Sabtu pagi, 11 Juli 2026 lalu, Bandung belum sepenuhnya sibuk. Di Nara Park, sejumlah orang mulai berdatangan. Di antara percakapan dan aroma makanan yang keluar dari dapur restoran, sebuah persoalan yang sering luput dari perhatian sedang dibicarakan: makanan yang tidak pernah habis di atas piring.

Sisa nasi, potongan sayur, kulit buah, atau makanan yang hanya disentuh beberapa kali mungkin terlihat seperti masalah kecil. Setelah piring dibawa pergi oleh pramusaji, sisa makanan itu tidak lagi terlihat oleh para pelanggan di restoran. Tapi bagi sebuah kota, perjalanan sisa makanan itu belum berakhir. Ia akan masuk ke dalam rantai pengelolaan sampah yang setiap hari harus menampung ribuan ton buangan dari rumah tangga, pasar, restoran, dan berbagai tempat usaha.

Kota Bandung menghasilkan sekitar 1.492 ton sampah setiap hari. Sekitar 44–45 persen di antaranya merupakan sampah makanan. Data timbulan yang masif ini terdokumentasikan dalam laporan Dinas Lingkungan Hidup Kota Bandung tahun 2024. Angka itu menunjukkan bahwa persoalan sampah makanan tidak hanya berkaitan dengan apa yang dilakukan setelah makanan terbuang, tetapi juga dengan keputusan yang dibuat jauh sebelumnya: berapa banyak makanan yang diambil, dipesan, disiapkan, dan akhirnya benar-benar dimakan.

Di ujung sistem pengelolaan sampah, persoalan itu bertemu dengan keterbatasan tempat pemrosesan akhir (TPA). TPA Sarimukti, yang selama ini menjadi salah satu tempat utama pembuangan sampah dari kawasan Bandung Raya, menghadapi tekanan akibat tingginya timbulan sampah.

Melihat masalah tersebut, WRI Indonesia meluncurkan kampanye “Tong Kalap, Tong Nyesa!” di restoran Nara Park, Bandung. Kampanye ini merupakan bagian dari program Urban Futures, sebuah program global yang mendorong solusi kota berkelanjutan dengan dukungan dari Yayasan Humanis dan Inovasi Sosial, serta kolaborasi dengan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Bandung.
 

Tong Kalap Tong Nyesa
Peluncuran kampanye “Tong Kalap, Tong Nyesa” turut dihadiri oleh perwakilan dari Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kota Bandung, Dinas Lingkungan Hidup Kota Bandung, serta perwakilan sepuluh mitra kafe dan restoran. Kredit: Naya Studio untuk WRI Indonesia. 

“Sebagai pelaku usaha kuliner, kami juga memiliki tanggung jawab untuk mengedukasi pelanggan agar lebih bijak dalam mengonsumsi makanan. Melalui kolaborasi ini, kami berharap dapat menjadi bagian dari perubahan tersebut,” ujar Erick Jusuf, pemilik Nara Park.

 

Orang Muda Bandung yang Senang Makan

Lebih dari seperlima penduduk Kota Bandung merupakan orang muda. Mereka adalah kelompok yang tidak hanya aktif mengonsumsi berbagai produk dan layanan, tetapi juga memiliki kemampuan besar dalam membentuk tren dan kebiasaan baru. Di kota ini, pilihan makanan hampir selalu mudah ditemukan. Dari warung sederhana di permukiman warga hingga restoran dan kafe yang tumbuh di berbagai sudut kota. Makanan telah menjadi bagian penting dari kehidupan kota.

Bagi orang muda, kafe dan restoran bahkan memiliki fungsi yang lebih luas daripada sekadar tempat makan. Meja-meja di dalamnya menjadi ruang untuk bertemu teman, menyelesaikan pekerjaan, mengerjakan tugas, membuat konten, berdiskusi, atau sekadar menghabiskan sore sambil menikmati secangkir kopi.

