Gen-Z for Sustainable Food Systems (GSFS) 2025
Kompetisi Esai, Bootcamp, dan Magang Bersama Koalisi Sistem Pangan Lestari (KSPL)
Koalisi Sistem Pangan Lestari (KSPL) adalah komunitas organisasi dan individu yang berkomitmen untuk mengubah cara dunia memproduksi dan mengonsumsi makanan, serta menggunakan lahan untuk manusia, alam, dan Bumi. Sebagai bagian dari Food and Land Use Coalition (FOLU) di tingkat global, KSPL memiliki misi bersama untuk memastikan setiap aktor dalam sistem pangan dan tata guna lahan yang kompleks memainkan peranan mereka dengan optimal untuk mewujudkan komitmen Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) dan Persetujuan Paris.
Guna mencapai tujuan tersebut, KSPL merangkul seluruh pihak untuk dapat berkontribusi terhadap aksi transformasi tersebut, termasuk Gen Z. Generasi Z, juga dikenal sebagai "Gen Z," adalah kelompok yang lahir antara pertengahan 1990-an hingga awal 2010-an. Gen Z merupakan kelompok yang akan merasakan dampak terbesar dari krisis iklim yang sedang kita hadapi, sekaligus memiliki peran krusial dalam membentuk masa depan yang lebih berkelanjutan. Partisipasi dan keterlibatan aktif mereka dalam mencari solusi terbaik dalam permasalahan lingkungan dan iklim, termasuk terkait sistem pangan, menjadi sangat penting untuk mencegah suhu bumi naik di atas 1,5 derajat Celsius.
Latar belakang tersebut yang mendorong lahirnya kegiatan Gen-Z for Sustainable Food Systems (GSFS), sebuah rangkaian acara yang bertujuan untuk menyaring orang muda terpilih dari berbagai wilayah di Indonesia untuk ikut serta dalam upaya mendorong transformasi sistem pangan Indonesia yang lebih berkelanjutan. GSFS telah berlangsung sejak 2022 dan telah memberi kesempatan kepada 13 orang muda untuk menjadi pemagang untuk KSPL. Tahun ini, GSFS akan memberi kesempatan kepada tiga pemenang untuk dapat berkontribusi secara aktif dalam isu-isu terkait pangan melalui kegiatan magang bersama mitra-mitra KSPL.
Persyaratan:
- WNI dan tinggal di Indonesia
- Berusia 18–28 tahun
- Mahasiswa tahun terakhir S1 atau S2 segala jurusan, atau maksimal 1 tahun setelah lulus
- Memiliki akun Instagram aktif (tidak dikunci selama rangkaian GSFS 2025)
- Bersedia hadir secara offline di Bandung* untuk mengikuti bootcamp pada 1–6 September 2025
- Jika menang, bersedia mengikuti program magang selama 3 bulan
- Tulisan harus orisinal milik penulis, baik konsep maupun analisis; jika diperlukan, penggunaan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) dibatasi hanya untuk pengecekan tata bahasa
- Tulisan yang mengandung plagiarisme akan didiskualifikasi, termasuk apabila terbukti setelah pengumuman finalis/pemenang
Format:
- Esai merupakan ide/opini penulis yang didukung data dan referensi ilmiah
- Menggunakan Bahasa Indonesia/Inggris (pilih salah satu)
- Esai memiliki panjang 800–1.000 kata (tidak termasuk daftar pustaka)
- Menggunakan font Times New Roman, ukuran 12, spasi 1,5
- Dikirim dalam format .docx atau .pdf
Hadiah:
- Total 15 orang finalis (lima orang setiap topik) akan diundang mengikuti bootcamp di Bandung*
- 3 orang pemenang akan mengikuti program magang berbayar bersama mitra Koalisi Sistem Pangan Lestari (KSPL)
*Biaya akomodasi dan transportasi ditanggung panitia.
Rangkaian Acara:
- Penutupan pengiriman esai: 11 Agustus 2025
- Pengumuman finalis: 18 Agustus 2025
- Briefing sebelum bootcamp: 27 Agustus 2025
- Bootcamp di Bandung: 1–6 September 2025
- Pengumuman pemenang: 15 September 2025
- Periode magang: Oktober–Desember 2025
Topik
Topik 1: Membangun Pola Konsumsi yang Beragam dan Bergizi melalui Pertanian Berkelanjutan
Krisis pola konsumsi di Indonesia tak lepas dari sistem produksi pangan yang belum berorientasi pada keberlanjutan. Konsumsi protein hewani (seperti daging, telur, dan susu), serta sayur dan buah masih jauh dari jumlah ideal yang dibutuhkan tubuh. Misalnya, konsumsi susu hanya sekitar 3,1 kg per kapita per tahun, dan asupan buah dan sayur belum memenuhi rekomendasi WHO sebesar 400 gram per hari. Di sisi lain, ketergantungan terhadap satu komoditas seperti beras, dengan konsumsi mencapai 97,1 kg per kapita per tahun, menunjukkan adanya kerentanan dalam sistem pangan nasional. Ketimpangan ini menegaskan bahwa membangun pola konsumsi yang sehat dan beragam tak bisa dipisahkan dari pembenahan sistem produksi.
Pertanian berkelanjutan dapat menjadi kunci untuk menjawab tantangan ini, mulai dari memperkuat produksi lokal, menerapkan praktik ramah lingkungan, hingga mendorong prinsip agroekologi di tingkat petani. Dengan begitu, pertanian berkelanjutan tak hanya menjawab krisis konsumsi dan produksi, tetapi juga membuka jalan menuju sistem pangan yang tangguh dan bergizi. Lantas, bagaimana cara agar pertanian berkelanjutan benar-benar menjadi fondasi dalam membangun pola konsumsi yang sehat dan beragam di Indonesia? Dan bagaimana generasi muda dapat mengambil peran dalam mewujudkannya?
