Refleksi Orang Muda di Kota Bandung: Pendampingan Komunitas Lokal untuk Mewujudkan Bisnis Budi Daya Maggot yang Berkelanjutan
Kami tidak pernah membayangkan sebelumnya jika pekerjaan mendampingi komunitas ternyata penuh tantangan. Simak cerita kami, Bergita dan Peter, dua orang Gen-Z yang untuk pertama kalinya mendampingi komunitas lingkungan dalam membudidayakan maggot di Kota Bandung.
Imah Maggot di Bantaran Sungai Kota Bandung
Kota Bandung menghasilkan sampah sekitar 1.500 ton/hari di mana 44,5% dari total sampah merupakan sisa pangan dan sampah makanan (SISPSN, 2024). Pada Agustus 2023, Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sarimukti terbakar (Tempo, 2023). Kebakaran TPA tersebut disebabkan oleh akumulasi gas metana1 dari sampah organik yang tidak diolah secara terpisah. Pasokan sampah yang masuk ke TPA Sarimukti juga dibatasi karena telah melebihi kapasitas tampung yang tersedia (Kompas, 2024). Hal ini secara tidak langsung mendorong perlunya alternatif pengelolaan sampah di Kota Bandung yang lebih aman dan ramah lingkungan.
Melalui program Safe and Sound Cities (S2Cities) yang diimplementasikan oleh WRI Indonesia, sekelompok orang muda yang menamai kelompok mereka Amreta berinisiatif untuk mendirikan rumah maggot sebagai instalasi pengolahan sisa pangan dan sampah makanan melalui budi daya maggot. Maggot adalah larva lalat tentara hitam (black soldier fly) yang dapat mengurai materi organik hingga 2-3 kali berat tubuhnya. Rumah maggot didirikan untuk mengurangi sisa pangan dan sampah makanan rumah tangga di Dago Pojok, Kota Bandung.
Sejak awal mendirikan rumah maggot, Amreta menggandeng Komunitas Cika-Cika, yaitu komunitas relawan lingkungan di Kota Bandung. Dukungan yang diberikan adalah berupa izin pembangunan rumah maggot di lahan milik mereka. Rumah maggot ini dinamai Imah Maggot Bantaran (IMB), yang artinya rumah maggot di bantaran sungai.
Pada pertengahan 2023 hingga awal 2024, IMB berhasil mengolah lebih dari 1,5 ton sisa pangan dan sampah makanan di RW 03 di kawasan Dago Pojok. Namun, karena dukungan program S2Cities berakhir pada Maret 2024, operasional IMB diserahkan sepenuhnya kepada Komunitas Cika-Cika.
Beberapa bulan kemudian, WRI Indonesia kembali mendukung IMB melalui program Urban Futures (UF) yang dikelola oleh Yayasan Humanis dan Inovasi Sosial (Humanis). UF adalah program pemberdayaan orang muda guna memainkan peran dalam transformasi sistem pangan perkotaan yang inklusif dan tangguh iklim. Dalam program ini, kami bertanggung jawab mengembangkan model bisnis budi daya maggot yang berkelanjutan untuk IMB.
Tantangan dalam Mengelola Imah Maggot
Sejak awal didirikan, pengurus IMB berfokus pada upaya memperkenalkan IMB serta mengajak warga Dago Pojok untuk mengumpulkan sisa pangan dan sampah makanan rumah tangga ke rumah maggot. Namun, karena keterbatasan jumlah sumber daya manusia (SDM), para pengurus kesulitan untuk membagi tugas dan memperluas area layanan pengambilan sisa pangan dan sampah makanan.
