What can other big data initiatives seeking to combat climate change learn from Global Forest Watch? Photo credit: CIAT/Flickr
Apa yang dapat dipelajari oleh inisiatif big data lainnya, yang bergerak untuk mengatasi perubahan iklim, dari Global Forest Watch? Sumber Foto: CIAT/Flickr

Catatan Editor: Artikel ini pertama kali dipublikasikan di The Guardian.


Global Forest Watch (GFW) menggunakan data untuk mengawasi perubahan yang terjadi di hutan-hutan di seluruh dunia. Apa keuntungan yang dapat dinikmati oleh inisiatif iklim lainnya dari proyek ini?

Hutan memberikan manfaat yang seringkali jarang dihargai. Hutan menampung karbon dan mengatasi dampak dari perubahan iklim, melestarikan keanekaragaman hayati dan stabilitas ekosistem. Hutan menyediakan sumber daya yang kita semua gunakan, dan lebih dari satu miliar orang di seluruh dunia tergantung secara langsung penghidupannya kepada hutan.

Namun saat ini hutan berada dalam tekanan yang lebih besar dari yang pernah dirasakan sebelumnya. Di antara tahun 2000 dan 2012, bumi kehilangan 1.5 juta km2 tutupan hutan, sebuah wilayah yang setara dengan luas Mongolia. Pembukaan dan pembakaran hutan bertanggung jawab terhadap 12-20% emisi gas rumah kaca. Untuk merespon kondisi tersebut, sebuah deklarasi penting mengenai hutan ditandatangani di UN Climate Summit September lalu, yang berkomitmen untuk mengakhiri deforestasi pada tahun 2030. Namun masih terdapat satu tantangan besar untuk menghentikan kerusakan hutan di seluruh dunia: kurangnya data yang dapat dipercaya yang menunjukkan di mana dan kapan kerusakan hutan terjadi.

Untuk mengatasi permasalahan tersebut, kami membuat Global Forest Watch (GFW) – sebuah wadah online yang menggabungkan ratusan ribu citra satelit, pengolahan data berteknologi tinggi, dan pengumpulan informasi dari lapangan, untuk memberikan data yang diperbaharui hampir seketika mengenai hutan-hutan di seluruh dunia. Tujuan kami adalah memberikan pemerintah, perusahaan, NGO, dan masyarakat kemampuan untuk mengelola hutan dengan lebih baik, melacak deforestasi ilegal, dan lainnya.

Namun big data memiliki beberapa tantangan yang besar. Dari awal, GFW berjuang dengan kurangnya data publik, hambatan dalam berpartisipasi, dan terminologi-terminologi yang membingungkan. Menurut pengalaman kami, tantangan-tantangan tersebut biasa ditemukan dalam inisiatif-inisiatif yang menggunakan data sebagai basis inisiatifnya, dan bertujuan untuk memungkinkan penggunaan big data oleh masyarakat. Jadi saat kami melangkah lebih jauh dengan GFW, kami berniat untuk membagi beberapa pelajaran yang dapat membantu inisiatif big data lainnya yang bertujuan untuk melawan perubahan iklim.

Membangun Dukungan Terhadap Open Data

Mengelola proses pembukaan data yang sebelumnya eksklusif – seperti lokasi konsesi pertanian, tambang, dan Hak Pengusahaan Hutan (HPH) – dapat menjadi pekerjaan yang menyusahkan. GFW mengkombinasikan data tersebut dengan data kehilangan tutupan hutan yang terdeteksi oleh satelit untuk menentukan di mana aktifitas ilegal mungkin sedang berlangsung. Pemerintah dapat saja mengeluarkan statistik deforestasi resmi, namun tidak memberikan cara yang mudah bagi masyarakat untuk memverifikasi angka tersebut. Dan tanpa sejarah pembukaan data publik, bahkan negara, perusahaan, dan peneliti yang jujur sekalipun mungkin akan enggan membagi data mereka, dengan kekhawatiran bahwa mereka tidak memiliki kontrol terhadap bagaimana data tersebut digunakan.


<

figure>

Pengolahan data GFW di sebuah wilayah di Barat Daya Brasil.

