Poin penting
  • Keputusan sederhana tentang makanan dapat memengaruhi kesehatan keluarga, kondisi lingkungan, dan perekonomian rumah tangga. Di balik berbagai keputusan tersebut, perempuan kerap menjadi penggerak utamanya.

  • Agar berbagai upaya yang berawal dari rumah tangga dan komunitas dapat berkembang serta menghasilkan dampak yang lebih luas, diperlukan lingkungan yang mendukung keberlanjutan praktik-praktik baik tersebut.

Acap kali, perubahan dalam sistem pangan dibahas pada tingkat besar, seperti kebijakan dan industri. Padahal, fondasi perubahan justru tumbuh dari level terkecil, yaitu rumah tangga. Dari dapur dan meja makan, keputusan tentang apa yang dibeli, dimasak, dan dihidangkan setiap hari membentuk kebiasaan dan pola hidup sehat keluarga. Hal ini juga sekaligus berdampak pada lingkungan dan ekonomi. Di ruang inilah perempuan memegang peran utama.

Riset menunjukkan bahwa perempuan, terutama ibu dan nenek, berperan besar dalam keputusan pangan keluarga. Peran tersebut bukan hanya soal memasak, tetapi juga mengatur anggaran, memilih bahan, serta membentuk kebiasaan dan pola makan anak. Dalam praktiknya, peran ini bersifat kompleks dan dijalankan dalam keseharian keluarga, melalui pengetahuan, pengalaman, serta kebiasaan yang terus berkembang dan dibagikan antar anggota keluarga.

Pengetahuan ibu tentang gizi seimbang juga berpengaruh langsung pada kualitas hidup keluarga, terutama pada anak yang sedang tumbuh. Penelitian menunjukkan bahwa keterampilan ibu dalam pengelolaan makanan di rumah tangga berkaitan erat dengan peningkatan status gizi anak dan berkontribusi pada pencegahan gizi buruk, stunting, serta penyakit terkait gizi lainnya. Dalam berbagai kesempatan, terbukti banyak sosok perempuan yang menjadi kunci dari perubahan.

Pengalaman Britania Sari, seorang ibu dan guru bahasa Prancis, menunjukkan bagaimana kepedulian terhadap lingkungan sekitar dapat berkembang menjadi upaya penyediaan pangan. Saat pandemi Covid-19, ia mulai membagikan bahan pangan segar kepada warga, sekaligus mendorong penggunaan dapur rumah tangga sebagai sumber makanan bergizi.

Inisiatif ini kemudian berkembang menjadi kebun warga. Bersama suaminya, Sari mengajak warga memanfaatkan halaman rumah untuk menanam sayuran seperti bayam, kangkung, rimpang, dan lain sebagainya. Sari juga giat beternak ayam dengan pakan dari buah dan sayuran layu yang diambil dan diberikan gratis oleh pedagang langganan di pasar. Hasil kebun, ternak, dan bahan pangan murah ini menjadi sumber utama penyediaan pangan.

Britania Sari (kiri) dan ibu-ibu tetangga yang mengelola kebun.
Britania Sari (kiri) dan ibu-ibu tetangga yang mengelola kebun. Kredit foto: Britania Sari

Awalnya, Sari membiayai program ini secara mandiri. Dalam perkembangannya, program ini diperkuat melalui donasi publik. Pangan yang dihasilkan kemudian dibagikan secara gratis melalui pembagian rutin paket pangan kepada ibu hamil dan menyusui, balita, serta keluarga prasejahtera. Paket tersebut berisi sayur, telur, tahu,tempe, buah, dan bahan pangan lain yang menunjang gizi keluarga. Selain membantu warga agar lebih mudah mendapatkan makanan bergizi, kegiatan ini juga menjadi ruang edukasi bagi keluarga dalam mengelola pangan sehat.

