Sabtu, 17 Januari 2026, empat orang muda: Sandi, Silfi, Dyas, dan Sultan berdiri di depan 40 peserta “Pelatihan Modul Edukasi Pengelolaan Sisa Pangan dan Sampah Makanan” di Kelurahan Nyengseret, Kota Bandung. Sebagian peserta itu adalah teman sepermainan, tetangga, atau rekan komunitas mereka sendiri. Namun, hari itu, relasi personal tersebut berubah menjadi ruang belajar. Untuk pertama kalinya, mereka memfasilitasi pelatihan tentang isu yang sering dianggap sepele, padahal berdampak besar dalam kehidupan sehari-hari: pengelolaan sisa pangan dan sampah makanan.

Bagi Sandi, peran sebagai fasilitator bukanlah hal baru. Ia sudah sering terlibat dalam kegiatan edukasi lingkungan di wilayahnya. “Saya peduli dengan lingkungan sekitar saya, makanya saya tertarik untuk menjadi fasilitator agar saya bisa mengedukasi lagi masyarakat atau teman-teman muda yang ada di wilayah saya,” ujar Sandi saat berbincang dengan tim WRI Indonesia. 

img_0714
Sandi (berkaus putih) saat berdiskusi dengan salah satu peserta terkait dampak dari tidak menghabiskan makanan. Kredit foto: Lidia Prima Sidabutar/WRI Indonesia.  

Alih-alih merasa cemas, Sandi melihat pelatihan ini sebagai kesempatan untuk mengedukasi lebih banyak orang muda di Kelurahan Nyengseret. Ia berharap para peserta bisa meneruskan pengetahuan yang diterima hari itu, di lingkup keluarga, komunitas, hingga jejaring pertemanan lainnya.

Silfi memiliki pengalaman serupa dalam mengedukasi warga sebagai anggota Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (PKK). Tapi, berbicara di depan publik tetap menjadi tantangan sendiri baginya. "Pelatihan ini membuat aku lebih percaya diri," katanya. Bagi Silfi, proses memfasilitasi bukan hanya tentang menyampaikan materi, tetapi juga tentang melampaui batas diri. 

img_0746
Silfi sedang menyambut para partisipan yang baru saja datang ke Aula Kelurahan Nyengseret dan mengingatkan mereka untuk mengisi absensi. Kredit foto: Lidia Prima Sidabutar/WRI Indonesia. 

Berbeda dengan Sandi dan Silfi, Dyas dan Sultan menghadapi pengalaman perdananya sebagai fasilitator. Rasa gugupnya semakin terasa, terlebih karena yang hadir adalah teman-teman sebaya. "Pertama kali ini saya jadi fasilitator di depan anak-anak muda. Saya gugup dan cemas banget," ujar Dyas.  

img_0889
Dyas bertanggung jawab untuk menjelaskan soal seberapa banyak sisa pangan dan sampah makanan dari rumah tangga selama tahun 2024. Kredit foto: Lidia Prima Sidabutar/WRI Indonesia. 

Sultan merasakan hal yang sama. “Perasaannya senang, tapi deg-degan. Tapi saya jadi lebih tahu mana sampah berbahaya dan sampah yang bisa didaur ulang,” ujar Sultan sambil mengingat pengalamannya memfasilitasi pelatihan. 

Sultan
Sultan memperkenalkan tiga prinsip utama dalam Modul Pengelolaan Sisa Pangan dan Sampah Makanan Rumah Tangga, yakni cegah, pilah, dan olah. Kredit foto: Lidia Prima Sidabutar/WRI Indonesia. 

Di balik semangat dan rasa gugup yang terasa, pelatihan terlaksana dengan baik. Setiap peserta hadir antusias mengikuti sesi yang disiapkan. Mereka aktif menjawab pertanyaan, terlibat dalam diskusi kelompok, hingga berpartisipasi dalam simulasi permainan dari modul pelatihan yang disediakan.  

img_0808
Salah satu kelompok, yang berperan menjadi petani, membuat akronim “Kopeta” alias Kelompok Pemuda Bertani untuk memudahkan mereka saat membuat yel-yel. Kredit foto: Lidia Prima Sidabutar/WRI Indonesia. 

Keberhasilan pelatihan tak lepas dari persiapan yang matang. Sandi, Silfi, Dyas, dan Sultan sebagai fasilitator muda  saling melengkapi peran, ada yang membuka sesi, mengatur waktu, membagi penjelasan materi, hingga memandu diskusi. Kerja sama menjadi kunci, sekaligus cermin bahwa edukasi lingkungan dapat dibangun melalui kolaborasi. 

img_1016
Antusias peserta saat dibuka kesempatan tanya jawab dengan kelompok yang sedang presentasi dalam sesi “Dapur Tanpa Sisa”. Kredit foto: Lidia Prima Sidabutar/WRI Indonesia. 