<

figure>


Terlepas dari kekhawatiran tersebut, akhir-akhir ini banyak kelompok telah menyambut gagasan untuk membuka data dan membuatnya menjadi lebih transparan. Pada bulan Juni, Roundtable of Sustainable Palm Oil (RSPO) mengeluarkan melalui GFW peta publik detail pertama mengenai konsesi yang bersertifikasi, yang saat ini digunakan dalam analisis GFW. Seiring dengan kepercayaan yang didapatkan oleh gerakan open data, instrumen big data seperti GFW akan memiliki materi yang lebih banyak untuk dikerjakan.

Merangkul Mereka yang Paham Mengenai Hutan

Citra satelit dan teknik pengolahan data hanya dapat melakukan sebagian dari pekerjaan ini. GFW dibuat untuk memberikan pengguna kesempatan membagi data mereka agar mendapatkan konteks lokal, seperti: peta wilayah yang dilindungi, konsesi, atau kepemilikan lahan, atau penjelasan ringkas mengapa hutan-hutan menghilang, tumbuh kembali, atau terjaga di suatu wilayah. Namun demikian, terlepas dari ratusan ribu pengunjung di website GFW, relatif sedikit yang mengumpulkan data atau konten pribadi. Jadi kami melihat bahwa pendekatan di lapangan tidak dapat diabaikan dan saat ini telah memperkenalkan GFW kepada pemerintah, masyarakat lokal, dan kelompok bisnis di seluruh dunia. Kami juga telah mencari cara-cara untuk melibatkan pengguna online dengan lebih baik. Saat ini kami sedang bekerja sama dengan TomNod, sebuah wadah crowd sourcing yang merupakan bagian dari Digital Globe, mitra GFW, yang menggunakan citra satelit beresolusi sangat tinggi untuk mengidentifikasi wilayah di Indonesia di mana hutan dan ekosistem sensitif lainnya telah dibuka dengan cara membakar untuk pertanian atau karena sengketa lahan. Citra satelit yang mendetail ini telah menghasilkan hampir 30.000 “tags”, mengidentifikasi lebih dari 24.000 titik api aktif. Data ini akan ditampilkan secara online untuk publik dan para pejabat penegak hukum.

Sebuah Hutan Apapun Definisinya

Menyediakan data mengenai hutan baik secara teknis maupun untuk khalayak umum membutuhkan ketelitian dalam mendefinisikan terminologi-terminologi kunci dan mendeskripsikan secara tepat apa yang diperlihatkan oleh data. Terminologi “hutan” sangat sering digunakan, dengan banyak negara dan para ahli mendefinisikan hutan dengan standar yang berbeda-beda untuk tutupan kanopi, sebagian mencakup “perkebunan hutan” di dalam definisi mereka, sementara yang lainnya tidak memasukkannya. “Deforestasi” bahkan lebih membingungkan lagi, dengan lebih dari 800 definisi. Satelit cenderung tidak menghiraukan perdebatan definisi ini dan, tanpa analisis ekstensif tambahan, hanya mengukur kehilangan tutupan hutan, dengan menunjukkan di mana hutan dulunya tumbuh atau sebaliknya. Tanpa definisi yang konsisten, terdapat risiko yang tinggi di mana data GFW mengalami salah interpretasi, atau dianggap sebagai tidak relevan. Oleh sebab itu, klarifikasi dan respon terhadap kritik dan pertanyaan kepada data tersebut menjadi prioritas utama proyek ini, demikian pula dengan respon perbaikan dari masukan yang ada. Kondisi ini telah menginspirasi usaha penelitian baru, termasuk sebuah proyek intensif untuk memetakan hutan perkebunan di negara-negara penting di seluruh dunia. Jadi sementara usaha untuk menemukan definisi yang dapat disepakati oleh semua pihak mungkin tidak selalu dapat dilakukan, kami menemukan bahwa banyak yang dapat dilakukan untuk memberikan pilihan bagi mereka dengan prioritas yang berbeda.

Seperti yang kami lihat, tantangan-tantangan ini tidak spesifik untuk GFW, tetapi merupakan tantangan yang harus diatasi oleh semua pihak yang terlibat di dalam inisiatif big data. Pelajaran penting yang kami dapatkan adalah revolusi big data sedang berlangsung, dan kita semua dapat memainkan peran dalam menuntut transparansi, melakukan usaha dan memberikan masukan kepada wadah yang berbasis ilmiah, dan mendukung usaha-usaha yang melawan perubahan iklim dengan data yang akurat dan terkini.