Cerita Perubahan di Kampung Pesisir Tambak Lorok, Semarang
Pada suatu Siang di bulan Juli 2025, situasi di Tambak Lorok tampak berjalan lebih tenang. Aktivitas warga berlangsung tanpa kekhawatiran banjir rob datang secara tiba-tiba dan merendam rumah atau jalan kampung. Anak-anak berangkat ke sekolah dengan lancar, sementara warga menjalankan usaha kecil mereka tanpa harus terus-menerus menyesuaikan diri dengan genangan rob.
Kondisi ini terasa sangat berbeda jika mengingat pengalaman beberapa tahun yang lalu. Sebagai kawasan yang berbatasan langsung dengan perairan Laut Jawa di bagian utara Kota Semarang, kampung Tambak Lorok kerap mengalami banjir rob yang datang secara tidak terduga. Air laut kerap merendam rumah, jalan, dan fasilitas umum, sehingga mengganggu hampir seluruh aktivitas kehidupan warga. Dalam ingatan masyarakat, rob bukan sekadar peristiwa alam, melainkan bagian dari keseharian yang membentuk cara hidup mereka.
Dampak banjir rob tidak hanya dirasakan secara fisik, tetapi juga pada kesehatan serta kondisi sosial dan ekonomi warga. Air yang bercampur sampah dan limbah menimbulkan ancaman gangguan kesehatan, seperti penyakit kulit dan masalah pernapasan. Penghasilan warga pun dirasa menurun karena nelayan dan pelaku usaha harus terus menyesuaikan aktivitas mereka dengan lingkungan yang tergenang. Cerita-cerita tersebut berulang kali muncul dalam wawancara dan menjadi bagian dari memori bersama warga Tambak Lorok.
Dalam menghadapi kondisi tersebut, warga Tambak Lorok melakukan berbagai upaya adaptasi secara mandiri. Rumah ditinggikan secara bertahap, warga saling membantu ketika rob datang dan kehidupan tetap berjalan karena laut menjadi sumber penghidupan utama. Namun, menurut penuturan tokoh masyarakat setempat, kala itu upaya tersebut sering kali belum cukup untuk mengurangi dampak rob yang terjadi terus berulang.
Perubahan di sepuluh tahun terakhir menjadi angin segar bagi warga Tambak Lorok, ketika kawasan mereka mulai mendapat perhatian melalui beberapa program penataan kawasan permukiman sebagai Kampung Bahari sejak tahun 2015. Berbagai program pemerintah dilaksanakan secara bertahap, antara lain melalui program KOTAKU (Kota Tanpa Kumuh), Penyediaan Air Minum dan sanitasi Berbasis Masyarakat (Pamsimas), Sanitasi Berbasis Masyarakat (Sanimas), Tempat Pengelolaan Sampah 3R (TPST 3R), hingga Neighborhood Upgrading and Shelter Project (Phase 2). Program-program tersebut diwujudkan melalui peningkatan kualitas permukiman, peninggian jalan, perbaikan fasilitas lingkungan dan pembangunan infrastruktur pengendali rob menjadi langkah penting dalam mendukung kehidupan warga. Kehadiran infrastruktur tersebut memberi rasa lebih aman dan membantu warga menjalani aktivitas sehari-hari dengan merasa lebih tenang.
Infrastruktur pengendali rob tersebut berupa tanggul pelindung (sheetpile) yang perencanaannya juga dimulai dari tahun 2015 bersama Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Pemali-Juana. Infrastruktur tersebut memberikan dampak nyata bagi kondisi lingkungan Tambak Lorok. Banjir rob yang sebelumnya sering terjadi kini dirasa berkurang, sehingga aktivitas warga menjadi lebih stabil. Dalam wawancara, salah satu tokoh masyarakat menyampaikan bahwa kondisi kesehatan warga membaik dan kegiatan ekonomi perlahan kembali berjalan. Lingkungan kampung pun terlihat lebih tertata dibanding sebelumnya.
Seiring membaiknya kondisi lingkungan, warga Tambak Lorok semakin aktif menjaga kampungnya. Mereka membentuk berbagai Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) yang fokus pada beragam kegiatan. Misalnya, KSM Biru Bahari menangani WC komunal dan sanitasi, KSM Kelompok Wanita Tani (KWT) Cantik Bahari mengelola taman dan penghijauan, KSM Pesona Bahari mengatur bank sampah, KSM Pondok Belajar mendukung pendidikan anak dan remaja, KSM Tangguh Bahari mempersiapkan masyarakat menghadapi bencana, serta KSM Kelompok Wanita Tani mendorong ketahanan pangan dan ekonomi rumah tangga.
Pendampingan terhadap KSM dilakukan oleh berbagai pihak, tidak hanya pemerintah. Lembaga Pendamping Usaha Buruh Tani dan Nelayan (LPUBN) membimbing manajemen dan organisasi KSM. Dukungan juga datang dari organisasi non-pemerintah (NGO), organisasi masyarakat (CSO), akademisi, serta Corporate Social Responsibility (CSR) dari perusahaan melalui pelatihan kapasitas, advokasi lingkungan, pengembangan ekonomi lokal, dan penyediaan fasilitas. Dalam proses ini, masyarakat menjadi penggerak utama dan ikut mengawal setiap kegiatan. Upaya ini menunjukkan adanya hubungan saling menguatkan antara dukungan pemerintah dan partisipasi masyarakat.
Dari sudut pandang hari ini, pengalaman Tambak Lorok memberikan pelajaran penting tentang pembangunan kawasan pesisir. Penataan fisik terbukti perlu disertai dengan pendampingan dan perhatian jangka panjang agar manfaatnya dapat dirasakan secara berkelanjutan. Harapan ini juga disampaikan oleh tokoh masyarakat sebagai pandangan untuk masa depan kampung mereka.
Tambak Lorok kini dapat menjadi contoh bahwa perubahan dapat terwujud melalui kolaborasi antara warga dan pemerintah. Kampung yang dahulu kerap terdampak rob berkembang menjadi lingkungan yang lebih nyaman dan produktif. Proses ini tidak berlangsung secara instan dan melibatkan banyak pihak. Kendati demikian, perlu kita ingat bersama bahwa tantangan belum sepenuhnya usai. Seperti diungkapkan Lukas Ley dalam bukunya Building on Borrowed Time: Rising Seas and Failing Infrastructure in Semarang, masyarakat pesisir Semarang masih hidup berdampingan dengan ancaman rob yang terus mengintai. Dinamika pesisir yang kian kompleks membuat masa depan sulit ditebak, termasuk ketahanan infrastruktur yang ada saat ini. Oleh karena itu, pengalaman transformasi Tambak Lorok penting bukan hanya sebagai praktik baik, tetapi juga sebagai pengingat bahwa upaya adaptasi harus terus berkembang, meski menghadapi ketidakpastian. Ke depan, pembelajaran dari Tambak Lorok diharapkan dapat direplikasi secara kontekstual di wilayah pesisir lainnya di Indonesia yang menghadapi tantangan serupa.