Contoh lain terlihat dalam pelatihan bagi kader Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (PKK) di Kota Bandung yang diselenggarakan oleh WRI Indonesia melalui program Urban Futures. Dalam ruang pelatihan, para peserta hadir sebagai kader, sekaligus sebagai ibu dan penggerak lingkungan. Mereka membagikan pengalaman mengurangi sisa pangan dari dapur masing-masing. Ada peserta yang menceritakan bagaimana sisa nasi dapat diolah kembali menjadi camilan. Ada pula yang mendaur ulang minyak jelantah menjadi sabun atau produk lain agar tidak langsung dibuang. Bahkan bagian tanaman yang sering dianggap limbah, seperti bonggol nanas atau kulit buah, dimanfaatkan kembali untuk ditanam atau diolah menjadi mikroorganisme lokal yang berguna bagi tanaman.

Para kader PKK saat mempresentasikan kiat-kiat mengolah sisa pangan.
Para kader PKK saat mempresentasikan kiat-kiat mengolah sisa pangan. Kredit foto: Annisa Nindyarini/WRI Indonesia

Tim WRI Indonesia sendiri juga menerapkan kebiasaan tersebut dalam keseharian mereka. Sri Noor Chalidah, Food System Senior Lead di WRI Indonesia misalnya. Noor berupaya membangun kebiasaan makan sehat di keluarganya dengan rutin memasak menggunakan bahan segar dan lokal yang ia beli setiap minggu dari tukang sayur maupun pasar terdekat. Ia sering menyiapkan makanan sejak pagi, bahkan memasak beberapa hidangan terlebih dahulu sebelum bepergian dinas agar tetap dapat dikonsumsi oleh suami dan anaknya. Dukungan ibunya juga membantu menjaga kebiasaan tersebut ketika ia sedang tidak berada di rumah.

Kesadaran ini berawal dari pengalaman pribadi Noor ketika anaknya belum mampu mencapai berat badan ideal. Meski sudah berupaya menyiapkan makanan bergizi seimbang, hasilnya tidak langsung terlihat dalam jangka pendek. Pengalaman itu membuat Noor melihat dampak kesehatan dari sudut pandang ekonomi. Ia menyadari bahwa penyakit tidak hanya menimbulkan biaya pengobatan yang besar, tetapi juga berbagai biaya tidak langsung. Ketika kesehatan dan tumbuh kembang anak terganggu, keluarga dapat menghadapi kebutuhan perawatan tambahan, kehilangan waktu kerja, serta pengeluaran kesehatan yang lebih besar dalam jangka panjang. Karena itu, baginya memilih makanan sehat sejak awal merupakan investasi yang masuk akal.

Sri Noor Chalidah bersama Raidan, anaknya, saat mengisi sebuah acara di Kota Bandung.
Sri Noor Chalidah bersama Raidan, anaknya, saat mengisi sebuah acara di Kota Bandung. Kredit foto: Annisa Nindyarini/WRI Indonesia

Pandangan tersebut juga diperkuat oleh riset yang ia pelajari, khususnya terkait fenomena global dietary convergence, perubahan pola makan global yang semakin seragam namun cenderung tidak sehat. Berbagai studi menunjukkan bahwa pola makan tersebut dapat meningkatkan risiko penyakit tidak menular, termasuk kanker. Temuan ini semakin menegaskan baginya bahwa menjaga pola makan sehat sejak dini merupakan keputusan rasional, baik dari sisi kesehatan maupun konsekuensi ekonomi jangka panjang.

Berbagai cerita di atas menunjukkan bahwa perubahan dalam sistem pangan sering kali berawal dari praktik sederhana di rumah. Dapur menjadi ruang penting tempat kebiasaan makan, cara mengelola pangan, dan nilai tentang kesehatan keluarga dibentuk. 

