Poin penting
  • Warga Pulau Barrang Lompo menghadapi hambatan mobilitas akibat jalan sempit, infrastruktur yang tidak aksesibel, dan minimnya aturan keselamatan bersama.

  • Penyandang disabilitas dan teman Tuli di pulau masih mengalami keterbatasan akses pendidikan, komunikasi, serta kemandirian dalam kehidupan sehari-hari.

  • Inklusivitas di wilayah kepulauan membutuhkan dukungan nyata melalui perbaikan fasilitas publik, akses komunikasi, dan sistem mobilitas yang aman bagi semua warga.

Artikel ini merupakan bagian dari program Pojok Belajar Rakyat Kota untuk Inisiatif Inklusif Rendah Emisi (PARKIR) Makassar, sebuah inisiatif penelitian dan pengarsipan pengetahuan secara kolaboratif yang melibatkan perempuan, penyandang disabilitas, warga kampung perkotaan, dan orang muda untuk mengidentifikasi tantangan dan peluang mobilitas inklusif serta rendah karbon. PARKIR Makassar didukung oleh Pemerintah Inggris melalui pendanaan UK PACT (UK Partnering for Accelerated Transitions).

***

Barrang Lompo tidak hanya sekadar salah satu titik kecil yang terletak di dalam peta gugusan Kepulauan Spermonde. Pulau yang terletak sekitar 13 km dari Kota Makassar ini juga merupakan ruang yang dibentuk dari aktivitas melaut, berdagang, dan interaksi antarwarga hingga kini menjadi kebiasaan dan nilai yang diwariskan.

Di tengah kehidupan masyarakat pesisir Pulau Barrang Lompo yang identik dengan budaya baharinya, masih terdapat praktik-praktik kepercayaan lokal yang diwariskan secara turun-temurun. Salah satu bentuknya terlihat dalam ritual tolak bala yang dilakukan sebagian masyarakat dengan membawa sesajen seperti pisang muda, lilin merah, kemenyan, air, dan beberapa makanan tertentu yang dipercaya memiliki makna simbolik untuk menghindarkan kampung maupun keluarga dari mara bahaya, penyakit, cuaca buruk, atau memberikan keselamatan dari hal-hal yang tidak baik. Praktik seperti ini memperlihatkan adanya jejak animisme yang masih hidup berdampingan dengan ajaran Islam melalui bentuk sinkretisme budaya dalam kehidupan sosial masyarakat pulau.

Terdapat tiga kompleks makam yang kerap didatangi sebagai tempat ritual melangitkan harapan. Ada makam para ulama yang diyakini sebagai generasi awal penyebar agama Islam. Makam para tokoh pendiri kampung yang menjaga spirit dan eksistensi penghuni pulau. Terdapat pula makam orang-orang melayu yang juga di dalamnya ada makam etnis Tionghoa, sekaligus menjadi bukti akulturasi yang kental. Selain itu, adanya penamaan seperti kampung cina, kampung mandar, dan kampung dolar di tengah masyarakat yang mayoritas suku Makassar menciptakan harmoni kehidupan.

Di sisi lain, wajah dari pulau Barrang Lompo memperlihatkan bagaimana kepadatan dan keterbatasan lahan membentuk cara orang bergerak. Jalan lingkungan yang relatif sempit menjadi ruang bersama bagi berbagai jenis mobilitas: pejalan kaki, motor, sepeda listrik, hingga odong-odong yang berlalu-lalang hampir sepanjang hari. Dalam situasi seperti ini, pejalan kaki harus menepi setiap kali kendaraan melintas. Tidak ada pola yang jelas tentang siapa yang harus didahulukan dan tidak ada pula pemahaman yang sama mengenai arah atau jalur. Pergerakan pun berlangsung naluriah, yang mengikuti kebiasaan, bukan aturan.

Bagi sebagian orang, mungkin ini hanyalah ketidaknyamanan kecil. Namun, bagi mereka yang memiliki hambatan dan bermobilitas, kondisi ini menjadi faktor yang menentukan sejauh apa mereka bisa bergerak. Dalam konteks inilah, pengalaman Ibu Rabiah, Pak Maudu, Suryandi, dan Aulia memperlihatkan bagaimana ruang yang sama dapat dijalani dengan cara yang sangat berbeda.

