Artikel ini merupakan bagian dari program Pojok Belajar Rakyat Kota untuk Inisiatif Inklusif Rendah Emisi (PARKIR) Jakarta, sebuah inisiatif penelitian dan pengarsipan pengetahuan secara kolaboratif yang melibatkan perempuan, penyandang disabilitas, warga kampung perkotaan, dan orang muda untuk mengidentifikasi tantangan dan peluang mobilitas inklusif serta rendah karbon. PARKIR didukung oleh Pemerintah Inggris melalui pendanaan UK PACT (UK Partnering for Accelerated Climate Transitions).

***

Jakarta menawarkan konektivitas yang hadir sebagai konsekuensi urbanisasi-penyebaran (sprawling)–hingga pemusatan kembali. Meski kian hari sulit menjangkau hunian di ibu kota, kiranya sekarang mengakses hiburan, pertemanan, dan mencari peluang jadi lebih mudah karena hadirnya sejumlah opsi transportasi publik yang menghubungkan kota-kota eks-suburban dengan pusatnya. Itu adalah sudut pandang kami sebagai penglaju (commuter) Bodetabek yang bisa saja diuntungkan dengan kehadiran transportasi ini. 

Seiring kami memadati atau sekadar mengunjungi ruang-ruang Jakarta, kami dipertemukan dengan suatu wilayah yang bisa dibilang terletak dekat dengan jantung kota, namun rasanya seperti tersegregasi. Wilayah itu adalah Kecamatan Palmerah, salah satu kecamatan terpadat di Jakarta Barat1 dan terkategori wilayah kumuh-sedang2. 

Wilayah ini dilalui Kali Grogol yang pada tahun 1990-an pernah membanjiri permukiman warga dan telah mengalami normalisasi sungai3. Pasca normalisasi, warga mendapatkan beberapa meter lahan yang kemudian dibangun menjadi rumah hingga terbentuk gang-gang baru. Salah satu gang yang terbangun di pinggiran sungai menjadi akses kami menuju wilayah RW 8. Menariknya, sampai hari ini gang tersebut tidak tergambar pada Google Map dan cukup menyulitkan bagi yang harus menggunakan ojek/taksi daring, salah satunya adalah tim kami, Maisty, pengguna kursi roda. Terbukti di hari itu (29/9), kami semua sama-sama kesulitan untuk menentukan titik drop sekaligus penjemputan taksi Maisty.

PARKIR Jakarta

Lanskap permukiman di sekitar Konsolidasi Tanah Vertikal (KTV) Rumah Barokah Palmerah yang tepat di depan jalan gang adalah Kali Grogol yang mengalami normalisasi sungai pada masa pemerintahan Ahok. Pasca normalisasi, bantaran sungai terbangun menjadi jalan dan rumah-rumah warga.

Kredit foto: Aditya Febrian Tommy

Dalam 200 m hingga 400 m, warga lokal bisa mengakses Mikrotrans. Meski terkesan dekat, rekan kami, Mba Iis dan Pak Kartiwo yang merupakan warga lokal RW 8 Palmerah, tidak begitu sering menggunakan transportasi publik lantaran rute yang berputar-putar, keharusan memiliki kartu transportasi, dan keselamatan berkendara. Alhasil, Mba Iis memilih untuk menggunakan angkot konvensional yang tarifnya Rp5.000 (jarak dekat) hingga Rp10.000 (jarak jauh) atau mengandalkan tumpangan motor dari keluarga atau kerabatnya. Untuk aktivitas sehari-hari yang lingkupnya di wilayah RW 8, jalan kaki menjadi andalan Mba Iis. Pak Kartiwo sendiri lebih mengandalkan motor pribadinya dan sudah terbiasa berkelana jauh. Di hari-hari kerja, Pak Kartiwo bisa pergi ke area Pantai Indah Kapuk untuk kegiatan organisasinya dan di akhir pekan, beliau bisa menjangkau Bogor atau Kepulauan Seribu dengan motornya. 

Jalan sempit (gang), rumah padat, penjual makanan, hingga pasar di jalan (Pasar Pluis) menghubungkan kehidupan warga. Banyak hal yang dapat dijangkau hanya dengan berjalan kaki atau bersepeda. Tidak jarang kami berjumpa dengan anak-anak yang bersepeda atau menghampiri kawanannya untuk bermain dengan berjalan kaki. 

Sayangnya, meski wilayah Kecamatan Palmerah ini cukup mudah dijangkau tanpa kendaraan mesin, warga belum difasilitasi dengan jalan yang memadai. Tangkapan ini lebih detail saat Maisty, pengguna kursi roda, turut berjalan menyusuri RW 8 Palmerah. Jalanan aspal berbatu kecil, berlubang, beralaskan polisi tidur tinggi menjadi tantangan baginya. Dari Pasar Pluis ke arah Polsek, kami juga melalui jalan menanjak dengan kemiringan 15–20 derajat. Alhasil, Maisty membutuhkan asistensi penuh dari orang-orang untuk mendorong kursi rodanya. Jika transect walk hari itu (29/11) tidak dilakukan bersama rekan-rekan PARKIR, Maisty biasa meminta tolong siapa pun yang ada di tempat. Namun, ini bisa menjadi tantangan lainnya bila tempat tersebut sepi. 

Hasil percobaan menggunakan platform berbasis situs “Walking Catchment Analyzer” untuk mengamati keterjangkauan fasilitas umum di Kecamatan Palmerah dengan titik utamanya adalah Rumah Barokah Palmerah RW 8 (wajik merah). Amatan keterjangkauan berjalan kaki (walk distance) diambil dalam durasi 5 menit, dibandingkan 15 menit, untuk kontekstualisasi cuaca dan pengaruhnya terhadap durasi optimal pejalan kaki di Indonesia.

