Musamus: Sarang Rayap Raksasa Bukti Keunikan Alam Papua Selatan
This article is currently only available in Indonesian
Pesona Tanah Papua seolah tak pernah habis untuk diceritakan. Dari laut yang kaya biota hingga pegunungan yang menjulang tinggi. Wilayah di ujung timur Indonesia ini dikenal memiliki ekosistem yang lengkap. Bahkan, Tanah Papua menjadi satu-satunya wilayah di Indonesia yang memiliki pegunungan tinggi dengan zona nival (daerah bersalju) pada ketinggian lebih dari 4.000 meter di atas permukaan laut. Selain itu, Tanah Papua dikenal sebagai salah satu pusat keanekaragaman hayati tertinggi, bukan hanya di Indonesia, tapi di dunia. Setidaknya terdapat 7.616 spesies tumbuhan, serta berbagai satwa endemik di Tanah Papua yang tidak dapat ditemukan di tempat lain di muka bumi.
Hal serupa juga dijumpai di Provinsi Papua Selatan, salah satu provinsi yang dimekarkan dari Provinsi Papua pada tahun 2022 serta berbatasan langsung dengan Papua Nugini (PNG). Selain dianugrahi kebudayaan tradisional yang memiliki keunikan tersendiri, wilayah yang menjadi rumah bagi lebih dari 500 ribu penduduk ini juga menyimpan kekayaan keanekaragaman hayati yang unik dan sangat beragam. Keunikan bentang alam Papua Selatan, serta Tanah Papua secara keseluruhan, tidak muncul begitu saja, tetapi hasil proses pembentukan alam yang membutuhkan waktu beribu tahun lamanya.
Widget Peta Interaktif dari GFW menampilkan Layer Key Biodiversitiy Areas (KBA)1 dan Biodiversity Intactness2 di Papua Selatan (Sumber: Global Forest Watch)
Paparan Sahul: Asal Usul Keunikan Alam Papua Selatan
Jika dicermati, jenis ekosistem dan keanekaragaman hayati Papua Selatan tampak berbeda dibandingkan dengan daerah lain di Papua. Hal ini tercermin dari banyak ditemukannya padang sabana, hutan monsun (musim), dan hewan marsupial3, hewan yang sangat identik dengan daratan Australia seperti walabi (Macropus agilis) dan kangguru pohon (Dendrolagus mbaiso). Perbedaan ini berakar pada sejarah geologi yang panjang dan unik, yang membentuk karakter alam Papua Selatan hingga saat ini. Sahul merupakan satu kesatuan daratan yang mencakup Australia, Pulau Papua, serta pulau-pulau di sekitarnya yang terbentuk pada masa Pleistosen. Pada masa tersebut, permukaan laut berada hingga sekitar 131 meter lebih rendah dibandingkan saat ini. Kenaikan muka laut kemudian membentuk daratan-daratan terpisah seperti yang kita kenal sekarang. Warisan geologi Sahul inilah yang menjadi fondasi terbentuknya ekosistem unik serta banyaknya flora-fauna endemik.
Di antara ekosistem unik tersebut adalah hutan monsun (monsoonal forest), ekosistem dengan tipe vegetasi Australis yang tumbuh karena perbedaan musim hujan dan kemarau yang mencolok. Hutan monsun sangat unik karena terendam pada musim hujan dan kering pada musim kemarau sehingga rentan terjadi kebakaran. Kondisi iklim yang kontras membuat tingkat keanekaragaman hayatinya relatif lebih rendah dibandingkan hutan hujan tropis. Vegetasi pohon hutan monsun di Papua Selatan didominasi Eucalyptus sp., Melaleuca sp., Acacia auriculiformis., dan Acacia mangium. Hutan ini tersebar hingga ke pesisir selatan Papua, memberikan keunikan kenaekaragaman hayati dibandingkan dengan wilayah Papua lain yang umumnya didominasi hutan hujan tropis lebat.
