Sebagian besar masyarakat di Provinsi Riau menggantungkan hidupnya pada sektor Perkebunan khususnya kelapa sawit. Hingga 2023, sebanyak 32% dari jumlah penduduk Riau bergantung pada sektor ini. Selain masyarakat asli, tidak sedikit yang datang dari berbagai wilayah dan lebih dari 20 tahun membangun kehidupan melalui perkebunan kelapa sawit. 

Saat ini petani kelapa sawit swadaya mengelola sekitar 40% dari perkebunan kelapa sawit nasional. Oleh karena itu, sangat penting untuk meningkatkan kemampuan mereka dalam menjawab permintaan pasar global terhadap produk yang berkelanjutan. 

Petani Sawit Swadaya di kebunnya, Riau
Petani Sawit dan Tim Smallholder Hub WRI Indonesia berdiskusi tentang proyeksi sawit berkelanjutan di kebun kelompok petani swadaya, Siak, Riau pada 29 Februari 2024. Kredit foto: Diah Pramesti/WRI Indonesia.

Pada tahun 2016, melalui kerja sama dengan Unilever Asia, PTPN V, dan RSPO, WRI Indonesia memulai program pendampingan pekebun kelapa sawit swadaya di Riau, khususnya Kabupaten Rokan Hulu dan Siak. “Tahun 2017, kita mulai melakukan pendampingan petani melalui peningkatan kapasitas mereka dan juga mulai melakukan persiapan-persiapan secara administratif yang diperlukan menuju perkebunan kelapa sawit berkelanjutan, dalam hal ini sertifikasi RSPO [Roundtable on Sustainable Palm Oil],” jelas Ahmad Zuhdi, Project Lead Smallholder Hub untuk WRI Indonesia.

RSPO merupakan salah satu upaya untuk mewujudkan sawit berkelanjutan melalui sertifikasi berdasarkan standarisasi internasional. Pengertian sawit berkelanjutan berangkat dari konsep pertanian berkelanjutan, yaitu sistem yang berorientasi pada keseimbangan ekonomi, sosial, dan ekologi. Melalui penerapan aspek keberlanjutan dapat mendukung produktivitas kebun petani swadaya dan kesejahteraannya; petani memahami praktik kerja yang aman; mengurangi penggunaan bahan kimia berbahaya dan dilarang; mengurangi tingkat resiko deforestasi dan laju emisi; mitigasi konflik sosial dan konflik tenurial; serta menciptakan rantai pasok yang aman dan meningkatkan kepercayaan pasar.

Tujuan pengelolaan kelapa sawit berkelanjutan tersebut akan dicapai oleh WRI Indonesia melalui program pendampingan pekebun swadaya. “Tujuannya, bagaimana kita bisa meningkatkan pendapatan petani, baik dari sisi peningkatan produktivitas kebun, juga dari sisi peningkatan kapasitas lembaga petani swadaya itu sendiri,” ungkap Ahmad yang telah menjalankan program ini selama 7 tahun terakhir.

Kebun Sawit Petani di Koperasi Beringin Jaya
Kebun sawit petani Koperasi Beringin Jaya di Siak, Riau. Kredit foto: Bukti Bagja/WRI Indonesia

Melanjutkan capaian program tahun 2021, WRI Indonesia bermitra dengan Unilever Asia kembali mengadakan pendampingan kepada masyarakat. Ada 15.000 petani tersebar di Provinsi Riau—yakni Kabupaten Kampar, Rokan Hulu, Siak, Pelalawan, Rokan Hilir, Indragiri Hilir, dan Indragiri Hulu—yang menerima dukungan untuk menerapkan sawit berkelanjutan melalui program Smallholder Hub.

Salah satu upaya untuk mewujudkan sawit berkelanjutan yaitu dengan membangun kolaborasi bersama para pemangku kepentingan di setiap daerah. Kolaborasi ini pun mendapat dukungan dari masyarakat, sebab turut mendukung peningkatan kapasitas petani sawit swadaya. Dalam prosesnya, pemerintah daerah dan sektor swasta (Suplier Unilever) juga dilibatkan dari tahap awal kegiatan ini. Untuk itu, Focus Group Discussion (FGD) diadakan di Kabupaten Kampar, Rokan Hulu, dan Siak pada 27-28 Februari dan 1 Maret 2024.