Langkah yang Tertahan di Depan Rumah 

Rabiah, 60 tahun. Ia duduk di balai bambu bercerita sepotong kisah hidupnya. Kebutaan total yang dialaminya datang secara tiba-tiba. Kejadiannya lebih dari setahun lalu, berawal dari rasa mual yang datang pada pukul dua dini hari di malam Jumat. Sejak saat itu, ia tak lagi bisa melihat.

Ibu Rabiah tak menikah dan sehari-hari tinggal sendirian di rumahnya. Ia tak bisa lagi memasak. Untungnya, para tetangga berbaik hati bergantian mengantarkan makanan. Saat kami bertemu, kebetulan ada kakak laki-lakinya. Jumain Daeng Nai yang berasal dari Takalar sedang berada di sana. Ia sedang mengantar beras dagangannya ke Pulau Barrang Lompo.

Sesekali Ibu Rabiah memberanikan diri melangkahkan kaki ke jalan di depan rumah. Langkahnya pelan meraba jalan tanpa tongkat sebagai pemandu. “Saya takut jalan jauh…takutnya nanti menabrak atau tertabrak,” ujarnya. Padahal dulu sebelum buta, ia setiap hari berkeliling pulau berjualan kue. Kini, ia hanya bisa berjalan paling jauh sepanjang pagar rumahnya.

Mewawancarai Ibu Rabiah
Saat sedang mewawancarai Ibu Rabiah, sejumlah tetangganya datang secara beriringan untuk mendengarkan diskusi, bahkan menambahkan cerita dan opini.

Melaut dalam Keterbatasan

Hambatan mobilitas juga dialami oleh Pak Maudu. Pria berusia 61 tahun ini memiliki empat (4) anak, sebelas (11) cucu, dan satu (1) cicit. Dalam kondisi lumpuh, ia tetap melaut. Untuk melaut, ia harus dibonceng motor dari rumahnya menuju pantai. Tanpa alat bantu, ia bergantung pada orang lain terutama istri dan anaknya.

“Punna tena angngantarakka tena ku lampa,"
"Kalau tidak ada yang mengantar, saya tidak akan pergi (kerja),"
Kredit foto: Memora untuk WRI Indonesia

Jika tidak ada yang mengantar, ia tidak berangkat. Bersama perahu cadik yang dikemudikan sendiri, ia mencari cumi-cumi ke Pulau Bonebatang. Semalaman melaut, ia hanya memperoleh 1–2 kg cumi-cumi. Namun, lebih sering membawa setengah kilo yang dijualnya seharga Rp30.000. Kadang-kadang, saat cuaca buruk, ia hanya bisa mencari di sekitar Pulau Barrang Lompo dan kerap kali berendam hingga pagi di dalam air menunggu istri atau anaknya menjemput pulang ke rumah.

Air menggenangi sejumlah jalan pasca hujan deras yang terjadi semalam sebelum berkunjung ke Pulau Barrang Lompo
Air menggenangi sejumlah jalan pasca hujan deras yang terjadi semalam sebelum berkunjung ke Pulau Barrang Lompo

Dari rumah ke rumah yang kami hampiri, tidak jarang kami menemukan hambatan. Jalan yang hanya selebar 3–4 meter dipenuhi motor, sepeda listrik, dan odong-odong sehingga setiap kendaraan ini lewat, pejalan kaki harus menepi. Tidak ada pola lalu lintas yang jelas. Pengendara seenaknya saja tanpa memperhatikan jalur kiri atau kanan. Salah satu dari kami, yang berjalan di tepi kiri, bahkan hampir tertabrak sepeda listrik yang melaju kencang nan senyap. Padahal salah satu etika berkendara yang tertuang dalam UU No. 22 Tahun 2009 adalah lajur paling kanan diperuntukkan bagi kendaraan yang lebih cepat.

Sebenarnya, di beberapa ruas jalan, terdapat guiding block. Sayangnya, kondisinya banyak yang rusak sehingga tidak bisa diakses oleh disabilitas netra. Guiding block juga cenderung terpusat di titik tertentu, misalnya dari dermaga hingga Kantor Camat atau sekitar 170 meter. Jalanan yang terbuat dari paving block juga tidak rata dan terdapat genangan di sana sini. Hal ini bisa menyulitkan warga dalam bermobilitas termasuk teman teman-teman penyandang disabilitas.

