Perubahan iklim global bukan lagi isu masa depan. Kota-kota pesisir telah mengalami dampaknya saat ini. Kenaikan suhu global, perubahan pola cuaca, serta meningkatnya frekuensi dan intensitas kejadian cuaca ekstrem mulai dirasakan secara nyata (EEA, 2025). Salah satu dampaknya adalah kenaikan muka air laut yang memperbesar risiko banjir rob di berbagai wilayah pesisir dunia, termasuk Indonesia (IPCC, 2023). Fenomena ini tidak hanya mengancam lingkungan, tetapi juga mengganggu infrastruktur, aktivitas ekonomi, dan kehidupan sehari-hari masyarakat perkotaan.

Kota Semarang menjadi salah satu contoh nyata kerentanan tersebut. Sebagai pusat ekonomi dan logistik di pesisir utara Pulau Jawa, Semarang memainkan peran penting dalam pergerakan manusia dan barang, baik di tingkat regional maupun nasional. Namun, letaknya yang berada di dataran rendah, ditambah dengan penurunan muka tanah yang signifikan–di beberapa lokasi bahkan mencapai lebih dari 10 cm per tahun–membuat kota ini sangat rentan terhadap banjir rob (100 Resilient Cities, 2016; Aditiya & Ito, 2023).

Banjir rob tidak dapat dilihat hanya sebagai fenomena alam. Risiko ini muncul dari interaksi kompleks antara faktor ekologis dan aktivitas manusia; seperti pembangunan kawasan pesisir, ekstraksi air tanah, serta tekanan urbanisasi yang tinggi (Batubara et al., 2020). Kombinasi faktor-faktor tersebut membuat banjir rob kerap terjadi hampir tiap tahun di pesisir Kota Semarang dalam lima tahun terakhir (Setyaningsih et al., 2024). 

Transportasi sebagai Sektor yang Paling Terdampak 

Salah satu sektor yang paling terdampak oleh banjir rob adalah transportasi. Ketika jalan tergenang, konektivitas kota terganggu. Aktivitas logistik terhambat, angkutan umum tidak dapat beroperasi optimal, dan masyarakat harus mencari jalur alternatif yang lebih jauh dan memakan waktu (Sidiq, 2025; Babel, 2024). Dalam beberapa kejadian, fungsi jalan utama, seperti jalur Pantura Semarang-Demak, bisa benar-benar lumpuh karena ketinggian genangan banjir rob yang mencapai 30–50 cm (Safuan, 2025). Tidak hanya pada jalan-jalan utama, banjir rob juga berdampak pada warga di permukiman dan pusat kegiatan ekonomi lokal. 

Banjir Rob Semarang
Gambar 1. Kendaraan melewati Jalan Raya Semarang - Demak yang tergenang banjir. (Aji Styawan/Greenpeace)

Berdasarkan analisis spasial oleh Tim Urban Mobility dalam Program Wahana Riset Indonesia 3.0, sekitar lebih dari 10,60% jaringan jalan di Kota Semarang yang menampung sekitar 11,46% volume lalu lintas berisiko terdampak banjir rob. Risiko ini tidak hanya terkonsentrasi pada jalan arteri nasional, tetapi juga pada jalan kolektor dan jalan lingkungan yang menopang mobilitas harian warga. Beberapa ruas jalan dengan tingkat risiko tinggi berada di kawasan Semarang Bawah1, khususnya di wilayah yang memiliki kombinasi genangan rob berulang, drainase yang tidak optimal, serta volume lalu lintas yang tinggi.

Banjir rob yang menggenangi jalan utama dan jalan lingkungan memaksa masyarakat untuk mengubah pola mobilitas mereka. Pada penelitian yang sama, beberapa pemangku kepentingan di Semarang menjelaskan bahwa pengguna angkutan umum sering kali kehilangan akses karena rute terputus atau layanan dihentikan sementara. Tidak hanya itu, komuter harian seperti pekerja atau pelajar harus memutar rute untuk mencari jalur aman, yang berarti peningkatan waktu tempuh dan biaya perjalanan. Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat menurunkan produktivitas dan memperbesar beban ekonomi rumah tangga. Selain itu, bagi penyandang disabilitas, banjir rob menambah lapisan hambatan mobilitas yang sejak awal sudah terbatas.

Gangguan transportasi akibat banjir rob turut berdampak pada arus distribusi barang. Ketika arus logistik tersendat, pasokan terganggu dan harga kebutuhan pokok berpotensi meningkat, menekan stabilitas ekonomi lokal. Hasil estimasi memperkirakan kerugian ekonomi tahunan akibat banjir rob di Semarang dapat mencapai ratusan miliar rupiah (Yusuf & Gonsaga, 2025). Dengan skala dampak sebesar ini, adaptasi transportasi terhadap banjir rob menjadi kebutuhan mendesak demi menjaga kelancaran mobilitas perkotaan.

