Mengurangi Sampah Makanan dari Hulu: Kolaborasi Intervensi Perubahan Perilaku, Regulasi, dan Infrastruktur
Indonesia menghadapi persoalan serius dalam pengelolaan sisa pangan dan sampah makanan (food waste). Data laporan Program Lingkungan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNEP) menyebutkan, Indonesia berada di peringkat ke-8 sebagai negara dengan timbulan sampah makanan terbanyak di dunia. Dalam dua dekade terakhir, jumlahnya bahkan meningkat rata-rata 44% per tahun, dengan rumah tangga sebagai penyumbang terbesarnya.
Jika tidak ditangani secara tepat, sampah makanan, selain menjadi persoalan kebersihan, juga berpotensi menimbulkan kerugian besar dari sisi ekonomi, sosial, dan lingkungan. Pangan yang terbuang merupakan pemborosan sumber daya, antara lain, air, energi, lahan, dan tenaga, yang telah digunakan sejak proses produksi hingga konsumsi.
Kajian WRI Indonesia bersama lembaga riset ekonomi perilaku Advislab memperlihatkan bahwa tingginya sampah makanan rumah tangga dipengaruhi oleh berbagai faktor. Di antaranya, minimnya pengetahuan terkait pemanfaatan pangan, rendahnya pemahaman akan dampak pemborosan pangan, serta perilaku konsumtif yang tanpa disadari menormalisasi pemborosan pangan.
Di sisi lain, masalah struktural (sistem, tata kelola, dan kebijakan) turut memperparah kondisi, seperti minimnya insentif bagi pelaku pengelola sampah, kebijakan yang tidak konsisten, serta keterbatasan fasilitas pengolahan sampah. Pemerintah sebagai pemangku kebijakan dinilai cenderung mendahulukan kepentingan jangka pendek dibanding keberlanjutan jangka panjang. Akibatnya, kebijakan yang diambil seringkali terbatas pada penyediaan infrastruktur dan kampanye normatif tanpa menyentuh akar persoalan yaitu perilaku masyarakat.
Intervensi dari sisi perilaku perlu dilakukan, sebab sampah makanan bersumber dari keputusan sehari-hari. Hal ini juga sejalan dengan kajian Kementerian Perencanaan dan Pembangunan Nasional (PPN)/Bappenas yang menempatkan perubahan perilaku sebagai strategi pertama dalam upaya pengurangan sampah makanan.
Darurat Sampah di Wilayah Perkotaan
Sebagai salah satu kota terbesar di Indonesia, Kota Bandung menyumbang sekitar 1.500 ton sampah makanan setiap harinya dengan rumah tangga sebagai kontributor terbesar. Sejarah kelam tragedi ledakan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Leuwigajah di Cimahi dan persoalan berulang di TPA Sarimukti, yang juga menampung sampah warga Bandung, menegaskan urgensi penanganan sampah dan memunculkan status "Darurat Sampah" di kota ini.
Berbagai intervensi telah dilakukan, mulai dari kampanye berhenti boros pangan, pembagian ember kompos, pembangunan rumah maggot, hingga pengembangan pertanian perkotaan. Namun, intervensi tersebut masih didominasi pada penyediaan fasilitas, yang pemanfaatannya belum optimal. Pendekatan tersebut belum secara spesifik dirancang untuk mendorong perubahan perilaku sebagai pelengkap kebijakan dan infrastruktur.
Dalam kajian WRI Indonesia dan Advislab, ditemukan beberapa intervensi perubahan perilaku yang berpotensi mendorong pengurangan food waste di Kota Bandung, seperti edukasi yang berfokus pada keterampilan praktis, insentif finansial (imbalan atau keringanan biaya), donasi makanan, dan nudge sederhana yang mendorong perubahan perilaku tanpa paksaan dan lebih mudah diterima masyarakat.
Temuan tersebut kemudian diuji coba oleh WRI Indonesia melalui program Urban Futures di Kelurahan Nyengseret, salah satu wilayah padat penduduk di Kota Bandung.
Tantangan dan Peluang Intervensi Perubahan Perilaku
Kelurahan Nyengseret merupakan wilayah padat penduduk dengan nilai religius yang kuat dan budaya gotong royong yang masih terjaga. Warga rutin berkumpul dalam kegiatan keagamaan dan sosial, sehingga norma dan interaksi sosial memiliki pengaruh besar terhadap perilaku sehari-hari. Modal sosial ini dinilai strategis untuk mendorong perubahan perilaku dalam pengelolaan sampah makanan.
Di luar dukungan tersebut, masih ada tantangan yang dihadapi. Keterbatasan ruang membuat penggunaan ember kompos dari pemerintah kota kurang sesuai bagi rumah tangga di Nyengseret. Meski telah tersedia fasilitas pengolahan komunal berupa rumah maggot dan pertanian perkotaan, kapasitasnya hanya mampu mengolah sekitar 100-200 kilogram sampah makanan per harinya. Padahal, timbulan harian di Kelurahan Nyengseret bisa mencapai 400-500 kilogram.
