Merangkai Tradisi dan Mobilitas: Peran Transportasi Tidak Bermotor di Bali
Berjalan Kaki dan Budaya Bali
Dalam tradisi Bali, berjalan kaki bukan sekadar cara berpindah, melainkan juga bagian dari praktik budaya dan spiritual. Contohnya, dalam Upacara Melasti, masyarakat berjalan bersama menuju sumber air sebagai simbol penyucian diri dan alam, sekaligus wujud rasa bakti dan syukur. Upacara Maprani, yang merupakan ritual pengambilan air di sumber mata air suci untuk dibawa ke pura dengan berjalan kaki, pun berkaitan dengan nilai toleransi sesama manusia dan menampilkan peran wanita dalam menjaga tradisi budaya Bali (Dewi & Yasa, 2025). Aktivitas berjalan kaki dalam konteks ini menjadi bagian dari sistem ritualistik dan merepresentasikan filosofi Tri Hita Karana masyarakat Bali, yaitu keharmonisan antara Tuhan (Parhyangan), manusia (Pawongan), dan alam/lingkungan (Palemahan) (Subagia et al., 2016).
Di samping itu, pusat kota, yang pada masa kerajaan ditempatkan pada simpang empat atau disebut catus patha, merupakan wadah aktivitas keagamaan, pemerintahan/politik, ekonomi, dan kebudayaan (Aryawan et al., 2019). Konsep Tri Angga, yang menjadi dasar utama dalam pembentukan struktur ruang permukiman tradisional Bali berdasarkan orientasi kosmologis Kaja–Kelod (arah gunung–laut) dan Kangin–Kauh (timur–barat), pun mendasari filosofi pengaturan tatanan ruang Bali (Samadhi, 2004). Berbagai tradisi dan filosofi tersebut, baik secara langsung maupun tidak, membentuk morfologi permukiman dan jaringan jalan Bali yang berskala kecil, organik, dan saling terhubung.
Rumah, banjar, pura, pasar, dan ruang komunal umumnya berada pada jarak yang berdekatan, yang menjadikan berjalan kaki sebagai moda alami dalam keseharian masyarakat. Jalan penghubung yang tumbuh secara organik pun memiliki lebar terbatas dan berorientasi pada pergerakan manusia. Prinsip kota kontemporer yang padu, seperti kota 15 menit (15-minute city), sudah terbangun sejak lama dalam struktur ruang Bali, di mana kebutuhan sehari-hari dapat dijangkau dengan berjalan kaki atau bersepeda (Moreno et al., 2021). Gambar 2 mengilustrasikan jangkauan 250-400 meter berjalan kaki dari pura dan fasilitas umum menuju permukiman di kawasan Ubud. Dengan sebaran fasilitas yang tersedia saat ini, penduduk yang berada di 64% dari area residensial dan komersial di kawasan inti Ubud dapat dengan mudah menempuh halte bus dan pura dengan berjalan kaki.
Tantangan Transportasi Tidak Bermotor (NMT) Kini
Fenomena berjalan kaki memang sudah memiliki ikatan kuat dengan budaya dan tradisi di Bali. Namun, seiring dengan pertumbuhan kota dan pariwisata, tekanan perubahan pola pembangunan dan mobilitas membuat moda berjalan kaki dan bersepeda menjadi dikesampingkan. Proporsi perjalanan dengan moda tidak bermotor atau Non-Motorized Transportation (NMT) di Bali tercatat hanya sekitar 1% dari total perjalanan harian, sementara rata-rata pertumbuhan jumlah kendaraan bermotor mencapai 4,92% per tahun dalam satu dekade terakhir. Format jalan yang dahulu berskala manusia kini didominasi oleh kendaraan bermotor.