Kisah Teman Tuli yang Terselip di Balik Semarak Ombak

Penggalan Barrang Lompo tidak berhenti pada ritual warga setempat, kisah para nelayan, dan perjalanan lintas kepulauan dalam wilayah administratif perkotaan. Barrang Lompo juga tempat di mana teman Tuli menorehkan ceritanya, seperti teman yang kami jumpai, Suryandi dan Aulia.

Suryandi menjalani hidup dalam keterbatasan yang tidak hanya berasal dari kondisi pendengarannya, tetapi juga dari lingkungan yang belum inklusif. Sejak kedua orang tuanya meninggal dunia, Suryandi tinggal bersama kakaknya di rumah sederhana milik keluarga. Hari-harinya banyak dihabiskan di dalam rumah, membantu menjaga keponakannya.

Untuk memenuhi kebutuhan hidup, Suryandi bekerja serabutan. Ia menerima panggilan memijat dengan bayaran sekitar Rp50.000 dan mencuci pakaian dari rumah ke rumah. Mobilitasnya terbatas. Ia hanya berani pergi ke rumah-rumah tetangga. Saat malam hari Suryandi merasa takut untuk keluar, sehingga ruang geraknya semakin sempit. Dalam kesehariannya, Suryandi menggunakan sepeda listrik atau sepeda untuk berpindah tempat. Ia tidak bisa mengendarai motor dan tidak diizinkan bepergian jauh sendirian, termasuk keluar dari luar kota. Suryandi hanya pergi jika diajak oleh tetangga dan bisa bepergian keluar pulau apabila ditemani orang tuanya. Ketergantungan ini semakin membatasi kemandirian Suryandi.

Di samping hambatan mobilitas, ada sejumlah kondisi yang membuatnya semakin kesulitan menavigasi kehidupan di luar rumahnya. Suryandi tidak memiliki teman dekat. Pun dengan kondisinya yang belum mengenal bahasa isyarat semakin menyulitkannya untuk berkomunikasi. Kondisi ini sering menimbulkan kesalahpahaman, bahkan membuat orang di sekitarnya menjadi marah atau tidak sabar. Akibatnya, Suryandi menjadi lebih tertutup dan sensitif, serta memilih menjauh dari interaksi sosial.

Secara emosional, Suryandi terlihat sebagai pribadi yang pemalu, sering senyum dengan kepala menunduk. Ia sudah menyimpan banyak hal yang tidak bisa diungkapkan. Kepercayaan dirinya rendah dan pikirannya cenderung tertutup karena kurangnya pengalaman berinteraksi dan dukungan sosial. Sampai saat ini, Suryandi belum pernah menjalin hubungan atau menikah. Selain bekerja, ia tidak memiliki kegiatan lain yang mendukung pengembangan diri atau interaksi sosial.

Suryandi tidak pernah mengenyam pendidikan formal. Suryandi tidak dapat membaca dan menulis dan baru mengetahui identitas dirinya melalui KTP ketika dibantu oleh orang lain. Hal ini menunjukkan betapa minimnya akses pendidikan yang Suryandi terima sejak kecil. Suryandi adalah seorang laki-laki yang berpenampilan perempuan. Ketertarikan ini muncul sejak suryandi masih kecil, ketika ia belum memiliki pemahaman yang baik tentang konsep gender, sehingga ia meniru gaya dari teman-teman perempuannya di sekitarnya. Sejak kecil hingga sekarang Suryandi masih sering mengenakan pakaian perempuan. Saudara-saudaranya sering melarangnya memakai pakaian perempuan dan riasan wajah, tetapi ia tetap memakainya.

PARKIR Makassar kel. 1
(Foto 1) Datang ke rumah Kak Suryandi untuk wawancara; (Foto 2) Kak Suryandi tidak sekolah karena malu tidak bisa berkomunikasi; (Foto 3) Ilustrasi aktivitas sehari-hari Kak Suryandi, salah satunya bersih-bersih rumah; (Foto 4) Ia belum bisa mandiri untuk pergi jauh sendiri, sehingga harus ditemani tetangga saat di luar kota.
PARKIR Makassar kel. 1
(Foto 1) Aulia belum menguasai bahasa isyarat, sehingga cenderung mengekspresikan diri secara terbatas dan lebih banyak diam; (Foto 2) aktivitas bermain clay menjadi salah satu bentuk ekspresi non-verbal yang dilakukan aulia; (Foto 3) saat diajak berkomunikasi menggunakan bahasa isyarat, aulia merasa malu dan tidak mau merespons.

