasi iklim pada transportasi di Semarang dan Jakarta dan teknologi AI untuk pemantauan eutrofikasi dan polusi. Termasuk juga isu terkait laut dan ketahanan pangan seperti Feeding the Future: Blue Food, Climate Resilience and Social Inclusion in Action, yang menjadi panel penutup di hari pertama.

Hari kedua akan diawali dengan sesi khusus Papua yang menghadirkan diskusi pleno bertajuk “Papua’s Pathways to Climate Resilience: Lessons from its Land and People”, menyoroti berbagai pendekatan ketahanan iklim yang berakar pada kearifan lokal, ilmu pengetahuan, serta tata kelola pembangunan di Tanah Papua. Sesi pleno ini mempertemukan para pemangku kepentingan kunci, untuk merangkum pembelajaran kritis tentang bagaimana masyarakat, pemerintah, dan institusi lokal membangun ketahanan iklim yang inklusif dan berkeadilan.

Sebagai penutup akan diselenggarakan sesi Co-creating Policy Recommendations untuk diserahkan secara resmi sebagai salah satu keluaran utama YES Conference untuk mendorong penguatan peran peneliti muda dan advokasi hasil riset ke kebijakan nasional maupun daerah.

***

Untuk informasi lebih lanjut, kunjungi: wri-indonesia.org/en/YES2025

Atau hubungi:

Ahmad Dhiaulhaq, Research and Data Integrity Manager WRI Indonesia - [email protected]

Dewi Satriani, Communication Manager WRI Indonesia – [email protected] (+62811910970)