Jalanan menanjak juga kami temui saat mengunjungi fasilitas publik seperti Puskesmas Kecamatan Palmerah dan SDN 13 Palmerah. Uniknya, puskesmas tersebut dilengkapi jalur pemandu (guiding block) namun tidak ada ramp. Balik dari Puskesmas kecamatan Palmerah, kami berjalan menyusuri Jl. Palmerah Barat yang dilalui Mikrotrans Jak.11, Jak.12, Jak.14, dan Jak.56. Jalan ini kembali menghubungkan kami dengan Pasar Pluis dan perkampungan RW 8 Palmerah. Ketiadaan trotoar membuat perjalanan kaki kami didampingi kendaraan yang melaju cepat. Kalaupun ada trotoar, biasanya digunakan untuk parkir atau sedang dalam proyek penggalian. Tidak jarang kami diklakson, khususnya saat di tikungan SPBU hingga Politeknik Tempo. Setelahnya, kami kembali melalui Pasar Pluis dan kembali mengamati perjalanan di gang menuju SDN 13 Palmerah. 

Inclinometer PARKIR Jakarta
Mengukur kemiringan jalan menggunakan inclinometer. Kredit foto: Aditya Febrian Tommy.
Penampakan trotoar di Jalan Palmerah Barat yang merupakan jalan raya dan detik-detik kami diklakson oleh beberapa kendaraan.
Penampakan trotoar di Jalan Palmerah Barat yang merupakan jalan raya dan detik-detik kami diklakson oleh beberapa kendaraan. Kredit foto: Aditya Febrian Tommy

Selang perjalanan, Pak Tiwo bercerita bahwa pertigaan jalan Polsek Palmerah, Pasar Pluis, dan McDonalds Palmerah merupakan titik rawan banjir. Ini dikarenakan tiga jalan yang melaluinya merupakan jalan turunan dan secara keseluruhan, wilayah Kecamatan Palmerah dikelilingi sungai. Setelah melalui Pasar Pluis, kami masuk kembali melalui Gang Palem I. Jam sudah menunjukkan pukul 11.00 WIB, para pedagang sudah mulai membereskan dagangannya dan meninggalkan area pasar. Seketika hari menjadi sangat terik sehingga kami sempatkan diri untuk beristirahat di salah satu gang.

PARKIR Jakarta
Foto saat istirahat di salah satu Gang Palem. Mba Iis sempat menyapa sejumlah tetangga saat itu juga sedang kumpul tepat di depan kami. Setelah foto ini diambil, pengendara motor hendak melalui jalan. Pengendara motor tersebut adalah tetangga Mba Iis lainnya. Kredit foto: KAIN untuk WRI Indonesia.

Di SDN 13 Palmerah yang juga merupakan Pos Redkar RW 8 Palmerah, tempat Mba Iis biasa bekerja, Maisty harus digendong oleh sejumlah orang lantaran desain gerbang sekolah yang berupa undakan tangga curam.

Di samping cerita-cerita kendala bermobilitas, Mba Iis menambahkan bahwa kehadiran Pos Redkar RW 8 tidak lepas dari bencana kebakaran yang cukup rutin terjadi di kewilayahan rukun warga, bahkan di luar RW 8 sekalipun. Kehadiran Redkar RW 8 juga menjadi lebih efektif ketimbang mengandalkan pemadam kebakaran tingkat kecamatan yang lokasinya cukup jauh dari wilayah permukiman. Ini dikarenakan jarak tempuh, lalu lintas, dan moda pemadam kebakaran pada umumnya akan sulit menjangkau permukiman berbasis gang. Atas dasar berbagai prestasi, Redkar RW 8 menjadi percontohan sistem pemadam kebakaran lingkup permukiman. Fakta lainnya adalah, Mba Iis menjadi anggota perempuan pertama dan satu-satunya di Redkar RW 8 ini.

PARKIR Jakarta
Maisty menuruni anak tangga di gerbang SDN Palmerah 13 bersama warga lokal. Kredit foto: KAIN untuk WRI Indonesia.

Setelah selama hampir 1 jam 15 menit perjalanan dengan jarak tempuh 1,65 kilometer, kami kembali ke Rumah Barokah Palmerah yang merupakan rumah Pak Kartiwo. Di sana kami berdiskusi dan merefleksikan kembali pengalaman masing-masing sembari mendengar cerita-cerita lampau jauh sebelum Palmerah dibangun jalan-jalan kompleks dan dipadati penduduk. Kami menggambar kembali rute perjalanan dan menemukan beberapa gang atau jalan tidak tergambar pada peta. 

Sebagai penutup, beberapa poin penting kami setelah transect walk untuk mencermati mobilitas dan permukiman di salah satu perkampungan di pusat Jakarta adalah:

  • Pentingnya memetakan area rawan banjir dan mengecek sistem drainase di sekitar bangunan yang strukturnya berada di atas air,
  • Mengamplifikasi kembali potensi perjalanan rendah emisi dan aktif (active mobility) di permukiman padat atau perkampungan, serta 
  • Merencanakan rute bermobilitas yang terintegrasi dan dapat dijangkau secara universal bagi warga perkampungan pusat kota agar visi mobilitas rendah emisi juga dapat dilakukan bersama seluruh lapisan sosial-ekonomi masyarakat. 

1Badan Pusat Statistik “Kecamatan Palmerah dalam Angka 2024”

2ArcGIS Online

3Berdasarkan cerita Pak Kartiwo, warga RW 8 Kecamatan Palmerah yang telah menetap sejak 1960.