Karena itu, percakapan mengenai sampah makanan terasa relevan di Bandung. Kampanye Tong Kalap, Tong Nyesa! Lalu menempatkan kafe dan restoran sebagai ruang untuk memulai perubahan sekaligus menjadikan orang muda sebagai salah satu penggeraknya.

Sepuluh kafe dan restoran dilibatkan sebagai mitra, yaitu Bagi Kopi Dago, Greens and Beans, Hutanika, Kopitera Burangrang, Milestone, Nara Park, NERD Laboratory, Pho Ngon, Tedja Coffee di Saparua, serta Work Unusual. Di tempat-tempat tersebut, pengunjung akan menemukan materi komunikasi, permainan edukatif, dan berbagai aktivitas interaktif yang dirancang untuk membuat persoalan sampah makanan terasa lebih dekat dengan pengalaman mereka sehari-hari.

Dengan cara itu, pesan kampanye tidak hanya berhenti pada imbauan untuk menjaga lingkungan. Ia ditempatkan di tempat ketika keputusan tentang makanan benar-benar dibuat. Ada pelanggan yang memesan makanan. Ada pekerja restoran yang menyiapkan makanan. Ada pemilik usaha yang menghitung bahan baku. Ada pula orang muda yang diharapkan membawa pengetahuan itu kembali ke rumah dan komunitasnya. Semuanya berada dalam satu rantai yang sama.

Kampanye ini menggunakan percakapan sehari-hari orang Sunda. Tong berarti “jangan”, sedangkan nyesa berarti “menyisakan”. Sementara kalap digunakan untuk menggambarkan perilaku mengambil atau memesan makanan secara berlebihan karena lupa mempertimbangkan apakah makanan tersebut akan benar-benar dihabiskan.

Dalam konteks kampanye, Tong Kalap, Tong Nyesa! mengandung ajakan yang sederhana: jangan lupa diri saat mengambil makanan, dan jangan menyisakan yang sudah diambil atau dipesan.

Kampanye ini mencoba membuat orang berhenti sejenak pada momen-momen kecil tersebut.
Untuk membuat pesan itu lebih dekat dengan kehidupan masyarakat Bandung, kampanye menghadirkan Teh Lidi, maskot yang terinspirasi dari piring anyaman lidi yang banyak ditemukan dalam tradisi makan masyarakat Jawa Barat. Bentuk piring tersebut dipilih bukan sekadar sebagai elemen visual, tetapi sebagai pengingat bahwa perubahan yang ingin didorong oleh kampanye memang berawal dari benda yang sangat dekat dengan aktivitas makan.

Nama “Teh” juga dipilih dengan pertimbangan tertentu. Riset WRI Indonesia bersama AdvisLab menunjukkan bahwa perempuan memiliki peran penting dalam berbagai keputusan terkait makanan di rumah. Karena itu, Teh Lidi dirancang sebagai sosok yang akrab dan hangat, bukan figur yang datang untuk menghakimi seseorang karena menyisakan makanan. Ia lebih menyerupai pengingat kecil yang hadir di tengah aktivitas makan.
 

Ketika Sampah Mulai Dihitung

Di restoran, makanan yang terbuang bukan hanya soal apa yang tersisa di piring pelanggan. Bahan makanan yang terlalu banyak disiapkan, makanan yang tidak terjual, bagian bahan pangan yang terbuang saat proses persiapan, hingga makanan yang tidak habis dikonsumsi dapat menjadi bagian dari persoalan yang sama.

Karena itu, sepuluh restoran dan kafe mitra tidak hanya diajak untuk menyampaikan pesan kampanye kepada pelanggan. Mereka juga memperoleh pelatihan untuk mengukur timbulan sampah makanan dan menggunakan data tersebut sebagai bahan evaluasi operasional.