Guna mengatasi keterbatasan itu, kami mendorong pengurus IMB untuk merekrut orang muda. Selain menambah personil, kami melihat kehadiran orang muda dapat memperkuat aspek pemasaran sekaligus menjadi bagian dari strategi regenerasi kepengurusan IMB jangka panjang. Meski begitu, proses ini tidak semudah yang kami bayangkan. Walaupun pendekatan kepada karang taruna dan orang muda setempat sudah dilakukan, namun belum membuahkan hasil. Hal ini disebabkan karena kepengurusan karang taruna setempat sudah lama vakum dan orang muda lainnya sudah memiliki pekerjaan tetap.
Selain itu, pengurus IMB juga belum memiliki pengetahuan yang mendalam mengenai potensi produk turunan maggot, strategi pemasaran, serta kesulitan dalam manajemen operasional rumah maggot. Untuk itu, kami merancang serangkaian lokakarya yang dilaksanakan secara bertahap. Kami berharap pelatihan ini dapat menambah pengetahuan dan memupuk semangat mereka untuk mengembangkan bisnis yang berkelanjutan.
Tahun Baru, Kepengurusan Baru: Selamat Datang, Orang Muda!
Seiring dengan bergantinya tahun, semangat baru ikut menyertai pergantian kepengurusan IMB pada 2025. Kepengurusan sebelumnya mengajarkan kami bahwa fondasi yang kuat diperlukan untuk menjamin keberlanjutan bisnis IMB. Oleh karenanya, langkah awal yang kami tempuh adalah menguatkan keterampilan teknis para pengurus IMB melalui serangkaian lokakarya intensif bersama Parongpong Raw Lab. Parongpong RAW Lab adalah salah satu organisasi dari konsorsium WRI Indonesia yang berpengalaman dalam mengembangkan bisnis maggot yang berkelanjutan.
Saat lokakarya berlangsung, kami sangat senang atas kehadiran tiga wajah baru di antara para pengurus lama IMB. Salah satu yang paling berkesan adalah kehadiran Rafly (26). Meskipun baru terlibat di IMB, Rafly sudah cukup lama bergabung di Komunitas Cika-Cika. Ia merupakan Ketua Karang Taruna RW 12 di Kelurahan Dago, yang juga memiliki kepedulian besar terhadap isu lingkungan di sekitarnya. Kehadiran Rafly dalam lokakarya memberikan angin segar bagi regenerasi orang muda di IMB. Sebagai lulusan Sekolah Menegah Kejuruan (SMK) di bidang teknologi informasi, Rafly memimpin dalam proses desain dan pemasaran produk maggot di IMB.
(Kredit Foto: Bergita Lipu/WRI Indonesia)
Pelajaran-Pelajaran Yang Kami Petik
Perjalanan mendampingi IMB adalah pengalaman yang penuh warna, menantang, sekaligus penuh makna. Sebagai orang muda yang belum memiliki rekam jejak mendampingi komunitas di tingkat tapak, kami melewati banyak proses uji coba untuk membangun model bisnis yang berkelanjutan bagi IMB. Mendampingi IMB agar tumbuh menjadi inisiatif lingkungan yang berorientasi pada bisnis bukanlah perkara mudah. Upaya ini adalah kombinasi dari proses panjang yang disertai konsistensi dan ketekunan. Namun, semangat para pengurus untuk terus belajar dan berkembang menjadi penguat langkah kami dalam mendampingi mereka.
Saat ini, kami terus berupaya mendukung IMB dalam memproduksi produk-produk turunan maggot, menyiapkan paket eduwisata berbasis budaya, serta mengembangkan paket pelatihan budidaya maggot. Di sisi lain, untuk menopang keberlanjutan operasional, kami melihat bahwa IMB masih memerlukan penguatan dalam aspek perencanaan produksi dan strategi pemasaran. Oleh karena itu, kami terus memberikan dukungan melalui penyediaan alat, pelatihan, serta penguatan keterampilan interpersonal agar mereka siap mengelola IMB secara mandiri dan berkelanjutan, terutama setelah dukungan program UF berakhir.
Proyek
Urban Futures
Bagian dari Pangan, Lahan, dan Air