Peneliti Muda Serukan Keadilan Iklim di YES Conference 2025
Siaran Pers
World Resources Institute (WRI) Indonesia
***
Jakarta, 4 Desember 2025 — Deretan banjir dan longsor yang melanda berbagai daerah dalam beberapa minggu terakhir kembali menegaskan rapuhnya ketahanan iklim Indonesia. Di tengah situasi itu, ratusan peneliti muda dari dalam dan luar negeri menyerukan pentingnya kebijakan berbasis sains dalam menghadapi krisis iklim, melalui gelaran WRI Indonesia 1st International Young Environmental Scientists (YES) Conference 2025, di Jakarta, 2–3 Desember 2025.
Konferensi yang untuk pertama kalinya digelar di Indonesia ini menghasilkan Rekomendasi Kebijakan yang disusun secara kolaboratif, berangkat dari temuan riset lintas disiplin. Seluruh rekomendasi menekankan perlunya perubahan sistem pengelolaan sumber daya alam yang lebih adil, inklusif, dan berorientasi pada ketahanan jangka panjang.
Dalam dokumen rekomendasi yang dirumuskan, peserta menyerukan antara lain:
- Perubahan sistem menuju keadilan di sektor pangan, lahan, air, laut, kota, dan energi dengan menempatkan perempuan, pemuda, petani kecil, masyarakat adat, dan kelompok rentan sebagai pusat ketahanan.
- Penguatan ekosistem riset nasional, termasuk pendanaan jangka panjang, pendampingan ilmiah, keterbukaan data, dan infrastruktur sains yang lebih kokoh.
- Pengakuan setara terhadap pengetahuan lokal dan adat sebagai bagian dari landasan sains, terutama untuk adaptasi perubahan iklim di darat maupun laut.
- Percepatan inovasi teknologi, melalui pengembangan sistem data terbuka, pemantauan berbasis kecerdasan buatan, pembelajaran digital, dan literasi iklim yang dipimpin pemuda.
- Perbaikan tata kelola lewat kolaborasi lintas sektor, transparansi pembiayaan, perlindungan keadilan, serta adopsi kebijakan berbasis bukti di kementerian dan pemerintah daerah.
Pada sesi khusus Papua, para panelis menegaskan bahwa ketahanan pesisir, pengetahuan komunitas, dan perencanaan inklusif tidak dapat dipisahkan dari kearifan lokal dan pengalaman hidup masyarakat. Pendekatan pembangunan, menurut mereka, perlu berangkat dari budaya, keadilan, dan realitas keseharian masyarakat.
Konferensi ini diikuti lebih dari 500 peneliti muda dari berbagai negara, mewakili perguruan tinggi, lembaga nirlaba, dan institusi pemerintah. Selama dua hari, peserta mengikuti empat diskusi pleno, 15 panel parallel dengan 57 presentasi oral, dan 27 presentasi poster.
“Generasi muda bukan hanya pemimpin masa depan, tetapi penghasil inovasi hari ini,” kata Nirarta Samadhi, Direktur WRI Indonesia, dalam pidato penutupan. Ia menegaskan bahwa masa depan iklim yang adil dan tangguh tidak bisa menunggu, dan harus dibangun sekarang oleh peneliti-peneliti muda yang sungguh-sungguh peduli dan berani bertindak.
Di penghujung acara dilaksanakan penyerahan apresiasi untuk presenter terbaik yaitu Meily Priliani dari PT. PLN (Persero) dengan riset berjudul Co-Creating Climate-Resilient Electricity Distribution Systems: Lessons from Bali’s 2025 Floods. Penghargaan untuk poster favorit diberikan kepada Seriany Tonglo dari WRI Indonesia dengan riset berjudul Nature-Based Solutions for Indigenous Papuan on Climate Resilience: Sustainable Ecotourism Development in Isyo Hill’s Birdwatching Area, Jayapura Regency, Papua, Indonesia.
Hari pertama konferensi dibuka oleh Prof. Mari Elka Pangestu, Dewan Pembina WRI Indonesia. Hadir pula Prof. Arif Satria, Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional dan Velix Wanggai, Kepala Komite Eksekutif Percepatan Pembangunan Otonomi Khusus Papua Bappenas yang menyampaikan pidato kunci. Selain itu turut berpartisipasi perwakilan dari Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi, perwakilan dari Kementrian Koordinator Bidang Pangan, dan Jerhemy Owen seorang environmental content creator.
***
Untuk informasi lebih lanjut, kunjungi: wri-indonesia.org/en/YES2025
Atau hubungi:
- Ahmad Dhiaulhaq, Research and Data Integrity Manager WRI Indonesia - [email protected]
- Dewi Satriani, Communication Manager WRI Indonesia – [email protected] (+62811910970)
Dokumen terkait dapat diunduh di sini:
- YES 2025 Policy Recommendation
- Press Release YES 2025 (Day 1)
- Dokumentasi