Focus Group Discussion (FGD) terkait Sawit Berkelanjutan di Kampar, Riau pada 27 Februari 2024.
Focus Group Discussion (FGD) terkait Sawit Berkelanjutan di Kampar, Riau pada 27 Februari 2024. Kredit foto: Diah Pramesti/WRI Indonesia

Kegiatan FGD bertema “Dukungan dan Kolaborasi Stakeholder untuk Program Pemberdayaan dan Penguatan Petani Kelapa Sawit Swadaya Berkelanjutan” tersebut diikuti oleh 63 orang peserta yang berasal dari berbagai latar belakang, mulai dari kelompok tani, masyarakat, serta lembaga pemerintah.

“Pertemuan lintas pihak ini pun menjadi langkah awal masyarakat di Kabupaten Kampar untuk merealisasikan sawit berkelanjutan yang berpihak pada petani dan alam. Kolaborasi ini nantinya akan menghasilkan suatu kesimpulan yang akan kita tindak lanjuti untuk sustainability perkebunan sawit di Kampar,” kata Ahmad Yuzar, Asisten Bidang Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Pemerintah Kabupaten Kampar.

Melalui program Smallholder Hub, petani turut mendapatkan kesempatan untuk meningkatkan pemahamannya tentang pengelolaan perkebunan yang lebih ramah lingkungan. 

“Sawit berkelanjutan, selain ramah lingkungan, juga memberikan edukasi pada petani, sehingga petani memahami cara bertani dengan baik dan benar,” ungkap Marhalim, Kepala Dinas Perkebunan dan Peternakan Kabupaten Kampar. 

“Kami sangat senang karena kegiatan yang dilaksanakan WRI ini juga membantu pemerintah untuk mewujudkan tujuan dari pembangunan pertanian khususnya sawit yang berkelanjutan di Indonesia,” lanjutnya.

Diskusi antara Tim Smallholder Hub WRI Indonesia dengan Pemerintah Kabupaten Kampar.
Diskusi antara Tim Smallholder Hub WRI Indonesia dengan Pemerintah Kabupaten Kampar. Kredit foto: Diah Pramesti/WRI Indonesia

Sambutan baik juga diberikan oleh petani dan kelompok tani yang hadir dalam FGD. “Program WRI ini sangat didukung oleh stakeholder terkait dan juga menjadi sebuah kepastian bagi kami, bahwa program yang sedang kami jalani ini adalah program yang mendapat izin dari dinas terkait di lingkungan kami. Jadi kami merasa lebih nyaman dan leluasa untuk bisa bergerak dan meyakinkan anggota ke depan,” kata Hamdan Ali, Ketua Internal Control System (ICS) Koperasi Unit Desa (KUD) Hasrat Jaya, Kabupaten Kampar.

Petani di KUD Hasrat Jaya bersama Tim Smallholder Hub di Kampar, Riau
Petani di KUD Hasrat Jaya bersama Tim Smallholder Hub di Kampar, Riau. Kredit foto: Diah Pramesti/WRI Indonesia

Kerja sama antara WRI Indonesia dan KUD Hasrat Jaya telah berlangsung selama hampir 2 tahun. Koperasi yang terbentuk pada 1993 ini menjadi salah satu kelompok petani yang memperoleh pendampingan untuk mendorong perkebunan sawit di Riau menjadi lebih berkelanjutan. Sampai saat ini petani yang tergabung dalam koperasi telah mendapatkan beberapa pelatihan seperti Best Management Practices (BMP), pengenalan sertifikat RSPO, pengelolaan Nilai Konservasi Tinggi (HCV), manajemen kelompok, dan keselamatan kerja.

“Petani kita sangat senang dan merasa terbimbing. Jadi yang awalnya mereka bertani dengan asal-asalan, sekarang sudah mulai bertani dengan prinsip-prinsip yang berkelanjutan,” tambah Hamdan Ali.

Sampai saat ini, petani-petani yang tergabung dalam KUD Hasrat Jaya masih dalam tahap mendaftarkan sertifikasi RSPO sebagai salah satu pengakuan dari praktik-praktik berkelanjutan yang diupayakan petani. “Kami sedang melengkapi dan merapikan database anggota untuk proses sertifiasi RSPO. Harapannya semoga petani bisa lebih sejahtera dengan adanya program sawit berkelanjutan ini,” ungkap Ayu Rahmawati, Sekretaris ICS KUD Hasrat Jaya.

