Mencapai Swasembada Energi Melalui Dekarbonisasi Angkutan Barang di Indonesia
Transisi menuju transportasi rendah emisi menjadi langkah strategis untuk mendukung pencapaian target Net Zero Emission (NZE) 2060 sekaligus memperkuat ketahanan energi dan meningkatkan kualitas lingkungan di Indonesia.
Pengantar
Sektor transportasi memegang peran yang semakin strategis dalam agenda pembangunan berkelanjutan Indonesia. Selain menjadi penggerak utama aktivitas ekonomi dan distribusi logistik, sektor ini juga menghadapi tantangan besar akibat tingginya konsumsi bahan bakar fosil serta kontribusinya terhadap emisi gas rumah kaca dan pencemaran udara. Oleh karena itu, upaya dekarbonisasi transportasi merupakan langkah penting untuk memperkuat ketahanan energi nasional, meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat, dan mendorong transformasi menuju sistem transportasi yang lebih efisien, bersih, dan berkelanjutan.
Poin Kunci
- Sektor angkutan barang berbasis heavy-duty vehicles (HDV) menyumbang sekitar 31,7% emisi transportasi nasional pada tahun 2024,
dan menjadi salah satu sumber utama polusi udara seperti PM2.5 yang berdampak pada kesehatan dan produktivitas. - Konsumsi bahan bakar diesel nasional terus meningkat mencapai 38,57 juta kL pada 2024, sementara realisasi produksi diesel dari
refinary domestik yang volatile dan cenderung stagnan menyebabkan impor diesel tetap terjadi meskipun rasio campuran biodiesel telah
ditingkatkan. - Kebijakan peningkatan bauran biodiesel hingga B50 efektif menekan impor dalam jangka pendek, namun perlu diperkuat dengan
strategi komplementer jangka panjang, dipengaruhi oleh pertumbuhan angkutan barang yang terus meningkat. - Elektrifikasi kendaraan angkutan barang dapat menjadi strategi tambahan untuk mengurangi ketergantungan terhadap permintaan
diesel dalam jangka panjang, berpotensi mengurangi beban fiskal akibat subsidi BBM dan mengurangi ketergantungan terhadap impor
diesel untuk mencapai swasembada energi. - Simulasi skenario transisi ke kendaraan listrik menunjukkan potensi penghematan yang signifikan pada periode 2030–2035 dengan
estimasi pengurangan konsumsi diesel sebesar 77,9 juta kL, penghematan nilai ekonomi sekitar Rp 930,9 triliun, serta penurunan beban
fiskal sekitar Rp 161,36 triliun dibandingkan skenario business-as-usual. - Mengurangi ketergantungan terhadap BBM dan mengurangi emisi tidak cukup hanya mengandalkan arus kendaraan baru (flow) yang
rendah emisi dikarenakan secara populasi (stock) tidak signifikan. Instrumen kebijakan pengendalian populasi kendaraan yang saat ini
beroperasi seperti pembatasan usia kendaraan, mekanisme scrapping, dan trade-in menjadi penting untuk dipertimbangkan.