Di Tengah Ramainya Wisata, Orang Muda Labuan Bajo Punya Peran dalam Mengurangi Sisa Pangan dan Sampah Makanan
Pagi hari di Marina Labuan Bajo dimulai oleh aktivitas para turis dan masyarakat lokal yang bersiap memulai petualangan. Sejak pukul lima pagi, kapal-kapal berangkat membawa para penumpang menuju perjalanan live on board maupun one day trip ke pulau-pulau di sekitar Taman Nasional Komodo. Di sela hiruk-pikuk keberangkatan itu, tampak warga lokal berjalan membawa kotak-kotak makanan. Mereka lalu menyerahkannya kepada penyelenggara perjalanan tur sebagai santapan para wisatawan yang akan mengarungi laut seharian penuh.
Tak jauh dari pelabuhan, restoran dan kafe pun mulai ramai dikunjungi wisatawan. Menu yang disajikan mereka beragam, mulai dari masakan khas Nusa Tenggara Timur (NTT) hingga hidangan bercita rasa mancanegara.
Namun, di balik keriaan dan perekonomian yang bergerak cepat, Labuan Bajo sebagai salah satu destinasi wisata favorit di Indonesia, menyimpan ancaman yang jarang dibicarakan: meningkatnya timbulan sisa pangan dan sampah makanan (food waste).
Riset awal WRI Indonesia bersama Garda Pangan, di bawah program Urban Futures, menemukan bahwa timbulan sisa pangan dan sampah makanan di Labuan Bajo pada 2024 diperkirakan mencapai 4.836.496 kg1. Dalam riset itu, penghasil terbesar sampah ternyata bukanlah hotel, kafe, restoran, atau kapal wisata, melainkan berasal dari sampah rumah tangga.
Hal ini pun menyisakan pertanyaan: siapakah yang harusnya peduli?
Jawabannya tentu adalah kita semua. Namun, orang muda Labuan Bajo memiliki peran penting untuk menjadi penggerak. Hal ini bukan berarti tanggung jawab hanya dibebankan kepada orang muda saja, melainkan menegaskan bahwa orang muda berada di titik antara kondisi saat ini dan masa depan. Sebagai generasi yang lebih akrab dengan teknologi dan aktif berjejaring, orang muda memiliki keunggulan untuk mendorong adanya perubahan.
Meski demikian, keunggulan dan potensi tersebut tidak bisa berdiri sendiri. Perubahan bisa terjadi apabila ada kolaborasi lintas generasi untuk menciptakan ekosistem pengelolaan sisa pangan dan sampah makanan yang lebih tangguh, inklusif, dan berkelanjutan.
Berangkat dari potensi ini, konsorsium WRI Indonesia menyelenggarakan pelatihan modul edukasi pengelolaan sisa pangan dan sampah makanan di tingkat rumah tangga untuk 55 orang muda, yang terdiri dari mahasiswa Politeknik El Bajo dan perwakilan dari berbagai komunitas desa di sekitar Labuan Bajo. Pelatihan ini hadir untuk membekali mereka dengan pengetahuan dan keterampilan dalam mengelola sisa pangan dan sampah makanan di lingkungan masing-masing.
Dalam pelatihan ini, para peserta juga dikenalkan oleh modul edukasi yang merangkum tiga prinsip dasar perubahan perilaku: cegah, pilah, dan olah.
Mencegah di Lima Titik
Penelitian yang dilakukan konsorsium WRI Indonesia bersama Garda Pangan dan Advislab di bawah program Urban Futures, menunjukkan bahwa makanan paling sering terbuang pada lima tahap, yakni: perencanaan, pembelanjaan, penyimpanan, pengolahan, dan konsumsi.
Pada tahap ini, para peserta diajak untuk mengidentifikasi dampak dari perilaku yang mereka lakukan, mulai dari memproduksi hingga mengonsumsi makanan, serta bagaimana setiap keputusan dapat berkontribusi pada timbulan sisa pangan dan sampah makanan. Untuk membantu memahami dampaknya, peserta diajak bermain “Rantai Dampak,” sebuah permainan yang menghubungkan keputusan kecil dengan akibatnya terhadap lingkungan.
Semua peserta berdiri melingkar, fasilitator lalu melemparkan bola kecil kepada salah satu peserta untuk memulai permainan. Peserta yang terpilih harus membacakan kartu pertama sebagai keputusan awal. Kemudian, ia berhak untuk melemparkan bola itu ke peserta yang lain, dan peserta berikutnya harus menjelaskan dampak dari keputusan yang disebutkan sebelumnya.
“Kalau buang-buang makanan, biasanya jadi bau,” ujar Hugo, salah satu mahasiswa Politeknik El Bajo saat mendapatkan bola lemparan dari temannya.
Permainan ini merefleksikan satu hal penting: tidak ada tindakan yang berdiri sendiri. Setiap keputusan, akan meninggalkan jejak dan dapat berdampak pada orang lain serta lingkungan sekitar kita. Dengan memahami keterkaitan antara keputusan, dampak, dan sistem yang ada, para peserta didorong untuk mengambil langkah yang lebih bijak dalam kehidupan sehari-hari, khususnya dalam mencegah dan mengurangi sisa pangan serta sampah makanan.
