Di Balik Layar Inovasi WRI Indonesia: Kisah Para Pengembang yang Membangun Dampak
Tulisan ini disusun berdasarkan wawancara dengan Fathir Mohamad (Product and Engineering Manager WRI Indonesia) dan Abdan Syakuro (Product Design and User Research Analyst WRI Indonesia).
Selama lebih dari satu dekade berdiri, WRI Indonesia telah mengembangkan berbagai platform digital untuk mendukung riset, kebijakan, dan kolaborasi lintas sektor. Di balik proses itu, ada tim kecil yang menjadi penggerak utama inovasi teknologi di lembaga ini, yang kini disebut Data Lab Indonesia.
Data Lab Indonesia merupakan unit inti yang berfokus pada inovasi data, teknologi, dan pengembangan produk. Gagasan Data Lab pertama kali muncul di kantor WRI Global, dan Indonesia menjadi negara pertama yang menerapkannya sebagai proyek percontohan di seluruh jaringan WRI. Langkah ini menandai posisi strategis WRI Indonesia dalam ekosistem inovasi digital, sekaligus memperkuat komitmen lembaga untuk mendorong pengambilan keputusan berbasis data di tingkat nasional maupun lokal.
Meskipun baru resmi dibentuk tahun lalu, orang-orang di dalamnya sudah lama terlibat dalam pengembangan sistem digital WRI Indonesia. Mereka telah menumbuhkan ekosistem teknologi yang kini menjadi bagian penting dari upaya lembaga ini mendorong keberlanjutan di Indonesia dan lebih luas lagi.
Salah satu sosok yang menjadi bagian penting dari perjalanan tersebut adalah Fathir Mohamad, Product and Engineering Manager WRI Indonesia. Sejak bergabung dengan WRI Indonesia pada 2018, Fathir telah memantau perkembangan sekitar 80 produk digital. Dari jumlah itu, hanya sekitar 20 yang masih aktif digunakan hingga tahun 2025. Menurutnya, tantangan terbesar bukan pada sisi teknis, melainkan bagaimana memastikan inisiatif digital yang dibangun benar-benar memberi dampak. Baginya, mandat utama Data Lab adalah memastikan setiap produk relevan dan bermanfaat bagi pengguna.
Di sisi lain, Abdan Syakuro, Product Design and User Research Analyst, juga banyak terlibat dalam proses pengembangan. Ia sudah ikut membangun lebih dari 10 produk, dengan empat di antaranya masih aktif digunakan. Dari pengalamannya, Abdan melihat bahwa membangun teknologi di WRI Indonesia tidak bisa dilepaskan dari pemahaman terhadap kebutuhan pengguna di lapangan.
Salah satu proyek yang paling berkesan bagi Fathir dan Abdan adalah NbS Tool. Platform ini dikembangkan untuk mempercepat penciptaan proyek-proyek solusi berbasis alam yang berkualitas demi memberi manfaat bagi manusia, iklim, dan alam. Alat berbasis web ini menyediakan data dan analisis untuk membantu organisasi, khususnya di Asia Tenggara, mengembangkan dan mengevaluasi proyek yang dapat menarik pendanaan iklim. Melalui fitur seperti peta interaktif, analisis data, dan panduan manajemen proyek, platform ini membantu organisasi lokal mengakses data, menyusun dokumen proyek, serta meningkatkan kapasitas mereka dalam mengelola inisiatif berbasis alam.
Dalam proses pengembangannya, tim menemukan bahwa kemudahan penggunaan saja tidak cukup. Hasil uji coba awal menunjukkan tidak ada masalah berarti, namun observasi lanjutan mengungkap banyak hal yang tidak teridentifikasi sebelumnya. Untuk memahami perilaku pengguna secara lebih mendalam, tim kemudian melakukan diary study selama empat bulan. Studi ini memungkinkan mereka melihat bagaimana pengguna berinteraksi dengan sistem dalam konteks keseharian, menemukan detail-detail kecil yang sebelumnya luput, dan menjadikannya dasar pengembangan fase berikutnya.
Inisiatif lain yang memberi banyak pelajaran bagi Fathir dan Abdan adalah proyek KONEKSI Transformasi Digital di Bali. Melalui inisiatif ini, WRI Indonesia bersama Commonwealth Scientific and Industrial Research Organisation (CSIRO) dan Universitas Udayana berupaya mengatasi tantangan tata kelola rantai pasok beras di Bali dengan pemanfaatan solusi digital. Produk digital yang dikembangkan adalah Sapatani, asisten pintar berbasis WhatsApp untuk membantu petani beras menghadapi berbagai kendala di lapangan dan usulan pemutakhiran data sebaran lahan padi dan non-padi serta identifikasi siklus tanam padi pada Sistem Informasi Harga Pangan Utama dan Komoditas Strategis (SiGapura) Provinsi Bali yang baru diluncurkan pada November tahun lalu.
