Dialog Nasional WRI Indonesia dan IKI Hub Menyoroti Implementasi Sektoral jelang COP-31 UNFCCC dan COP-17 CBD
Jakarta, 16 September 2026 – Menjelang negosiasi iklim tahunan terbesar, COP-31 UN Framework Convention on Climate Change (UNFCCC) dan konferensi keanekaragaman hayati COP-17 Convention on Biological Diversity (CBD), International Climate Initiative (IKI)-Hub Indonesia melalui kerja sama Deutsche Gesellschaft für Internationale Zusammenarbeit (GIZ) dan World Resources Institute (WRI) Indonesia berkolaborasi dengan Kedutaan Jerman Jakarta menyelenggarakan dialog nasional dengan tajuk “From Negotiation to Implementation: Strengthening Informed Climate and Biodiversity Diplomacy Ahead of COP31 and COP17.”
Dialog ini memberikan ruang untuk pertukaran strategis, persiapan negosiasi, dan berbagi pengetahuan teknis antara negosiator, pakar, dan mitra internasional Indonesia sekaligus merefleksikan kerja sama Indonesia dan Jerman yang semakin kuat di sektor iklim dan keanekaragaman hayati. Kehadiran dialog ini juga menjadi platform untuk menghubungkan prioritas negosiasi iklim dan keanekaragaman hayati dengan bukti teknis dan pengalaman implementasi untuk memperkuat keterlibatan Indonesia dalam proses internasional.
Tekanan dan dinamika kebijakan geopolitik global, perlambatan pertumbuhan ekonomi, serta bencana iklim yang terjadi, semakin meningkatkan kerentanan bagi masyarakat. Agenda iklim dan keanekaragaman hayati internasional memasuki fase kritis: kedua proses tersebut semakin diarahkan pada implementasi komitmen yang telah disepakati.
Dua dekade setelah Perjanjian Paris diadopsi, sebanyak 147 negara di dunia telah menyampaikan target iklimnya melalui dokumen NDC (Nationally Determined Contribution). Sehingga tantangannya saat ini adalah bagaimana menerjemahkan komitmen tersebut menjadi kebijakan, pembiayaan, investasi, dan aksi nyata. Tantangan serupa juga dihadapi agenda keanekaragaman hayati menjelang COP17 CBD, ketika negara-negara perlu mempercepat implementasi Kunming–Montreal Global Biodiversity Framework (KMGBF) untuk mencapai target 2030.
Dengan demikian, seiring perubahan lanskap geopolitik global yang semakin mengutamakan kepentingan nasional dan perlindungan ekonomi domestik, ruang dan momentum untuk aksi bersama semakin menyempit. Dalam konteks ini, COP31 dan COP17 menjadi peluang sekaligus tantangan bagi Indonesia untuk memperkuat peran dan kepentingan nasional dalam kerja sama global, sekaligus membangun kolaborasi yang lebih kuat untuk memastikan komitmen iklim dan keanekaragaman hayati tetap diterjemahkan menjadi aksi nyata di dalam negeri.
Arif Havas Oegroseno, Wakil Menteri Luar Negeri Republik Indonesia, menyampaikan, “Komitmen iklim dan keanekaragaman hayati Indonesia saat ini ditandai dengan berbagai perkembangan, baik dalam target pengurangan emisi, mekanisme pasar perdagangan karbon, perlindungan hutan, restorasi lahan gambut, dan konservasi laut. Indonesia memiliki kredibilitas, distribusi tanggung jawab bersama komunitas global dalam sektor kehutanan, serta kepemimpinan dalam perlindungan kelautan. Kerangka pembiayaan inovatif dan terintegrasi menjadi sangat diperlukan dalam target iklim dan perlindungan terhadap keanekaragaman hayati di Indonesia.”
Indonesia telah menyampaikan NDC keduanya (Second NDC) menjelang COP30 tahun lalu. Untuk menerjemahkan komitmen tersebut menjadi implementasi, penyelarasan agenda iklim serta pertumbuhan ekonomi dan kebijakan sektoral di tingkat nasional serta daerah menjadi sebuah keharusan, yang perlu didukung oleh ketersediaan pembiayaan yang memadai untuk implementasi berbagai aksi iklim dan kebijakan sektoral tersebut.
Pemerintah Indonesia memperkirakan kebutuhan investasi sebesar $472,6 miliar untuk memastikan pencapaian target iklim yang ditetapkan dalam Second NDC. Estimasi ini kemungkinan masih berada di bawah kebutuhan pembiayaan yang sebenarnya, sehingga mobilisasi pembiayaan iklim menjadi semakin penting untuk mendukung implementasi aksi iklim secara efektif dan berkelanjutan di Indonesia.
Ary Sudjianto, Deputi Bidang Pengendalian Perubahan Iklim dan Tata Kelola Nilai Ekonomi Karbon Kementerian Lingkungan Hidup/BPLH, menegaskan, “Bencana akibat perubahan iklim telah memberikan dampak bagi masyarakat, ekosistem, dan lingkungan kita. Kita perlu menerjemahkan berbagai komitmen iklim menjadi aksi yang konkret. Pemerintah Indonesia menjadikan COP31 sebagai momentum untuk memprioritaskan aksi mitigasi, adaptasi, dan pembiayaan iklim sebagai aksi iklim.”