Di samping itu, pergeseran moda transportasi ini tidak hanya dipengaruhi oleh pertumbuhan jumlah kendaraan, tetapi juga oleh stigma sosial dan keterbatasan infrastruktur. Dengan memiliki atau mengendarai kendaraan bermotor, asosiasi nilai sosial yang lebih tinggi, seperti memberikan rasa aman dan terlindungi, bisa didapatkan sehingga mengubah kebiasaan berpergian (travel behavior) yang berpotensi tinggi untuk mengalami penolakan dan perubahan pada norma sosial (Gössling, 2020). Tantangan ini diperparah oleh kondisi infrastruktur NMT di Bali yang belum maksimal, seperti keterbatasan cakupan trotoar, konektivitas jalur pejalan kaki dan sepeda yang terputus, serta penyalahgunaan trotoar untuk parkir liar dan aktivitas komersial (Gambar 3).
Dalam konteks tantangan iklim urban yang semakin panas (fenomena urban heat), trotoar juga belum dirancang untuk mendukung kenyamanan termal. Penyediaan vegetasi peneduh dan kelengkapan furnitur jalan lain, seperti pencahayaan dan tempat duduk, belum tersedia secara merata untuk memberikan rasa aman dan nyaman dalam berjalan kaki (Jacobs, 1961). Integrasi pendekatan, seperti water-sensitive urban design (WSUD)/bioswale dalam desain jalan dan trotoar, pun masih terbatas, meski relevan dalam strategi ketahanan iklim.
Meski demikian, kondisi tersebut bukan berarti bahwa kebutuhan dan minat untuk berjalan kaki di Bali telah hilang sama sekali. Kegiatan car-free day di jalan sekitar Lapangan Puputan Renon ramai diikuti oleh setidaknya 5000 pengunjung tiap minggu untuk sekadar berjalan kaki dan berolahraga di ruang jalan (ANTARA News, 2020). Di samping itu, kebiasaan wisatawan mancanegara yang cenderung lebih gemar berjalan kaki untuk menyusuri ruang jalan di Bali turut menunjukkan tingginya kebutuhan terhadap jalur pejalan kaki yang aman dan nyaman. Fenomena ini menegaskan bahwa, ketika lingkungannya mendukung, berjalan kaki menjadi pilihan alami dan menyenangkan dan bukan sebuah keterpaksaan. Oleh karena itu, sebagai destinasi wisata, Bali memiliki potensi besar untuk memperkuat pengalaman berjalan kaki tersebut.
Manfaat Infrastruktur Tidak Bermotor
Konsep mobilitas dasar bisa diadopsi dalam perkembangan infrastruktur NMT di Bali. Dalam lingkup mobilitas, setiap perjalanan dimulai dan diakhiri dengan berjalan kaki. Baik dalam konteks kota maju maupun dalam konteks kota berkembang, berjalan kaki dilakukan secara langsung menuju tujuan maupun berpindah ke moda transportasi lainnya. Kondisi lingkungan pejalan kaki saat melakukan perjalanan mencerminkan kualitas dan efisiensi jaringan transportasi yang ada di kota tersebut. Hal ini turut memengaruhi mobilitas penghuni dan pengunjung secara keseluruhan (Krambeck, 2006).
Dalam peningkatan infrastruktur NMT di Bali, salah satu metode yang bisa dilakukan adalah dengan reklamasi ruang jalan. Reklamasi jalan untuk transportasi tidak bermotor atau NMT di Bali bukan hanya menjadi upaya meningkatkan efisiensi jaringan mobilitas kota, melainkan juga mengembalikan fungsi jalan sebagai jaringan ruang publik yang aman, inklusif, berketahanan iklim dan mendukung ekspresi sosial-budaya. Upaya yang efektif untuk mereklamasi jalan adalah dengan mendistribusi ulang ruang jalan yang tersedia untuk moda transportasi alternatif selain kendaraan bermotor (Gössling, 2020).