Kredit foto: Ahmad Nasution/WRI Indonesia
Ekosistem unik lainnya adalah hamparan padang sabana yang banyak ditemukan di Papua Selatan. Ekosistem ini tidak kalah pentingnya bagi keseimbangan alam dengan berbagai manfaat ekologis dan sosial yang sering luput dari perhatian. Ekosistem ini berperan penting dalam mitigasi perubahan iklim karena menyimpan 34% karbon yang terdapat di daratan, terutama karbon yang tersimpan di bawah permukaan tanah. Sebagai pembanding, ekosistem hutan menyimpan 39% karbon daratan. Ekosistem ini merupakan bagian dari kawasan ekoregion Trans Fly Complex, yaitu kawasan dataran rendah yang membentang di perbatasan Indonesia dan Papua Nugini.
Widget Peta Interaktif dari WRI Data Explorer menampilkan Layer Grassland Dynamics di Papua Selatan (Sumber: Land & Carbon Lab)
Padang sabana di Papua Selatan sangat istimewa karena keberadaan musamus yang tidak dapat dijumpai di daerah lain di Indonesia. Musamus adalah sarang rayap yang membentuk arsitektur alam yang menjulang tinggi dan sangat kokoh. Musamus merupakan mahakarya ekologis yang terbentuk secara alami dan mencerminkan kompleksitas ekosistem serta kekayaan keanekaragaman hayati Papua Selatan.
Kredit foto: Ahmad Nasution/WRI Indonesia
Proses Terbentuknya Musamus
Rayap tanah (Macrotermes sp.) dikenal sebagai jenis rayap yang membangun musamus. Jenis rayap ini memiliki struktur sosial berupa sistem kerajaan di dalam satu koloni rumah rayap. Serangga sosial ini membagi koloninya menjadi beberapa klasifikasi rayap (kasta) dengan tanggung jawab khusus. Di antara kasta tersebut adalah kasta rayap pekerja, prajurit, dan reproduksi (raja dan ratu rayap). Terdapat lebih dari 300 spesies rayap dari genus Macrotermes yang tersebar di Afrika, Australia, dan Asia Tenggara.
Melansir informasi yang didapatkan dari Balai Taman Nasional Wasur, musamus terbentuk dari bahan dasar rumput kering, tanah, dan air liur rayap. Rumah rayap ini dibangun pada saat menjelang musim penghujan dan saat menjelang musim panas. Rumah rayap akan mengeras bersamaan dengan penguapan air pada saat cuaca panas di musim kemarau. Pada bagian luar struktur alam ini terdapat saluran dan atap dengan kemiringan tertentu untuk mencegah masuknya air.
Besar kecilnya musamus tergantung pada jumlah koloninya. Tingginya dapat mencapai 5 meter dengan lebar 2 meter. Sumber lain menyebutkan bahwa struktur rumah rayap ini dapat mencapai ketinggian 9 meter. Ukuran yang sangat fantastis bagi rayap dengan panjang rata-rata rayap pekerja 0,8–1 cm, yang artinya mereka mampu untuk membangun struktur bangunan 900 kali lipat dari panjang tubuhnya. Sebagai gambaran, gedung tertinggi di dunia saat ini, yaitu Burj Khalifa memiliki tinggi 828 meter, kurang lebih 487 kali lipat lebih tinggi dari tinggi rata-rata manusia.
Warna musamus dipengaruhi oleh jenis tanah sebagai bahan dasar pembuatannya, biasanya berwarna coklat kemerahan atau abu-abu. Pori-pori di dalam rumah rayap mampu mempertahankan rentang suhu konstan di kisaran 29 hingga 32 derajat Celsius. Pori-pori ini berfungsi sebagai ventilasi untuk menahan udara langsung masuk dan sebagai tempat pertumbuhan mikroorganisme (jamur) yang berasal dari bahan organik yang dibawa rayap sebagai sumber makanan.
Kredit foto: Ahmad Nasution/WRI Indonesia
Mengingat musamus hanya ditemukan secara alami di wilayah Merauke, keberadaannya menjadi simbol keunikan hayati yang patut dijaga. Begitu juga dengan tingkat keanekaragaman hayati yang tinggi dan karakter ekosistem yang rentan terhadap gangguan di Papua Selatan. Karenanya, pemanfaatan alam di wilayah ini perlu dilakukan secara bijaksana dan berbasis pengetahuan ilmiah.