Pahami Jenisnya Dahulu, Pilah Sampah Kemudian
Tahap berikutnya, peserta diajak untuk memahami perilaku mitigasi dari timbulan sisa pangan yakni dengan memilahnya. Sebelum bisa memilah dengan benar, peserta diajak untuk dapat mengenali jenis-jenis sampah. Dalam konteks permainan yang dikembangkan dalam penelitian ini, konsorsium WRI Indonesia membagi sampah berdasarkan tiga jenis, yakni sampah organik, sampah anorganik, dan sampah berbahaya.
Melalui permainan kedua, peserta diajak untuk bermain “Misi Nol Sisa Pangan dan Sampah Makanan”. Para peserta dibagi menjadi lima kelompok peran: petani, ibu rumah tangga, pelajar, pedagang, dan petugas kebersihan. Kelima kelompok peran ini melambangkan peran-peran dalam rantai produksi, konsumsi, hingga hilir yakni pembuangan sampah dalam sistem penyediaan makanan. Dengan begitu, peserta diharapkan dapat memahami kontribusi masing-masing dalam sebuah sistem pangan, khususnya dalam mengelola sisa pangan dan sampah makanan di tingkat rumah tangga.
Setiap kelompok diminta untuk membuat daftar kegiatan yang biasa mereka lakukan. Kelompok “Keluarga Cemara” misalnya, yang berperan sebagai ibu rumah tangga, menyadari bahwa peran ini tidak hanya terbatas pada memasak. Mereka juga bertanggung jawab dalam merencanakan menu harian, berbelanja bahan makanan, hingga mengatur arus keuangan rumah tangga.
Presentasi kelompok ditutup dengan semangat oleh Osin, perwakilan dari Konsorsium Pangan Bernas, “Hidup ibu-ibu!” Seruan itu lalu disambut sorak antusias dari peserta lain di ruangan.
Melalui sesi ini, peserta diajak untuk memahami bahwa setiap peran memiliki kontribusi dalam sistem pangan, khususnya pengolahan sisa pangan dan sampah makanan di tingkat rumah tangga. Harapannya, semangat dan sorak sorai dari para peserta saat menyambut Osin juga bisa diterjemahkan ke dalam proses memilah sisa pangan dan sampah makanan di tingkat rumah tangga.
Mengolah Eco-Enzyme
Memasuki tahapan terakhir, peserta diajak memahami bahwa sisa pangan dan sampah makanan yang mereka hasilkan setiap hari sebenarnya masih bisa dimanfaatkan. Kali ini, pembelajaran disampaikan lewat sebuah permainan interaktif bernama “Dapur Tanpa Sisa,” mereka mempelajari cara mengolah bahan pangan yang berpotensi rusak.
Selain mengidentifikasi jenis sampah, peserta juga diminta untuk mendiskusikan langkah apa yang bisa dilakukan agar bahan pangan yang berpotensi rusak tidak menjadi sampah makanan yang terbuang begitu saja. Salah satu kelompok peserta misalnya, mendapat skenario rapat kampus dengan jumlah peserta yang tak sesuai perkiraan, mereka lalu memutuskan mengolah kulit nanas menjadi eco-enzyme.
“Kelompok kami akan mengolah kulit nanas menjadi eco-enzyme, lalu eco-enzyme tersebut akan dimanfaatkan untuk tanaman di sekitar kampus,” ujar Ina, salah satu mahasiswa Politeknik El Bajo, saat mempresentasikan hasil diskusi kelompoknya.
Eco-enzyme dibuat dengan perbandingan 3 : 1 : 10 antara sisa atau sampah buah, gula merah, dan air. Eco-enzyme sendiri adalah sebuah senyawa alami yang bisa didapatkan dari kulit atau limbah buah setelah difermentasikan. Limbah ini diketahui mengandung berbagai nutrisi penting untuk tanaman dan kesehatan tanah.
Melalui permainan ini, setiap peserta dapat memaksimalkan nilai dari setiap bahan pangan yang ada. Permainan ini juga menekankan bahwa tidak semua sisa dari bahan pangan adalah sampah, masih banyak yang bisa dimanfaatkan kembali.
Tiga prinsip perilaku sederhana, cegah, pilah, dan olah, diharapkan dapat menjadi bekal bagi para peserta untuk memulai menciptakan perubahan perilaku yang berkelanjutan dari dalam rumah mereka sendiri. Dari menghindari berbelanja berlebihan, hingga mengolah limbah menjadi eco-enzyme, setiap langkah kecil dapat mendorong perubahan ke lingkungan sekitar.
Lebih dari itu, inisiatif yang dilakukan melalui program Urban Futures ini menjadi bagian penting dari upaya membangun ketangguhan Labuan Bajo sebagai kota wisata yang terus berkembang. Di tengah arus kunjungan wisatawan dan geliat pembangunan, Labuan Bajo juga perlu siap menghadapi tantangan lingkungan yang tak kalah besar, termasuk timbulan sisa pangan dan sampah makanan. Dan dari tangan generasi muda yang berani bergerak, harapan akan kota yang indah sekaligus lestari pun tumbuh semakin nyata.**
Akses Modul Edukasi Pengelolaan Sisa Pangan dan Sampah Makanan Rumah Tangga di sini.
1Angka ini merupakan temuan awal tim konsorsium, masih dalam proses validasi dan peninjauan sehingga dapat berubah seiring dengan verifikasi lanjutan.
**Artikel ini dapat tersusun berkat dukungan dari Yayasan Humanis dan Inovasi Sosial melalui program Urban Futures.
Proyek
Urban Futures
Bagian dari Pangan, Lahan, dan Air