Selain itu, berbagai studi kasus internasional menunjukkan bahwa investasi pada infrastruktur NMT berbanding lurus dengan peningkatan kualitas hidup masyarakat dan daya tarik kota. Program Ciclovia di Bogotá, contohnya, berhasil mengubah ruang jalan menjadi ruang publik mingguan bagi jutaan warga. Program tersebut berdampak pada peningkatan aktivitas fisik, peningkatan kualitas hidup yang berkaitan dengan kesehatan, penyediaan peluang untuk interaksi sosial, dan penurunan partikel polusi udara tiga belas kali lebih rendah jika dibandingkan dengan hari biasa (Sarmiento et al., 2010). Laporan Transport for London juga menunjukkan bahwa perbaikan jalur pejalan kaki dan sepeda meningkatkan penjualan retail komersial sebesar 30% serta menarik lebih banyak pengunjung sebesar 83% (Transport for London, 2019). Dalam konteks nasional, perbaikan trotoar dan jalur sepeda di Jakarta, terutama pada pusat perkantoran dan perbelanjaan, melalui konsep complete street (Dinas Bina Marga Provinsi DKI, 2025), bertujuan untuk menurunkan tingkat kecelakaan serta meningkatkan citra Jakarta sebagai kota ramah pejalan kaki.
Perubahan infrastruktur NMT ini menunjukkan bahwa pengembalian sebagian/sepenuhnya fungsi jalan untuk manusia memiliki manfaat lebih dari sekadar fungsi mobilitas. Strategi komunikasi yang lebih menyoroti manfaat penggunaan NMT jika dibandingkan dengan ’melawan’ atau membatasi kendaraan dinilai lebih efektif diterima oleh masyarakat (Gössling, 2020). Transformasi besar ruang jalan untuk NMT membutuhkan kemauan politik, dukungan masyarakat, dan keberanian untuk memulai. Di Bali, langkah awal tersebut diwujudkan melalui Bali Low Emission Zone Initiative (BLEZI).
BLEZI Mendorong Strategi NMT
BLEZI dirancang sebagai strategi besar untuk menurunkan emisi sektor transportasi melalui “House of Strategy” (HoS) yang mencakup empat pilar utama: integrasi transportasi publik, mobilitas aktif, manajemen lalu lintas lokal, dan teknologi rendah karbon. Dalam kerangka ini, sebagai bagian dari pilar mobilitas aktif, NMT menjadi elemen kunci yang menyentuh dimensi sosial, budaya, dan lingkungan secara bersamaan.
Penerapan strategi NMT mengambil contoh dalam dua lokasi sandbox, yaitu Sanur dan Ubud sebagai kawasan percontohan rendah emisi. Di Sanur, penataan di koridor Jalan Danau Tamblingan dilakukan melalui perbaikan dan pelebaran trotoar, penertiban parkir di badan jalan, pengelolaan shuttle listrik serta pangkalan transportasi lokal. Berbagai inisiatif ini bertujuan untuk meningkatkan kenyamanan pejalan kaki dan keterhubungan kawasan, memperkuat ekonomi pariwisata lokal, dan menurunkan emisi karbon dalam kawasan.
Sementara itu, di Ubud, Desa Padangtegal menginisiasi perbaikan trotoar sepanjang Jalan Sugriwa serta upaya pedestrianisasi Jalan Goutama yang membatasi kendaraan bermotor masuk pada jam-jam tertentu. Dampaknya bukan hanya mengurangi kebisingan dan kecelakaan, melainkan juga meningkatkan nilai properti sepanjang jalan hampir 4 kali lipat akibat pengkhususan jalan untuk pejalan kaki. Pengendalian lalu lintas yang dilakukan pun turut menciptakan ruang publik yang lebih hidup dan mendukung nilai budaya setempat.
Dengan demikian, warisan dan potensi mobilitas berjalan kaki yang dimiliki oleh Bali perlu dihidupkan kembali sebagai bagian dari solusi terhadap tantangan emisi dan dominasi kendaraan bermotor. Melalui BLEZI, strategi NMT tidak sekadar upaya teknis, tetapi juga gerakan untuk mengembalikan identitas Bali sebagai ruang hidup yang ramah manusia, selaras dengan semangat budaya dan juga berketahanan iklim. Dengan dukungan infrastruktur NMT yang lebih baik, tradisi berjalan kaki yang selama ini mengakar dalam kehidupan spiritual dan sosial Bali dapat kembali hidup dalam konteks kehidupan kota masa kini.