Dalam proses pengembangan Sapatani dan pemutakhiran data sebaran lahan serta siklus tanam pada SiGapura, tim Data Lab Indonesia menemukan bahwa proses riset dan pengembangan produk sering kali berjalan secara parsial dan tidak terintegrasi. Awalnya, petani ditetapkan sebagai pengguna utama. Namun, setelah observasi langsung, mereka menyadari bahwa petani tidak membutuhkan solusi digital baru karena rutinitas mereka sudah berjalan efektif. Strategi kemudian diubah dengan menjadikan pemerintah daerah sebagai pengguna utama, sementara petani tetap menjadi penerima manfaat tidak langsung. Pendekatan ini dilakukan melalui proses panjang, termasuk kegiatan live in bersama petani untuk memahami kebiasaan dan kebutuhan mereka. WhatsApp dipilih lantaran platform ini sudah menjadi bagian dari rutinitas petani dan pemerintah daerah, sehingga solusi yang ditawarkan tidak menambah beban baru dan lebih mudah diadopsi.
Proses dalam proyek KONEKSI Transformasi Digital memberikan pembelajaran penting bahwa asumsi pengembang belum tentu sesuai dengan kenyataan. Ada beberapa fitur yang dianggap bermanfaat, namun justru menambah beban kerja bagi petani karena tidak sesuai dengan rutinitas mereka. Namun di sisi lain, kolaborasi dengan pemerintah daerah berjalan dengan baik. Pemerintah daerah setempat dinilai sangat suportif dan memiliki tujuan yang sejalan, sehingga komunikasi dan koordinasi menjadi lebih efektif.
Selain dua proyek di atas, Fathir juga mengingat pengalaman mengembangkan Urundata, platform verifikasi bentang lahan yang dikembangkan di bawah proyek RESTORE+ sejak 2017. Platform ini digunakan untuk melibatkan berbagai pihak dalam pemantauan serta identifikasi penutupan dan penggunaan lahan di Indonesia. Dari pengalaman itu, lahir inisiatif lanjutan bernama EPISTEM pada 2025, yang berfokus pada pengembangan teknologi pemetaan dinamis. Melalui EPISTEM, setiap pemangku kepentingan dapat membuat, memperbarui, dan menyesuaikan peta penggunaan lahan sesuai kebutuhan, sekaligus memperbaiki klasifikasi lahan berdasarkan metode dan teknologi yang lebih mutakhir.
Pengalaman Fathir menunjukkan bahwa kecanggihan teknologi tidak selalu sejalan dengan kesiapan pengguna. Dalam pengembangan Urundata, misalnya, sistem yang sangat canggih justru sulit digunakan karena banyak pengguna di Palembang tidak memiliki ponsel dengan GPS ataupun sistem navigasi. Di Kalimantan Timur, perbedaan jenis perangkat menjadi kendala lain: aplikasi dibuat untuk Android, sementara sebagian besar pengguna memakai perangkat dengan iOS. Akibatnya, data yang terkumpul jauh lebih sedikit dari yang diharapkan. Pengalaman itu menegaskan pentingnya riset pengguna dan sosialisasi sejak awal pengembangan.
Dari seluruh pengalaman tersebut, Abdan menyimpulkan bahwa kemampuan paling penting dalam pengembangan produk bukan hanya pada aspek teknis, tetapi pada proses mendefinisikan ruang masalah dan ruang solusi. Ia berpegang pada prinsip double diamond: memulai dari observasi untuk memahami permasalahan, mendefinisikan kebutuhan, kemudian merancang solusi yang tepat. Metode ini menjaga agar solusi berangkat dari kebutuhan nyata, bukan asumsi.
Fathir menilai pemahaman tentang pentingnya mendefinisikan masalah dan kebutuhan pengguna sebelum merancang solusi seharusnya juga dimiliki oleh peneliti dan manajer proyek di berbagai organisasi, termasuk WRI Indonesia. Selama ini, beberapa proyek nampak kurang memahami akar masalah di lapangan. Menurutnya, memperluas pemahaman berbasis kebutuhan pengguna akan membantu seluruh organisasi memperbaiki cara bekerja dan menghasilkan solusi yang lebih efektif.
Di tengah dinamika pekerjaan, keduanya punya cara sendiri untuk menjaga motivasi. Bagi Fathir, teknologi sudah menjadi bagian dari dirinya sendiri, sehingga sulit dibedakan antara pekerjaan dan hobi. Sementara Abdan mengakui bahwa rasa jenuh kadang muncul ketika pekerjaan menumpuk dan dampaknya belum terlihat. Namun ia belajar untuk bekerja dengan penuh kesadaran (mindful), menjadikan setiap proses sebagai cara untuk memberi manfaat bagi orang lain.
Kisah mereka menunjukkan bahwa di balik setiap platform digital WRI Indonesia, ada perjalanan panjang penuh riset, empati, dan adaptasi. Bagi tim Data Lab Indonesia, teknologi bukan tujuan akhir, melainkan alat untuk memahami manusia dan memperkuat kerja kolaboratif menuju masa depan yang lebih berkelanjutan.