Mengembangkan Neraca Sumber Daya Laut Indonesia yang Makin Akurat, Kredibel, dan Inklusif
Pada 26 Januari lalu, Menteri Kelautan dan Perikanan, Sakti Wahyu Trenggono, meneken Keputusan Menteri (Kepmen) Kelautan dan Perikanan Nomor 3 Tahun 2026 tentang Besaran Nilai Faktor E Dalam Perhitungan Tarif atas Jenis Penerimaan Negara Bukan Pajak. Keputusan tersebut menetapkan biaya kompensasi ekosistem berdasarkan hasil analisis sumber daya laut di Indonesia, khususnya untuk perizinan berusaha & denda administratif.
Untuk mendukung penghitungan tersebut, sejak 2024, WRI Indonesia sedang mengembangkan kalkulator spasial berbasis neraca sumber daya laut (NSDL) untuk menghitung aset ekosistem laut & pesisir yang selama ini memberikan nilai ekonomi bagi manusia.
Penghitungan ekosistem ini juga berlaku jika kegiatan ekonomi yang dilakukan manusia pada akhirnya mencemari ekosistem itu sendiri. Dalam menghitung aset ekosistem, perubahan lanskap ekosistem dari waktu ke waktu akan dianalisis dan dicari penyebabnya—baik karena ulah manusia maupun akibat perubahan iklim dan bencana.
Kalkulator ini diharapkan bisa mengisi celah Sistem Database Konservasi (SIDAKO) milik Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) dengan menyediakan analisis on-demand berbasis area pilihan pengguna dan parameter yang dapat disesuaikan. Kalkulator ini kelak ingin berfungsi sebagai pelengkap SIDAKO: saat kanal milik KKP sebagai sumber data resmi dan dasbor neraca, sedangkan kalkulator yang dikembangkan WRI Indonesia sebagai alat analisis interaktif dan skenario untuk area dan parameter yang ditentukan pengguna.
Sepanjang pekan pertama Februari lalu, tim Laut & Sampah Plastik dari WRI Indonesia menyelesaikan sejumlah kegiatan terkait pengembangan kalkulator tersebut. Pada 4-5 Februari, bersama para akademisi dari Universitas Riau & Universitas Mataram, dilaksanakan lokakarya penulisan modul kalkulator NSDL.
Didukung oleh KONEKSI dan Pemerintah Australia, kokakarya ini merupakan bagian dari penguatan kapasitas pemangku kepenting sub-nasional dalam pemanfaatan data kelautan dan pesisir untuk perencanaan dan pengambilan kebijakan berbasis bukti.
Salah satu pembahasan yang menarik saat Trisla Warningsih, dosen Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Riau, menggambarkan ragam kelompok yang paling rentan terdampak tekanan lingkungan di pesisir Dumai, Riau, yaitu perempuan pesisir, nelayan kecil, pemuda, & masyarakat adat. Sebagai kota pelabuhan, Dumai menghadapi tekanan lingkungan yang signifikan akibat aktivitas industri dan pencemaran, yang berdampak pada degradasi mangrove serta penurunan hasil tangkapan nelayan kecil
Menurut para akademisi, ragam masalah lain, seperti keterlibatan perempuan dalam kegiatan penanaman mangrove yang belum diikuti dengan peran dalam pengambilan keputusan, kaum muda yang cenderung memilih pekerjaan jangka pendek di sektor perburuhan dibandingkan terlibat dalam upaya konservasi, dan masyarakat adat yang hingga kini belum memperoleh pengakuan formal dalam pengelolaan wilayah pesisir, juga menjadi sejumlah kendala.
Gambaran kondisi lapangan tersebut menegaskan pentingnya ketersediaan data yang mampu menghubungkan aspek ekologi, sosial, dan ekonomi secara terpadu. Dalam konteks ini, kalkulator NSDL diposisikan sebagai alat untuk menerjemahkan realitas di tingkat tapak ke dalam data yang terstruktur, sehingga dapat dimanfaatkan sebagai dasar perencanaan dan pengambilan kebijakan yang lebih responsif dan inklusif.
Empat hari setelahnya, 9 Februari, tim WRI Indonesia melanjutkan lokakarya bersama Direktorat Konservasi Ekosistem, Direktorat Jenderal Pengelolaan Kelautan, KKP, guna sinkronisasi persyaratan data dan informasi antara kalkulator NSDL yang dikembangkan oleh WRI Indonesia dan NSDL yang dikelola oleh KKP.
Secara bersama-sama, kami mengidentifikasi celah data, celah metodologis, dan kendala teknis dalam mengintegrasikan kedua sistem tersebut. Melalui lokakarya ini, komitmen bersama untuk mendorong pemanfaatan informasi berbasis data dan bukti dalam pengelolaan kelautan dan pesisir yang berkelanjutan harus terus diperkuat.
***
Bacaan lebih lanjut dan mendalam mengenai neraca sumber daya laut (NSDL) atau ocean account (OA) lewat artikel berikut: