Menjelang peringatan Hari Laut Sedunia, 8 Juni 2026.

***

Pendahuluan

Sulit untuk menepis bahwa sektor akuakultur di Indonesia, khususnya budidaya udang, adalah sumber nilai ekonomi yang signifikan bagi negara ini. Selama dua dekade terakhir, hasil panen budidaya udang meningkat: dari 150.000 ton pada 2000 menjadi hampir 1 juta ton pada 2021. Sejak 2016, Indonesia konsisten menduduki posisi nomor empat sebagai eksportir udang beku terbesar di dunia — di bawah India, Ekuador, dan Vietnam — dengan pangsa ekspor hingga 6-7%.

Namun, narasi perputaran ekonomi tersebut hanya sebagian dari cerita yang lebih utuh. Di sisi yang lain, saat menggunakan perspektif kesetaraan gender, disabilitas dan inklusi sosial (GEDSI), akan terlihat siapa yang mendapat manfaat, siapa yang terpinggirkan, dan siapa yang bekerja keras menopang industri akuakultur ini sehari-hari dengan segala risikonya, namun kerap terabaikan — baik dalam kebijakan maupun praktik.

Mari ambil contoh: 42 persen dari total pekerja di sektor akuakultur adalah perempuan, yang sayangnya peran dan pengaruhnya sebagian besar tidak terlihat dalam narasi kebijakan — bahkan di arena yang memiliki nilai ekonomi tinggi seperti budidaya udang. Orang muda di pesisir dan komunitas perikanan juga tetap terpinggirkan. Banyak orang muda yang bekerja di wilayah hilir budidaya udang — seperti memberi pakan, memonitor kualitas air, membersihkan jaring — jarang diakui sebagai pekerja formal. Bukan hanya upah yang kerap tak sebanding dengan beban kerja, mereka juga sering dikesampingkan dalam proses pengambilan keputusan.

Lantas, muncul pertanyaan yang lebih krusial: siapa yang benar-benar mendapatkan manfaat dari pertumbuhan ini? Mengapa banyak aktor kunci yang masih tak dianggap?

Ketidakjelasan ini akan memperluas pertanyaan menjadi apa arti dari “keberlanjutkan” itu sendiri. Sulit menjadikan pertumbuhan sebagai faktor tunggal keberlanjutan, jika orang-orang yang menopang sistem ini agar tetap berjalan masih dikerdilkan. Lewat perspektif GEDSI, inklusifitas harus menjadi bagian dari kesetaraan itu.

Mengapa GEDSI Penting dalam Budidaya Udang

Mengacu pada Badan Pangan Dunia (FAO), sektor akuakultur berpotensi besar menyediakan permintaan kebutuhan pangan global. Caranya dengan meningkat ketersediaan, nutrisi, dan keamanan pangan, sembari membuka lapangan pekerjaan. Walau dianggap membawa dampak positif secara sosial, namun fakta dampak negatif yang selama ini terdokumentasi dalam industri budidaya udang juga sulit untuk diabaikan.

Secara historis, intensifikasi tambak udang turut mendorong ekspansi lahan yang cepat dibarengi pengawasan yang lemah. Akhirnya, tekanan pada lingkungan hidup kian berat. Habitat mulai hilang, polusi limbah di mana-mana, ekologi pun terdegradasi. Tak hanya itu, studi menunjukkan bahwa ekspansi tambak udang besar-besaran justru menggusur mata pencaharian masyarakat lokal.

Ragam tekanan ekologis ini, tentu saja, kerap berujung pada marjinalisasi sosial. Saat tambak udang berekspansi ke wilayah pesisir, masyarakat lokal akan rentan tergusur — khususnya mereka yang selama ini ekonominya bertumpu pada ekosistem mangrove secara subsisten. Para perempuan pun terdampak. Mereka harus menyeimbangkan kegiatan keperawatan anak dan keluarga, sembari mengumpulkan kerang dan kepiting dari mangrove untuk menambah pemasukan rumah tangga. Saat ekosistem mangrove rusak karena polusi tambak udang, semua sumber pangan yang vital ini hilang, meninggalkan para keluarga yang rentan secara ekonomi dan kesehatan.

Salah satu tanggul petambak warga Banyuwangi.
Salah satu titik tembok tanggul di area tambak udang milik warga di Desa Wringinputih, Kecamatan Muncar, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, yang jebol akibat banjir rob derasnya kenaikan air laut. Kredit: Farhan Amanullah/WRI Indonesia

Dari sudut pandang sosial yang lebih luas, tambak udang intensif sering mengabaikan hak asasi manusia, termasuk hak pekerja, distribusi sumber daya yang setara, dan akses serta partisipasi yang lebih bermakna untuk masyarakat lokal dalam rantai nilai keseluruhannya — khususnya para kelompok rentan seperti perempuan, kaum muda, dan masyarakat adat. Sejumlah studi menemukan bahwa tambak udang skala besar kerap menggusur paksa dengan kekerasan para pemilik tanah, sementara studi lainnya menyoroti kerentanan pemilik tambak skala kecil yang sering terpinggirkan dari pasar ekspor dan minim modal untuk menghadapi bencana alam.

Sejumlah masalah ekologi, sosial ekonomi, dan hak asasi manusia ini tidak berdiri sendiri. Mereka mencerminkan celah tata kelola struktural yang lebih mendalam. Kurangnya peningkatan kapasitas sosial dan gender, dibarengi dengan peminggiran aspek sosial dan budaya demi menggenjot perdagangan dan teknologi, semakin mempertebal masalah ini. Hambatan kelembagaan dan ego sektoral juga membuat masalah-masalah di atas makin sulit diselesaikan.

Akhirnya, ragam masalah struktural ini memproduksi hasil tambak udang yang lemah dan tidak merata. Ia juga menggambarkan bagaimana model tambak udang hari ini sering mereproduksi relasi kuasa yang tak seimbang dan kerentanan yang makin parah. Itulah mengapa GEDSI tak bisa hanya berdiam diri di pinggiran, namun harus menjadi bagian penting di sektor tambak udang. Tanpa tata kelola yang ramah gender, inklusif, dan kepekaan sosial, sistem tambak udang berisiko hanya mereproduksi sekaligus membiarkan ketimpangan.

Sejumlah contoh dari riset kami menunjukkan bagaimana ketidakadilan ini adalah gambaran keseharian yang nyata. Perempuan dan kaum muda kerap menopang isi dapur rumah tangga di tengah hilangnya produksi hasil tambak udang akibat krisis iklim. Sayangnya, posisi mereka kerap tak dianggap dan tak dilibatkan dalam pengambilan keputusan. Mereka makin tersekat untuk berpartisipasi secara bermakna dalam tambak udang.

GEDSI sebagai Lensa Transformasi

Oleh karena itu, penting untuk memahami bahwa memasukkan unsur GEDSI bukan hanya perkara moral etis, namun juga strategi jitu yang lebih luas. Sistem yang inklusif akan berdampak pada efektifitas tata kelola sumber daya, mendukung daya tahan penghidupan, juga memperluas kemampuan masyarakat untuk adaptif terhadap krisis iklim.

Bagi WRI Indonesia yang tergabung dalam sebuah kerja konsorsium bersama Konservasi Indonesia (KI) dan Univeritas Padjajaran (Unpad), pemahaman ini membawa implikasi penting untuk bagaimana kami meramu, melibatkan, dan mengimplementasikan budidaya udang cerdas iklim di Indonesia. Dalam konsorsium bernama Leveraging Climate-Smart Shrimp Aquaculture Solutions in Indonesia (LEAPS), kami menekankan pentingnya memasukkan perspektif GEDSI dalam budidaya udang cerdas iklim.

Kami sadar betul bahwa pendekatan “cerdas iklim” yang konvensional terdengar teknokratik dan selalu berorientasi pada target atau efisiensi teknis. Agar bisa efektif dan adil, pendekatan ini harus dilengkapi dengan rencana yang responsif gender, pengambilan keputusan yang inklusif, dan redistribusi kekayaan serta peran kerja. Jika tidak, maka akan sia-sia. Banyak temuan literatur menunjukkan adaptasi teknologi sering gagal untuk melibatkan perempuan, karena tidak sesuai dengan konteks sosial mereka sendiri. Adaptasi program juga sering tidak menyentuh mereka yang termasuk dalam kelompok rentan. Ditambah, inovasi teknologi sendiri jarang mengubah ketimpangan struktural secara mendasar.

Pola-pola ini juga terlihat jelas saat kami riset lapangan. Ketimpangan di tambak udang bukan sesuatu yang abstrak. Ia terlihat dalam aspek keseharian. Contohnya, meski semua petambak udang skala kecil dalam riset kami adalah laki-laki, perempuan punya peran yang krusial dari sisi logistik, pengumpulan usai panen, dan membantu pendapatan tambahan rumah tangga. Namun, tetap saja, mereka masih terpinggirkan dalam pengambilan keputusan formal. Partisipasi orang muda sering terbatas. Dengan hanya segelintir petambak di bawah umur 30, keadaan ini makin menggambarkan akses kaum muda terbatas di sektor ini.

Pelatihan survei WEFI
Sejumlah peserta saat penguatan kapasitas survei Women's Empowerment in Fisheries Index (WEFI) yang dilakukan di Banyuwangi pada Februari 2026. Kredit: Farhan Amanullah/WRI Indonesia

Produksi udang yang terhambat akibat ketidakjelasan iklim juga makin memperparah ketimpangan ini. Pasalnya, tekanan finansial dan kerja sehari-hari antara laki-laki, perempuan, dan kaum muda tentu akan sangat berbeda. Sejumlah poin penting mengapa GEDSI harus digunakan, bukan hanya untuk analisis sektor tambak udang, namun juga untuk meramu dan mengimplementasikan semua kerja-kerja tambak udang cerdas iklim kami. 

Memanfaatkan GEDSI telah memperkuat desain program dan aktifitas yang ada, dengan menyibak dinamika kuasa berbasis gender dan memetakan akar masalah ketimbangan dalam tambak udang dalam lokasi utama riset kami. Terlebih, pendekatan GEDSI membantu kami membangun proses kolaborasi dengan masyarakat lokal. Bersama masyarakat lokal, kami menganalisis solusi untuk tambak udang cerdas iklim, mendorong partisipasi inklusif dengan komunitas rentan (seperti perempaun dan kaum muda), serta memadukan praktik berbasis alam yang mudah diakses. GEDSI ingin memastikan bahwa upaya adaptasi tak hanya meningkatkan kinerja teknis, namun juga partisipasi bermakna, serta memperkuat sejumlah langkah perlindungan bagi komunikasi lokal.

Tak hanya itu, pendekatan GEDSI juga mendorong perubahan institusional di antara sesama anggota konsorsium. Lewat pelatihan dan lokakarya, pendekatan GEDSI telah memperkuat kapasitas organisasional dan memastikan kesetaraan gender diprioritaskan ke seluruh aspek program ini. Kami makin tersadar bahwa perubahan yang bermakna dibutuhkan tak hanya oleh komunitas masyarakat, namun juga dalam organisasi yang merancang dan mengimplementasikan upaya budidaya cerdas iklim.

Akhirnya, GEDSI menjadi sangat krusial untuk membawa perubahan transformatif ke masyarakat lokal. GEDSI ini tak hanya relevan untuk implementasi program, namun juga bisa diadaptasi untuk mendorong ekonomi biru yang lebih inklusif atau transisi berkeadilan di sektor akuakultur. Satu contoh konkret yang perlu dipelajari adalah implementasi budidaya cerdas iklim di Bangladesh yang menggunakan lensa GEDSI. Mereka menyoroti meningkatnya peran perempuan dalam keputusan rumah tangga, sembari kemampuan untuk berkontribusi atas ketahanan pangan dan pendapatan rumah tangga juga terus meningkat. Sejumlah perubahan dalam pengambilan keputusan ini dikaitkan oleh para peserta lewat peningkatan pengetahuan dan keterampilan praktis para perempuan dan akses langsung mereka untuk mengambil alih aset produktif utama, seperti benih ikan.

Contoh tersebut menunjukkan ketika GEDSI diterapkan, manfaat yang didapat jauh melampaui target program itu sendiri. Hal ini bisa membentuk kembali sistem, mendistribusikan kembali kekuasaan, dan membawa arena akuakultur ke ranah yang lebih inklusif.

Konklusi: Dari Pinggiran Menuju Inklusi

Oleh karena itu, GEDSI bukan fitur tambahan. Ia adalah pondasi untuk mencapai sistem akuakultur yang setara dan berdaya tahan iklim. Mengintegrasikan prinsip-prinsip GEDSI sangat esensial bagi keberlanjutan itu sendiri. Harus ada upaya prioritas untuk mereka yang selama ini terpinggirkan. Perempuan, kaum muda, masyarakat adat, dan komunitas lokal memiliki pengetahuan, kemampuan, dan pengalaman hidup yang penting untuk membuat budidaya udang lebih berumur panjang. Ini semua tak hanya soal keadilan, namun juga keefektifan. Untuk menerjemahkan ini semua ke dalam praktiknya, kami mendesak para pembuat kebijakan, peneliti, dan praktisi untuk membawa kerangka kerja GEDSI dalam tata kelola akuakultur.

Penguatan IPAL
Sejumlah peserta dalam penguatan kapasitas pengelolaan kelembagaan Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) yang dilakukan di Desa Wringinputih pada Mei 2026. Kredit: Farhan Amanullah/WRI Indonesia

Kami mencontohkan semua ini dengan penguatan kapasitas dan pendekatan yang responsif terhadap gender dalam program budidaya, seperti mengakui dan menyoroti kerja dan kepengasuhan perempuan yang kerap tak terlihat dan menyediakan literasi keuangan berperspektif gender atau dukungan keuangan untuk akses kaum muda ke budidaya. Kami memastikan presentasi GEDSI yang bermakna dalam institusi lokal untuk memperluas kuasa pengambilan keputusan di antara pemangku kepentingan budidaya, termasuk mendorong partisipasi perempuan dan kaum muda dalam Kelompok Usaha Bersama (KUB) atau pengembangan koperasi budidaya udang yang memusatkan partisipasi perempuan dan kaum muda.

Dan terakhir, adalah dengan mengembangkan kerangka pengukuran yang jelas untuk memantau inklusifitas GEDSI dalam seluruh kebijakan, aturan, dan praktik organisasi. Melalui sejumlah pendekatan ini, GEDSI bisa bergerak jauh melampaui konsep teoritis dan membawa sektor akuakultur di Indonesia jauh lebih inklusif dan berkelanjutan.[]

Featured WRI Experts:
Carolina Astri -

Gender Equality, Disability, and Social Inclusion Senior Specialist

Lihat juga:
Laut