Referensi:
ANTARA News, A. (2020). Dishub Denpasar tunda CFD di Renon dan Lumintang. ANTARA News Bali. https://bali.antaranews.com/berita/202486/dishub-denpasar-tunda-cfd-di-renon-dan-lumintang
Aryawan, P., Kohdrata, N., & Bawono, R. (2019). Transformasi fungsi catus patha sebagai lanskap sejarah di Kota Denpasar. Jurnal Arsitektur Lansekap, 188. https://doi.org/10.24843/JAL.2019.v05.i02.p06
Dewi, G. A. P. P. S., & Yasa, N. P. D. (2025). UPACARA MAPRANI DI DESA SEMPIDI UNTUK MENJAGA TRADISI DAN BUDAYA BALI. Widya Genitri: Jurnal Ilmiah Pendidikan, Agama Dan Kebudayaan Hindu, 16(1), 47–60.
Dinas Bina Marga Provinsi DKI, J. (2025). Nyaman dan Aman! Fasilitas Trotoar Dengan Konsep Complete Street Di Jakarta. Dinas Bina Marga Provinsi DKI Jakarta. https://binamarga.jakarta.go.id/berita/view/nyaman-dan-aman-fasilitas-trotoar-dengan-konsep-complete-street-di-jak
Gössling, S. (2020). Why cities need to take road space from cars—And how this could be done. Journal of Urban Design, 25(4), 443–448. https://doi.org/10.1080/13574809.2020.1727318
Krambeck, H. V. (2006). The global walkability index [Thesis, Massachusetts Institute of Technology]. https://dspace.mit.edu/handle/1721.1/34409
Moreno, C., Allam, Z., Chabaud, D., Gall, C., & Pratlong, F. (2021). Introducing the “15-Minute City”: Sustainability, Resilience and Place Identity in Future Post-Pandemic Cities. Smart Cities, 4(1), 93–111. https://doi.org/10.3390/smartcities4010006
Osorio, C. (2024, December 8). La ciclovía de Bogotá es de exportación: La revolución de la capital colombiana inspiró al mundo. El País América Colombia. https://elpais.com/america-colombia/2024-12-08/la-ciclovia-de-bogota-es-de-exportacion-la-revolucion-de-la-capital-colombiana-inspiro-al-mundo.html
Samadhi, T. N. (2004). Making cosmo-religious landscapes: The design of a Balinese town’s civic center (Bali, Indonesia). Habitat International, 28(1), 103–122. https://doi.org/10.1016/S0197-3975(03)00032-8
Sarmiento, O., Torres, A., Jacoby, E., Pratt, M., Schmid, T., & Stierling, G. (2010). The Ciclovia-Recreativa: A Mass-Recreational Program With Public Health Potential. Journal of Physical Activity & Health, 7 Suppl 2, S163-80. https://doi.org/10.1123/jpah.7.s2.s163
Subagia, N. K. W., Holilulloh, H., & Nurmalisa, Y. (2016). Persepsi Masyarakat terhadap Konsep Tri Hita Karana sebagai Implementasi Hukum Alam [Journal:eArticle, Lampung University]. In Jurnal Kultur Demokrasi (Vol. 4, Issue 2, p. 251316). https://www.neliti.com/publications/251316/
sulteng.antaranews.com. (2023, March 18). Ribuan warga Hindu di Bali mengikuti Upacara Melasti menjelang Hari Nyepi. Antara News Palu. https://sulteng.antaranews.com/berita/264630/ribuan-warga-hindu-di-bali-mengikuti-upacara-melasti-menjelang-hari-nyepi
Transport for London. (2019). Economic benefits of walking and cycling [PDF Report/Summary Pack]. Transport for London. https://www.tfl.gov.uk/corporate/publications-and-reports/economic-benefits-of-walking-and-cycling