Kami juga bertemu dengan Aulia. Ia menempuh pendidikan di salah satu sekolah umum di pulau Barrang Lompo, saat berusia 8 tahun. Namun sistem pembelajaran di sana tidak inklusif. Guru hanya memintanya menyalin tulisan di papan tanpa memberikan metode khusus yang sesuai dengan kebutuhan aulia sebagai anak Tuli. 

Dalam kesehariannya, Aulia belum menggunakan bahasa isyarat secara aktif. Ketika dipanggil atau ajak berinteraksi, ia cenderung malu dan memilih untuk tidak merespons ajakan komunikasi secara langsung. namun demikian, aulia memiliki bentuk komunikasi alternatif melalui gestur sederhana. Misalnya ketika ia menginginkan es krim, ia akan menirukan gerakan orang yang sedang makan makan es krim untuk menyampaikan keinginannya. Aulia juga diketahui lebih nyaman berinteraksi dengan ibunya dibandingkan dengan orang lain. Dalam situasi sosial. Ia sering mengalihkan perhatian pada permainan yang disukainya seperti clay, ketika orang lain mencoba berkomunikasi dengannya. Hal ini menunjukkan bahwa ia memiliki cara tersendiri dalam membangun rasa aman dan kenyamanan dalam beraktivitas. 

Di lingkungan tempat tinggalnya, belum ada advokasi atau dukungan inklusi bagi teman Tuli. Hal ini membuat aulia tumbuh tanpa akses komunikasi yang memadai dan berisiko mengalami keterlambatan perkembangan bahasa dan sosial.

Berdasarkan kisah Suryandi dan Aulia, terlihat jelas bahwa aspek inklusi bagi teman Tuli masih sangat minim dan memerlukan perhatian serius. Hambatan utama dimulai dari kurangnya akses terhadap bahasa isyarat yang merupakan kunci komunikasi, serta sistem pendidikan inklusif yang belum mampu menyediakan metode pembelajaran adaptif sehingga menghambat peluang masa depan mereka. Kondisi ini diperparah oleh rendahnya kesadaran lingkungan, di mana masyarakat belum memahami cara berinteraksi dengan teman Tuli yang sering kali memicu kesalahpahaman. Selain itu, minimnya dukungan sosial dan ruang komunitas yang inklusif membuat mereka merasa terisolasi, sementara kurangnya pelatihan kemandirian membatasi mobilitas serta rasa percaya diri mereka dalam mengambil keputusan hidup yang krusial.

Kondisi ini menunjukkan bahwa perjalanan bukan sekadar berpindah tempat, tetapi soal siapa yang benar-benar bisa bergerak. Kenyataan lainnya adalah keberadaan odong-odong. Satu sisi sebagai sarana transportasi sekaligus hiburan warga pulau yang murah meriah. Menjadi tumpangan anak-anak untuk pergi ke tempat mengaji atau sekadar mampir ke warung tetangga. Bahkan, tak jarang ibu-ibu memanfaatkannya untuk menidurkan anak kala siang bolong. Di sisi lain,suara musiknya yang menggelegar dapat mengganggu orientasi orang buta ketika bermobilitas. Bahkan, menjadi penguasa di jalan yang sempit dan sesak oleh berbagai kendaraan seperti motor, sepeda, dan sepeda listrik.

Untuk itu, dibutuhkan kesepakatan antarwarga untuk mengatur penggunaan jalan, perbaikan infrastruktur dasar seperti paving dan guiding block, serta bimbingan teknis terkait keselamatan berkendara. Selain itu, penyediaan alat bantu mobilitas, rambu visual yang sederhana, dan informasi yang jelas, baik di jalan maupun di kapal yang menjadi penting agar semua orang, termasuk teman disabilitas, dapat memahami arah perjalanan mereka. Karena pada akhirnya, perjalanan seharusnya tidak berhenti di tengah jalan, tetapi membawa setiap orang sampai ke tujuan dengan aman dan nyaman.

Lihat juga:
Kota & Transportasi