Rendahnya kesadaran dan pengetahuan rumah tangga mengenai dampak besar sampah makanan memperburuk hal ini. Karena itu, intervensi perubahan perilaku yang kontekstual dan berbasis komunitas dinilai menjadi kunci untuk menekan timbulan sejak dari sumbernya.
Intervensi di Kelurahan Nyengseret dirancang menggunakan kerangka MOA (Motivation, Opportunity, Ability). Tahap awal implementasi program ini difokuskan pada pembangunan opportunity atau kesempatan, melalui sistem yang terintegrasi: penjadwalan pengambilan sampah makanan yang konsisten, pembagian peran yang jelas antar pihak, serta mekanisme pengangkutan dari rumah tangga ke fasilitas komunal yang mudah dipahami. Sistem ini penting agar masing-masing rumah tangga memiliki akses dan ruang untuk berubah.
Setelah sistem terbentuk, tiga intervensi utama diterapkan untuk mendorong motivasi (motivation) dan kemampuan (ability) warga sesuai dengan konteks lokal.
Pertama, pemberian insentif ekonomi, dilakukan melalui penukaran kupon paket sembako bagi rumah tangga yang konsisten memilah sampah selama tiga kali dalam seminggu. Skema ini bertujuan untuk memberikan dorongan awal dalam membangun kebiasaan baru.
Kedua, rekognisi sosial, dengan memanfaatkan budaya gotong royong dan kebanggaan kolektif melalui kompetisi antar Rukun Tetangga (RT) berdasarkan tingkat partisipasi dan jumlah pengurangan sampah makanan. Hasilnya lalu diumumkan secara berkala melalui grup komunikasi warga, sehingga memperkuat norma sosial yang mendorong perilaku mengurangi sampah makanan.
Ketiga, edukasi melalui poster dan stiker, berisi pesan pengingat sederhana dan praktis terkait dampak ekonomi, kehilangan nutrisi akibat boros pangan, serta pesan bernuansa religius yang relevan dengan nilai dan kepercayaan masyarakat setempat. Pendekatan ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan kemampuan masyarakat dengan memberikan “pengingat” untuk mengurangi food waste.
Setelah delapan minggu implementasi, timbulan sampah makanan di Kelurahan Nyengseret menurun hingga 32%. Sebanyak 136 dari 263 rumah tangga tercatat konsisten memilah sampah makanan. Hal ini diikuti oleh meningkatnya pengetahuan rumah tangga dalam pengelolaan sampah makanan. Temuan ini menunjukkan bahwa intervensi perubahan perilaku dengan konteks lokal berpotensi untuk mengurangi sampah makanan dan mampu meningkatkan partisipasi rumah tangga.
Secara konsep, temuan ini menunjukkan bahwa perubahan perilaku efektif terjadi jika individu tahu, mau, dan mampu. "Tahu" berkaitan dengan pengetahuan dan kesadaran yang dibangun melalui edukasi. "Mau" mencerminkan motivasi untuk bertindak, yang didorong oleh insentif, rekognisi sosial, dan penguatan norma tanpa paksaan. Sementara itu, "mampu" merupakan kemampuan dan kepercayaan diri rumah tangga yang didukung oleh ketersediaan fasilitas serta sistem yang jelas dan dapat dipercaya.
Kolaborasi untuk mencapai keberhasilan
Keberhasilan intervensi di Kelurahan Nyengseret tidak lepas dari kolaborasi antara masyarakat dan pemerintah. Keterlibatan berbagai pihak menumbuhkan kepercayaan dan mendorong konsistensi rumah tangga dalam menjalankan perilaku baru.
Pendekatan ini dapat direplikasi ke wilayah lain dengan skala yang lebih luas dengan penyesuaian konteks lokal serta komitmen dari setiap pihak sesuai tugas pokok dan fungsinya masing-masing.
Pemerintah sangat berperan penting dalam menerapkan regulasi yang tegas dan sistem pengelolaan sampah makanan yang jelas, menyediakan fasilitas, serta melakukan pemantauan berkala. Pemuka agama dan tokoh masyarakat dapat berperan sebagai contoh teladan dalam membangun norma budaya yang lebih bijak terhadap pangan. Sementara organisasi sosial dan komunitas berperan dalam peningkatan kapasitas melalui pelatihan dan edukasi praktis, seperti penggunaan “Modul Edukasi Pengelolaan Sisa Pangan dan Sampah Makanan Rumah Tangga” yang dikembangkan WRI Indonesia.
Dengan kolaborasi yang kuat dan pendekatan berbasis konteks lokal, intervensi perubahan perilaku berpeluang menjadi jalan efektif untuk menurunkan sampah makanan rumah tangga di Indonesia, dimulai dari dapur, hingga berdampak pada ketahanan pangan dan lingkungan secara luas.
*Artikel ini dapat tersusun berkat dukungan dari Yayasan Humanis dan Inovasi Sosial melalui program Urban Futures.
Proyek
Urban Futures
Bagian dari Pangan, Lahan, dan Air