Dari Nyengseret ke Gedebage: Semangat yang Menyebar

Di sudut lain Kota Bandung, geliat serupa juga terjadi. Di Kecamatan Gedebage, Fitri, anggota PKK Kecamatan Gedebage juga memimpin sesi pelatihan dengan pendekatan yang tak kalah hangat.

Fitri yang sudah menjadi anggota PKK sejak 2022, tergabung dalam kelompok kerja dengan fokus utamanya pada isu lingkungan dan pengelolaan sampah rumah tangga. "Awalnya saya tidak tahu bakal menjadi fasilitator. Tapi ternyata menarik juga, ya. Saya jadi mau berbagi pengalaman ini ke kader PKK dan Posyandu lainnya," ujar Fitri bersemangat.

Dengan sepuluh peserta pelatihan yang terdiri dari kader PKK dan Posyandu, sesi berjalan interaktif. Bagi Fitri, sesi tersebut menjadi momen personal yang penting. Ia tidak hanya menyampaikan materi teknis soal pengelolaan sisa pangan dan sampah makanan, tapi juga melatih kepercayaan dirinya.

Dalam pelatihan itu, Fitri mendorong partisipasi aktif setiap peserta melalui diskusi dan permainan. Ia bahkan bertekad untuk mengusulkan pelatihan serupa di tingkat kecamatan agar dampaknya menjadi lebih luas.

Melalui pelatihan ini, semangat Sandi, Silfi, Dyas, Sultan, dan Fitri diharapankan dapat menular ke orang muda yang hadir untuk mendalami Modul Edukasi Pengelolaan Sisa Pangan dan Sampah Makanan Rumah Tangga. 

Fitri
Salah satu kelompok dalam sesi materi oleh Fitri menjelaskan perannnya dalam sistem pangan apabila menjadi pedagang pasar. Kredit foto: Bergita Lipu/WRI Indonesia 
Usai Pelatigan
Seusai sesi pelatihan, Fitri (paling kanan) berfoto bersama para partisipan yang terdiri dari anggota PKK dan Posyandu, serta perwakilan konsorsium WRI Indonesia. Kredit foto: Bergita Lipu/WRI Indonesia. 

Cikal Bakal Pembekalan Para Orang Muda

Beberapa bulan sebelumnya, Sandi, Silfi, Dyas, dan Sultan adalah peserta pelatihan modul pengelolaan sisa pangan dan sampah makanan di bawah program Urban Futures, yang dilaksanakan oleh konsorsium WRI Indonesia.

Dalam pelatihan tersebut, para peserta tidak hanya menerima paparan teknis tentang dampak sisa pangan dan cara pengelolaannya di tingkat rumah tangga. Mereka juga dilatih untuk menjadi fasilitator, seperti memimpin simulasi permainan, mengelola dinamika kelompok, serta melakukan aktivitas-aktivitas ringan dan interaktif untuk mencairkan suasana diskusi.

Pembekalan ini dirancang bukan sekadar untuk mentransfer pengetahuan, melainkan juga membentuk fasilitator muda yang mampu menggerakkan komunitasnya. Hasilnya terlihat jelas: dari ruang pelatihan, mereka melangkah menjadi agen perubahan di wilayah masing-masing.  

img_0141
Sandi dan Silfi baru saja mendapatkan paket modul edukasi beserta kartu-kartu permainannya. Mereka kemudian mempelajari beberapa jenis kartu dampak. Kredit foto: Lidia Prima Sidabutar/WRI Indonesia. 
img_0115
Salah satu permainan ice breaking yang diperkenalkan adalah menulis angka dengan gerakan tubuh. Angka yang perlu ditulis adalah dari 1 hingga 10. Kredit foto: Lidia Prima Sidabutar/WRI Indonesia. 

Apa yang terjadi di Nyengseret dan Gedebage menunjukkan bahwa perubahan sering kali dimulai dari ruang-ruang kecil, balai warga, aula kelurahan, atau pertemuan PKK. Isu sisa pangan dan sampah makanan mungkin terdengar sederhana, tetapi dampaknya nyata terhadap lingkungan kota.

Harapannya, pelatihan ini tidak berhenti pada 40 orang muda di Nyengseret atau 10 kader PKK di Gedebage. Seperti yang disampaikan Sandi, semoga pengetahuan ini tidak hanya didengar, tetapi juga dipraktikkan. Pengetahuan yang dibagikan diharapkan hidup di dapur-dapur rumah, dalam percakapan keluarga, dalam kegiatan komunitas, bahkan dalam diskusi tentang masa depan lingkungan Kota Bandung.

Sebab perubahan perilaku sehari-hari, sekecil apa pun, dapat menjadi fondasi bagi kota yang lebih berkelanjutan.  

-----------------------------------------------------------------

Artikel ini dapat tersusun berkat dukungan dari Yayasan Humanis dan Invoasi Sosial melalui program Urban Futures. 

Featured WRI Experts:
Lidia Prima Sidabutar -

Communication Officer for Food Systems