Hamdan Ali menunjukan kebun yang diupayakan untuk memperoleh RSPO.
Hamdan Ali menunjukan kebun yang diupayakan untuk memperoleh RSPO. Kredit foto: Diah Pramesti/WRI Indonesia

Dampak baik dari sawit berkelanjutan pun telah dirasakan kelompok tani di Kabupaten Siak. Ada dua koperasi—Koperasi Beringin Jaya dan Koperasi Sawit Jaya—yang telah memperoleh sertifikasi RSPO dari keterlibatannya dalam program Smallholder Hub.

Mulai 2018, WRI Indonesia telah menjalin relasi dengan petani di Koperasi Beringin Jaya yang kemudian berlanjut dengan berbagai kegiatan pendampingan dan pelatihan untuk meningkatkan kapasitas petani, termasuk memberikan dukungan dalam upaya petani medapatkan sertifikat RSPO. 

“Hampir semua lini yang ada di koperasi yang dibutuhkan RSPO itu didampingi oleh WRI, apakah itu dalam bentuk cara pembukuan administrasi, penerapan berkebun yang baik, hingga cara perawatan sawit yang baik,” papar Sawalmi, Ketua Koperasi Beringin Jaya.
 

Kunjungan Tim Smallholder Hub ke Koperasi Beringin Jaya
Kunjungan Tim Smallholder Hub ke Koperasi Beringin Jaya. Kredit foto: Diah Pramesti/WRI Indonesia

Koperasi Beringin Jaya berdiri pada 26 Maret 2010 dengan 209 petani yang tergabung di dalamnya. Mereka memperoleh sertifikat RSPO pada 2021, setelah berhasil memenuhi berbagai persyaratan. Setelah itu, banyak perubahan yang dirasakan Sawalmi dan petani lainnya. “Kami dari Koperasi Beringin Jaya merasa bangga sudah mencapai sertifikasi RSPO, sehingga kami dikenal oleh banyak warga, bahkan dikunjungi beberapa kedutaan besar di seluruh dunia,” ungkap Sawalmi.

Dampak dari keberhasilan penerapan sawit berkelanjutan juga dirasakan oleh kelompok tani yang bernaung di bawah Koperasi Sawit Jaya. Pada 2019, koperasi yang terletak di Kampung Benten Hulu ini mulai menerima pembinaan dari WRI Indonesia. “Kami dari petani sangat antusias kepada perolehan sertifikat RSPO karena dengan itu, kehidupan petani sangat meningkat, karena binaan, pelatihan, akhirnya sawit bisa lebih terjaga, lebih subur, dan mendapatkan hasil yang lebih baik,” jelas Amirudin dari Kelompok Sawit Jaya.
 

Kunjungan Tim Smallholder Hub ke Koperasi Sawit Jaya
Kunjungan Tim Smallholder Hub ke Koperasi Sawit Jaya. Kredit foto: Diah Pramesti/WRI Indonesia

Hasil yang diperoleh petani dari penerapan sawit berkelanjutan pun tidak serta merta langsung didapatkan. Ada bermacam upaya yang dilakukan untuk meyakinkan petani agar dapat beralih ke metode yang lebih berkelanjutan. “Walaupun penolakan banyak, namun akhirnya dengan sabar, keyakinan, dan trasnparansi, kami sampaikan apa adanya, sehingga petani dapat menerima,” ungkap Sawalmi.

Focus Group Discussion (FGD) bersama kelompok petani dan Pemerintah Kabupaten Siak terkait Sawit Berkelanjutan
Focus Group Discussion (FGD) bersama kelompok petani dan Pemerintah Kabupaten Siak terkait Sawit Berkelanjutan. Kredit foto: Diah Pramesti/WRI Indonesia

Implikasi baik dari sawit berkelanjutan pun diharapkan dapat dirasakan seluas-luasnya oleh petani-petani sawit lainnya. Maka dari itu, pada 28 Februari 2024, WRI Indonesia bekerja sama dengan ASOFA (Asosiasi Fasilitator Daerah) melaksanakan FGD yang mempertemukan kelompok tani dengan pemerintah dan swasta. FGD yang dihadiri oleh 58 peserta ini bertujuan untuk memperkuat kolaborasi antara WRI Indonesia, petani, dan pemerintah daerah. “Kita ingin menyatukan pemahaman untuk bisa mewujudkan bagaimana sawit berkelanjutan itu,” ungkap Ahmad Zuhdi. 

Amirudin sebagai perwakilan petani sawit juga berharap, “nantinya petani-petani di Kabupaten Siak yang mempunyai harapan tinggi bisa mendapatkan binaan untuk mewujudkan sawit berkelanjutan ini.”