Memperbesar Dampak Nyata

Kebiasaan-kebiasaan yang dimulai dari rumah terkesan kecil, tetapi sebenarnya bisa berdampak sangat besar. BJ Fogg (2020) dalam bukunya menegaskan bahwa dengan membangun kebiasaan kecil akan tercipta jalan menuju kebiasaan-kebiasaan yang jauh lebih besar. Karenanya, pilihan para ibu untuk membangun kebiasaan makan berkesadaran dari rumah seperti mengurangi makanan olahan atau memanfaatkan bahan pangan segar, bisa mendorong kebiasaan yang lebih besar di luar rumah.

Agar upaya-upaya “kecil” di atas dapat berkembang dan memberi dampak yang lebih besar, diperlukan kondisi yang memungkinkan praktik baik dari rumah tangga dan komunitas ini tumbuh secara berkelanjutan.

Pertama, kita perlu memperluas partisipasi perempuan dalam pengambilan kebijakan terkait pangan. Penelitian menunjukkan bahwa keterlibatan perempuan dalam pengambilan keputusan rumah tangga berkaitan erat dengan hasil gizi anak dan ketahanan pangan keluarga. Rumah tangga yang melibatkan perempuan dalam keputusan penting memiliki risiko malnutrisi anak yang lebih rendah dibandingkan rumah tangga yang tidak melibatkan perempuan. Karena itu, proses perencanaan program pangan perlu membuka ruang partisipasi perempuan secara lebih inklusif agar kebijakan yang diambil lebih tepat sasaran.

Kedua, para pihak, termasuk pemerintah, penyedia layanan kesehatan dan pendidikan, dunia usaha, serta komunitas, perlu menciptakan dukungan struktural bagi keluarga pada masa awal kehidupan anak. Seribu hari pertama dalam perkembangan kehidupan anak merupakan periode penting untuk membangun kebiasaan makan sehat mereka. Kebijakan yang memberi ruang bagi orang tua untuk mendampingi masa tumbuh kembang anak, seperti cuti melahirkan yang memadai atau kebijakan bekerja dari rumah, dapat membantu keluarga menanamkan pola makan sehat sejak dini sekaligus memperkuat kesehatan jangka panjang.

Ketiga, perlu untuk menyebarkan lebih banyak cerita tentang praktik baik yang dilakukan para perempuan agar menginspirasi lebih banyak orang. Pengaruh sosial merupakan salah satu faktor utama dalam perubahan perilaku terkait kesehatan. Oleh karena itu, media sosial dapat dimanfaatkan untuk berbagi cerita dan pengalaman untuk memperluas informasi terkait praktik baik yang selama ini berkembang secara informal dan terbatas, sekaligus mendorong lahirnya inisiatif serupa di berbagai tempat. Namun, penting untuk tetap bijak dalam menyaring sumber dan mengacu pada informasi tepercaya agar pemahaman tentang pangan bergizi tetap relevan dengan konteks lokal.

Perempuan memiliki peranan yang tak tergantikan dalam sistem pangan. Namun, upaya membangun sistem pangan yang lebih sehat dan berkelanjutan tidak boleh bertumpu pada perempuan saja. Pengelolaan pangan di tingkat rumah tangga, misalnya, secara ideal perlu menjadi tanggung jawab bersama dalam keluarga. 

Penelitian menunjukkan bahwa keterlibatan ayah dalam aktivitas makan keluarga dan pemberian makanan anak dapat memengaruhi pola makan dan kebiasaan nutrisi anak dan keluarga. Ketika tanggung jawab ini dipikul bersama, ditambah dengan dukungan dari pembuat kebijakan dan pemangku kepentingan lainnya, perubahan yang dimulai dari dapur rumah tangga dapat menjadi fondasi yang lebih kuat bagi masa depan sistem pangan yang lebih adil, sehat, dan berkelanjutan.

Featured WRI Experts:
Annisa Nisitha Nindyarini -

Communications Officer

Sakinah Ummu Haniy -

Senior Communications Coordinator

Lihat juga:
pangan perempuan