Program magang: Finalis terpilih akan melakukan magang bersama GAIN untuk membantu implementasi program Nutrition & Environment GAIN Indonesia, khususnya untuk kegiatan pengembangan tempe koro dan ikan kecil di Aceh, Sumatera Barat, Jawa Barat, dan Daerah Istimewa Yogyakarta. Magang akan dilaksanakan secara hybrid, daring dan luring dari kantor GAIN di Jakarta Selatan.
Topik 2: Pertanian Cerdas Iklim sebagai Strategi Rendah Karbon dan Pengelolaan Modal Alam
Pertanian Cerdas Iklim (Climate Smart Agriculture/CSA) adalah pendekatan yang semakin relevan dalam menghadapi dampak perubahan iklim dan tekanan terhadap sumber daya alam. CSA tidak hanya berfokus pada peningkatan produktivitas dan ketahanan sistem pertanian terhadap perubahan iklim, tetapi juga pada pengurangan emisi karbon serta pengelolaan bijak terhadap modal alam seperti tanah, air, dan keanekaragaman hayati.
Topik ini mengajak generasi muda, khususnya Gen Z, untuk mengeksplorasi praktik dan inovasi pertanian rendah karbon di Indonesia. Mulai dari teknik budi daya berkelanjutan, pemanfaatan teknologi ramah lingkungan, hingga manajemen lahan dan air yang efisien. Melalui esai ini, diharapkan Gen Z mampu menunjukkan bagaimana pendekatan CSA dapat mengurangi tekanan terhadap alam dan menekan dampak lingkungan dari sektor pertanian.
Lebih dari itu, Gen Z juga diajak memahami bahwa sistem pangan merupakan jejaring kompleks yang melibatkan alam, manusia, dan ekonomi. Oleh karena itu, praktik pertanian yang baik harus mampu menjaga keseimbangan ketiganya, sekaligus mendorong kolaborasi lintas sektor demi menciptakan sistem pangan yang tangguh, rendah emisi, dan berlandaskan pada keberlanjutan modal alam.
Program magang: Finalis terpilih akan melakukan magang bersama IBCSD untuk mendukung penyusunan materi terkait Climate Smart Agriculture (CSA) yang fokus pada strategi pengurangan emisi karbon di sektor pertanian serta analisis dampaknya terhadap modal alam seperti kualitas dan kesehatan tanah, ketersediaan air, serta keberlanjutan ekosistem beserta keanekaragaman hayatinya. Magang akan dilaksanakan secara hybrid, daring dan luring (dua kali seminggu) dari kantor IBCSD di Jakarta Selatan.
Topik 3: Proses Dokumentasi sebagai Langkah Awal Pertanian Berkelanjutan untuk Kedaulatan Pangan
Indonesia merupakan salah satu pusat asal-usul keanekaragaman hayati pangan, baik dari darat maupun laut, yang mencakup sumber karbohidrat, protein, hingga vitamin. Tak heran jika Nikolai Vavilov memasukkan Indonesia ke dalam wilayah “Vavilovian centers”, yaitu pusat asal dan keanekaragaman tanaman budidaya dunia. Tanaman seperti padi, jali, kecipir, aneka umbi, talas, Tacca, pisang, sukun, manggis, durian, langsat, mangga, kelapa, cengkeh, pala, hingga sagu merupakan sebagian kecil dari kekayaan tersebut (Vavilov, 1926 dalam Suhendra dkk., 2014). Selain itu, Indonesia juga merupakan pusat keragaman sekunder bagi tanaman seperti ubi kayu, jagung, ubi jalar, kopi, dan teh (Zeven & Zhukovsky, 1975 dalam Suhendra dkk., 2014). Tingginya keanekaragaman ini menempatkan Indonesia di posisi kedua dunia setelah Brasil.
Namun, kekayaan ini menghadapi berbagai ancaman, mulai dari alih fungsi lahan hingga hilangnya pengetahuan lokal. Pertanian berkelanjutan menjadi pendekatan penting untuk merespons tantangan tersebut. Salah satu langkah awalnya adalah mendokumentasikan sumber-sumber pangan lokal dari berbagai daerah. Dokumentasi ini tidak hanya penting untuk pelestarian, tetapi juga membuka ruang bagi keterlibatan publik dalam mendukung produksi pangan yang lebih beragam, adil, dan selaras dengan alam. Lantas, bagaimana proses dokumentasi ini dapat menjadi fondasi kuat bagi pertanian berkelanjutan dan kedaulatan pangan Indonesia ke depan? Dan sejauh mana generasi muda bisa ambil peran dalam menjaganya tetap hidup dan relevan di masa kini?
Program magang: Finalis terpilih akan menjalani magang bersama Yayasan KEHATI untuk mendukung Program Agroekosistem, khususnya dalam pendokumentasian keanekaragaman hayati sumber pangan melalui platform Nusantara Food Biodiversity. Program ini dijalankan bersama mitra seperti KRKP, KOMPAS, dan CIFOR, dan bertujuan membangun basis data publik yang memperkuat kesadaran serta perlindungan terhadap sumber pangan lokal Indonesia. Magang akan dilaksanakan secara hybrid, daring dan luring dari kantor Yayasan KEHATI di Jakarta Selatan.
Formulir pendaftaran dapat diakses dengan klik tombol "Daftar" di bagian atas halaman ini.
Kontak: Lidia ([email protected])
Proyek
Koalisi Sistem Pangan Lestari
Bagian dari Pangan, Lahan, dan Air