Perlu solusi adaptasi yang terintegrasi untuk meningkatkan ketahanan transportasi 

Untuk menghadapi dampak banjir rob yang semakin kompleks, strategi adaptasi transportasi di Kota Semarang perlu dirancang secara terintegrasi dan berorientasi jangka panjang. Adaptasi tidak cukup hanya berfokus pada pemulihan fungsi jalan, tetapi juga harus memastikan adanya manfaat silang (co-benefit) bagi pengurangan risiko banjir rob, keberlanjutan lingkungan, serta kesejahteraan sosial ekonomi masyarakat. Misalnya, mengintegrasikan perlindungan infrastruktur fisik pesisir dengan restorasi lingkungan pesisir. Tanpa pendekatan yang komprehensif, upaya penanganan banjir di jaringan jalan berisiko justru memindahkan masalah ke kawasan lain atau memperparah genangan di sekitarnya.

Selama ini, peninggian jalan kerap menjadi solusi yang diambil. Strategi ini memang dapat menjaga fungsi jalan dalam jangka pendek, terutama pada ruas-ruas jalan utama. Namun, pengalaman di banyak kota pesisir dunia menunjukkan bahwa peninggian jalan cenderung mahal dan kurang berkelanjutan dalam jangka panjang, sehingga perlu diposisikan sebagai bagian dari paket solusi, bukan sebagai satu-satunya jawaban (Black & Pyatt, 2021). Dalam konteks Semarang, pendekatan struktural berskala besar seperti pembangunan Tol Tanggul Laut juga berpotensi meningkatkan perlindungan jaringan jalan strategis dari genangan rob. Meski demikian, agar lebih berkelanjutan, pendekatan ini tetap perlu dikombinasikan dengan strategi adaptasi lainnya sehingga manfaat yang dihasilkan tidak hanya terbatas pada aspek teknis infrastruktur, tetapi juga mendukung fungsi ekologis dan pengurangan risiko rob secara menyeluruh.

Hasil penelitian yang dilakukan oleh Tim Urban Mobility dalam Program Wahana Riset Indonesia 3.0 menunjukkan bahwa adaptasi transportasi terhadap banjir rob perlu disesuaikan dengan karakteristik risiko dan fungsi masing-masing ruas jalan. Pada jalan nasional dan arteri utama dengan risiko tinggi dan volume lalu lintas besar, strategi adaptasi struktural seperti penguatan perkerasan jalan, peningkatan kapasitas drainase, serta sistem pemantauan genangan secara real-time tetap dibutuhkan untuk menjaga konektivitas kota. Strategi ini berperan sebagai respons cepat agar mobilitas dan distribusi barang tidak terhenti saat banjir rob terjadi.

Namun, untuk menciptakan ketahanan jangka panjang, strategi teknis tersebut perlu dikombinasikan dengan pendekatan berbasis lingkungan dan kawasan. Integrasi vegetasi di sekitar koridor jalan, peningkatan sistem resapan air, serta pengelolaan limpasan permukaan dapat membantu mengurangi tekanan banjir sekaligus meningkatkan kualitas ruang kota. Selain itu, pengarusutamaan risiko banjir rob dan bencana iklim lainnya ke dalam dokumen tata ruang dan perencanaan sektoral menjadi krusial untuk memastikan bahwa arah pembangunan transportasi dan infrastruktur kota selaras dengan prinsip ketangguhan iklim.

Lebih jauh, adaptasi transportasi tidak bisa dilepaskan dari keterpaduan wilayah hulu dan hilir. Upaya peningkatan retensi air di kawasan hulu, melalui ruang terbuka hijau, biopori, atau infrastruktur resapan (seperti misalnya Pipa Resap Horizontal), berperan penting dalam mengurangi limpasan yang memperparah genangan di pesisir. Dengan pendekatan yang terintegrasi lintas sektor dan lintas wilayah, transportasi dapat menjadi arena strategis untuk membangun Kota Semarang yang lebih tangguh dalam menjaga pergerakan orang, barang dan konektivitas perkotaan, mampu pulih lebih cepat ketika menghadapi gangguan, serta siap menghadapi tantangan perubahan iklim di masa mendatang. 


1Warga Semarang lazim menyebutkan pembagian wilayah kota mereka ke dalam dua wilayah, yaitu Semarang Atas di bagian selatan yang berciri kontur berbukit, serta Semarang Bawah di bagian utara yang didominasi oleh dataran rendah. 

Featured WRI Experts:
Rizkiana Sidqiyatul Hamdani -

Research and Data Integrity Lead