Stories of Impact: Cerita dari Masyarakat Adat dan Komunitas Lokal di Sumatra dan Kalimantan
Hingga awal tahun 2025, realisasi pemberian akses Perhutanan Sosial telah mencapai 8,3 juta hektare dari target 12,7 juta hektare, melalui penerbitan 11.015 unit Surat Keputusan (SK). Sementara itu, pengakuan terhadap Hutan Adat telah mencakup 332.505 hektare melalui 156 unit SK. Selain itu, telah terbentuk 15.105 Kelompok Usaha Perhutanan Sosial (KUPS), namun lebih dari 90% di antaranya masih berada pada tingkat “Blue” dan “Silver”. Kondisi serupa juga terjadi pada 207 KUPS Adat, di mana lebih dari 83% masih berstatus “Blue” dan “Silver”, sesuai kriteria yang ditetapkan. Kehadiran pendamping Perhutanan Sosial memegang peranan penting dalam mendorong peningkatan kelas KUPS. Saat ini, jumlah pendamping dari Balai Perhutanan Sosial dan Kemitraan Lingkungan (PSKL) baru mencapai 1.820 orang, sehingga kolaborasi multipihak yang melibatkan pemerintah pusat dan daerah, perguruan tinggi, sektor swasta, serta organisasi masyarakat sipil masih sangat dibutuhkan untuk memastikan program ini memberikan dampak optimal, baik dari aspek sosial, ekonomi, maupun ekologi (Kementerian Kehutanan, 2025). Program Enhancing Community Forest Tenure and Sustainable Livelihoods yang didukung oleh Norway’s International Climate and Forest Initiative (NICFI) dari NORAD, melalui konsorsium WRI Indonesia, KKI Warsi, dan KBCF ini hadir untuk menjawab tepat pada tantangan tersebut dengan fokus pada penguatan tata kelola, mata pencaharian berkelanjutan, dan penguatan kapasitas lokal.
Perhutanan Sosial bukan sekadar program pemberian akses, melainkan sebuah gerakan untuk membangun kedaulatan dan kesejahteraan masyarakat yang hidup di dalam dan sekitar hutan. Sejalan dengan Asta Cita dan RPJMN, program ini adalah tulang punggung strategis untuk ketahanan pangan dan energi nasional. Namun, jalan menuju tujuan mulia ini penuh dengan tantangan kompleks. Hingga awal 2025, meski capaian areanya telah signifikan, mayoritas Kelompok Perhutanan Sosial (KPS) masih memerlukan pendampingan intensif untuk naik kelas. Di sinilah peran pendamping menjadi krusial.
Melalui program ini, kami bersama KKI Warsi dan KBCF berkomitmen mendampingi masyarakat di 5 provinsi. Secara langsung, WRI Indonesia melakukan pendampingan di Provinsi Sumatera Barat dan Aceh. Fokus kami adalah memperkuat tata kelola, mata pencaharian berkelanjutan, serta peran perempuan dan orang muda.
Buku Stories of Impact yang ditulis bersama oleh WRI Indonesia, KKI Warsi, dan KBCF ini merupakan kumpulan kisah yang mencakup fokus-fokus kerja kami selama kurang lebih 5 tahun. Buku ini ditulis langsung oleh para pendamping yang sehari-hari berdinamika langsung bersama masyarakat. Dengan membaca kisah dari kacamata pendamping yang secara langsung mendukung dan terlibat dalam transformasi yang terjadi di lapangan. Harapannya, kita bisa memahami bahwa mereka adalah ujung tombak dalam upaya peningkatan kemampuan masyarakat. Kami berharap cerita ini dapat menjadi inspirasi bagi sejawat fasilitator, pembuat kebijakan, dan semua pihak yang berkecimpung dalam pengelolaan hutan berbasis masyarakat.