Membangun Masa Depan Alam Papua Selatan
Papua Selatan merupakan salah satu provinsi yang saat ini tengah mengalami percepatan pembangunan di berbagai sektor. Berbagai agenda pembangunan berskala besar tengah direncanakan dan dijalankan, termasuk Proyek Strategis Nasional (PSN) yang tertuang dalam Perpres Nomor 12 Tahun 2025 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional 2025-2029. Tiga dari 77 PSN, secara eksplisit diproyeksikan untuk dijalankan di Provinsi Papua Selatan, yaitu: (1) Pengembangan Food Estate, (2) Bioetanol Berbasis Tebu, dan (3) Penataan Kawasan Pusat Pemerintahan DOB (Daerah Otonomi Baru) Papua.
Sebanyak lebih dari 2 juta hektare lahan ditetapkan untuk area food and energy estate di Papua Selatan terutama untuk budi daya tanaman padi dan tebu. Selain itu, agenda pembangunan lainnya dalam rangka ketahanan pangan juga dikembangkan di provinsi ini, yaitu program cetak sawah baru. Program ini cukup gencar dilakukan di Papua Selatan. Berdasarkan Keputusan Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala BPN Nomor 686/SK-PG.03.03/XII/2019, Lahan Baku Sawah (LBS) Kabupaten Merauke dan Mappi (wilayah yang kini menjadi bagian dari Provinsi Papua Selatan) pada tahun 2019 tercatat seluas 30.300,54 hektar. Angka ini meningkat menjadi 43.037 hektar pada tahun 2024 berdasarkan SK Menteri ATR/BPN Nomor 446.1/SK-PG.03.03/V/2024, atau meningkat sekitar 42% dalam kurun waktu 5 tahun.
Seiring dengan gencarnya proyek pembangunan tersebut, kebutuhan akan lahan pun terus meningkat dan berpotensi meningkatkan aktivitas deforestasi. Konversi lahan di Papua Selatan (termasuk hutan monsun dan sabana) harus dilakukan dengan penuh pertimbangan. Mengacu pada data Kementerian Pertanian, Papua Selatan merupakan salah satu wilayah yang memiliki sebaran lahan sulfat masam. Jenis lahan ini dikenal memiliki kandungan pirit4 dan tingkat kemasaman tinggi (pH rendah) yang tentunya tidak cocok bagi sebagian besar tanaman pertanian.
Kredit foto: Ahmad Nasution/WRI Indonesia
Di antara bentuk pemanfaatan lahan yang berkelanjutan adalah memanfaatkan lahan yang sesuai dengan kemampuan dan kesesuaian lahannya. Karenanya, penting untuk mempertimbangkan hal tersebut dalam setiap upaya ekstensifikasi lahan guna meminimalkan risiko degradasi lingkungan dan kegagalan produksi. Selain itu, intensifikasi lahan dapat dipilih sebagai alternatif yang lebih berkelanjutan guna meningkatkan produktivitas lahan tanpa memperluas tekanan terhadap ekosistem alami.
Kredit foto: Ahmad Nasution/WRI Indonesia
Untuk memastikan hal di atas terjadi, pembangunan di Papua Selatan juga perlu dilakukan secara bersama-sama oleh para pemangku kepentingan, berbasis ilmu pengetahuan, dan berorientasi pada keberlanjutan. Hal ini senada dengan filosofi musamus yang mencerminkan nilai gotong royong, kerja kolektif, dan ketahanan jangka panjang.
1 kawasan penting secara global untuk konservasi yang ditetapkan berdasarkan kriteria integritas ekologi serta keberadaan spesies dan ekosistem yang unik
2 indikator yang mengukur sejauh mana suatu ekosistem tetap utuh dan berfungsi dibandingkan dengan kondisi alaminya, berdasarkan kelimpahan dan keragaman spesies yang ada
3 kelompok mamalia yang betinanya memiliki marsupium (kantung perut)
4 Mineral tanah FeS2 yang sering ditemukan di lahan rawa yang apabila tersingkap (teroksidasi) dapat menimbulkan kemasaman tanah yang hebat