“Program ini membuka perspektif baru bahwa pengurangan food waste bukan hanya tanggung jawab pelanggan, tetapi juga pelaku usaha. Melalui pelatihan dari WRI Indonesia, kami kini memiliki data timbulan sampah makanan yang dapat menjadi dasar untuk meningkatkan efisiensi operasional. Kami berharap kolaborasi seperti ini terus berkembang sehingga memberikan manfaat yang lebih luas bagi pelaku usaha maupun masyarakat,” ujar Geza Isprimanto, Store Leader Milestone.

Perspektif tersebut mulai terlihat dalam interaksi sehari-hari dengan pelanggan. Salah satu mitra menemukan bahwa kebiasaan memesan makanan secara berlebihan tidak selalu berarti pelanggan membutuhkan lebih banyak makanan.

“Awalnya banyak pelanggan memesan kopi susu, snack, dan rice bowl sekaligus karena berpikir sekalian. Setelah table tent kampanye Tong Kalap, Tong Nyesa! dipasang, mereka mulai bertanya kepada barista mengenai pilihan makanan dan porsi yang sesuai. Dari situ kami menyadari bahwa makanan yang tersisa tidak selalu karena rasanya tidak cocok, tetapi bisa karena porsinya berlebihan. Kami sempat khawatir menawarkan porsi secukupnya akan menurunkan omzet, tetapi ternyata pelanggan justru kembali untuk mencoba menu lainnya. Sampah makanan berkurang, sementara repeat order meningkat,” ujar Dian Andriani David, Operasional Manager Bagi Kopi Dago.

Hingga Oktober 2026, WRI Indonesia juga akan mengukur apakah rangkaian intervensi tersebut benar-benar menghasilkan perubahan. Pengukuran baseline dan endline timbulan sampah makanan dilakukan di sepuluh kafe dan restoran mitra dengan mengacu pada metode baku nasional yang dikeluarkan Bapanas, Bappenas, dan KSPL. Hasil pengukuran ini akan digunakan untuk menilai efektivitas kampanye dalam mendorong perubahan perilaku dan menurunkan timbulan sampah makanan.

Kampanye ini juga tidak ingin berhenti di meja restoran. Melalui Barudak Beraksi, sepuluh kelompok orang muda akan dipilih untuk menyusun dan menjalankan aksi pengurangan sampah makanan di komunitas mereka.

Sementara itu, Barudak Ngajarkeun dirancang untuk membekali orang muda dengan kemampuan menjadi fasilitator edukasi pengelolaan sampah. Modul yang dikembangkan WRI Indonesia bersama AdvisLab akan menjadi salah satu alat bagi mereka untuk membawa pengetahuan tersebut ke lingkungan masing-masing.

Dengan pendekatan ini, orang muda tidak hanya ditempatkan sebagai penerima pesan. Mereka diharapkan menjadi orang yang meneruskan pesan tersebut.

Bandung mungkin belum akan terbebas dari sampah makanan hanya karena Tong Kalap, Tong Nyesa! Namun, kampanye ini mencoba memulai percakapan dari tempat yang paling dekat dengan kehidupan sehari-hari: meja makan.

Sebab sebelum makanan menjadi sampah, selalu ada satu titik ketika seseorang masih memiliki pilihan. Ia bisa mengambil lebih banyak atau secukupnya. Ia bisa memesan karena lapar atau karena sekadar tergoda. Ia bisa meninggalkan makanan atau menghabiskannya.
Di titik kecil itulah sebuah perubahan mungkin bermula.

Bukan di tempat sampah, melainkan beberapa langkah sebelumnya, ketika makanan masih hangat, piring masih penuh, dan seseorang masih bisa memilih untuk tidak menyisakannya.**


######

**Artikel ini dapat tersusun berkat dukungan dari Yayasan Humanis dan Inovasi Sosial melalui program Urban Futures.

Gambar pratinju oleh Naya Studio untuk WRI Indonesia

Lihat juga:
pangan