Elisabeth Taher, Head of Climate and Environment, Kedutaan Jerman di Indonesia, menyebutkan, “Konferensi tahun ini harus beralih dari ambisi ke tindakan. Artinya, kita perlu melihat adanya kemauan politik yang sungguh-sungguh setelah proses negosiasi. Hanya kerangka kerja legislatif yang ambisius yang dapat menciptakan lingkungan yang diperlukan bagi investasi swasta.”
WRI Indonesia dan IKI Hub Indonesia turut mendorong penelitian berbasis data untuk pengambilan kebijakan berbasis bukti dan terukur guna mengurangi emisi melalui pendekatan lintas sektor. Strategi dukungan kebijakan berbasis rendah karbon dengan mendorong terbentuknya ekosistem melalui regulasi yang mendukung serta keterlibatan partisipatif pemangku kepentingan, seperti pelaku usaha dan masyarakat, menjadi unsur penting dari berbagai inisiatif WRI untuk mendukung pemerintah Indonesia.
Kolaborasi WRI Indonesia bersama IKI Hub Indonesia telah mendorong agenda pembangunan rendah karbon di Indonesia melalui riset dan rekomendasi kebijakan berbasis bukti. Kolaborasi ini mendukung penguatan kebijakan dan perencanaan pembangunan yang mengintegrasikan target penurunan emisi dengan pembangunan ekonomi yang berkelanjutan dan berketahanan iklim.
Karin Allgoewer, Program Manager for IKI Hub, menambahkan, ”Dialog ini diharapkan dapat memberikan perspektif yang paripurna— dari tahap negosiasi hingga pengetahuan teknis—mengenai aksi iklim dan perlindungan keanekaragaman hayati yang mampu memberikan masukan bagi negosiasi iklim Indonesia Kehadiran dialog seperti ini tentunya penting terutama untuk menjembatani karakter pertimbangan yang sangat teknis dengan persoalan yang jauh lebih mendasar mengenai esensi, nilai dan tujuan aksi iklim itu sendiri. Bukan tidak mungkin dialog seperti ini justru memiliki kemampuan dalam memberikan pertimbangan yang substantif untuk setiap pihak yang terkait dan terdampak.”
Dalam diskusi teknis, WRI Indonesia membagikan penelitian yang berjalan dalam pengurangan emisi metana di sektor limbah persampahan dan air limbah, strategi mobilisasi pembiayaan iklim melalui aksi yang layak investasi, dan memperkuat posisi Indonesia dalam tata kelola ESG sektor mineral yang terkoordinasi, kredibel, dan diakui secara internasional. Diskusi teknis ini menghasilkan berbagai umpan balik dari partner strategis dari pemerintah, lembaga penelitian, sektor swasta, dan para ahli.
Arief Wijaya, Managing Director WRI Indonesia, menyampaikan, ”Melalui berbagai kajian, pengalaman, dan pembelajaran yang telah dikembangkan, WRI Indonesia mendukung pembangunan rendah karbon dan penguatan ketahanan iklim nasional dengan mendorong terbentuknya ekosistem melalui regulasi, sekaligus menghasilkan rekomendasi yang dapat memperkuat posisi dan diplomasi iklim Indonesia dalam agenda negosiasi internasional.”
Tentang IKI Hub Indonesia
IKI Hub Indonesia merupakan inisiatif Climate and Biodiversity Hub Indonesia yang dilaksanakan oleh GIZ Indonesia dan ASEAN untuk mendukung implementasi proyek International Climate Initiative (IKI) di Indonesia. Sebagai salah satu negara prioritas IKI, Indonesia menjadi tuan rumah bagi 46 proyek IKI yang berjalan per Agustus 2026, yang mencakup 27 proyek mitigasi, 3 proyek adaptasi, 3 proyek penyerap karbon alami, dan 13 proyek keanekaragaman hayati. Inisiatif ini didukung oleh Kementerian Federal Jerman untuk Lingkungan Hidup, Aksi Iklim, Konservasi Alam, dan Keamanan Nuklir (BMUKN) bersama sejumlah mitra pemerintah Indonesia guna memperkuat koordinasi dan implementasi aksi iklim serta keanekaragaman hayati di Indonesia. https://iki-indonesia.id
Tentang WRI Indonesia
WRI Indonesia didirikan di Indonesia dengan nama Yayasan Institut Sumber Daya Dunia. WRI Indonesia adalah organisasi penelitian independen yang didedikasikan untuk berkontribusi pada pembangunan sosial ekonomi Indonesia yang inklusif dan berkelanjutan. Pekerjaan kami difokuskan pada lima portofolio: hutan, iklim, energi, kota, transportasi, serta laut. Kami mengubah ide-ide besar menjadi tindakan di nexus lingkungan, peluang ekonomi, dan kesejahteraan manusia. Untuk informasi lebih lanjut, silakan klik https://wri-indonesia.org/id
Kontak Media
Saputra Gandabhaskara, Lead Communication Unit for Resilience Nature Cooperation Area Deutsche Gesellschaft für Internationale Zusammenarbeit (GIZ) GmbH, [email protected]
Enggi Dewanti, Senior Communications Specialist for Climate Transition, WRI Indonesia, [email protected]