Di tengah meningkatnya tuntutan terhadap transparansi, ketelusuran, dan penerapan praktik berkelanjutan dalam rantai pasok sawit, petani sawit swadaya memegang peran yang semakin strategis dalam industri sawit Indonesia. Mengelola sekitar 40 persen dari total luas perkebunan sawit nasional, petani swadaya menjadi bagian penting dalam mewujudkan rantai pasok sawit yang lebih berkelanjutan. Namun, petani swadaya masih menghadapi berbagai tantangan, mulai dari produktivitas yang belum optimal, penguatan kelembagaan, pemenuhan legalitas lahan, hingga penerapan standar keberlanjutan seperti Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO) dan Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO). Karena itu, diperlukan kolaborasi dari berbagai pihak mulai dari pemerintah, sektor swasta, akademisi, organisasi masyarakat sipil, dan kelompok petani, untuk mendukung transformasi petani sawit swadaya yang inklusif dan berkelanjutan.

Di Kabupaten Kampar, WRI Indonesia berkolaborasi dengan Unilever berupaya mendukung transformasi petani sawit swadaya yang berkelanjutan melalui inisiatif Smallholder Hub. Sejak tahun 2024, inisiatif ini telah mendampingi petani sawit swadaya melalui berbagai upaya untuk meningkatkan produktivitas, memperkuat kelembagaan petani, serta mendorong penerapan praktik budi daya yang lebih berkelanjutan.

Sebagai bagian dari inisiatif ini, pada Juni 2026, WRI Indonesia menyelenggarakan Diskusi dan Evaluasi Program Pemberdayaan Petani Sawit Swadaya Menuju Rantai Pasok Berkelanjutan Kabupaten Kampar di Bangkinang, Ibu Kota Kabupaten Kampar. Kegiatan ini menjadi ruang refleksi bersama untuk meninjau perkembangan program yang telah berjalan sejak tahun 2024 sekaligus memperkuat arah implementasi program pada tahun-tahun mendatang.

foto bersama FGD Kabupaten Kampar
Tim Smallholder Hub WRI Indonesia bersama berbagai pemangku kepentingan yang hadir dalam kegiatan

Kegiatan ini melibatkan berbagai pemangku kepentingan dalam pengembangan sawit berkelanjutan di Kabupaten Kampar, mulai dari pemerintah Kabupaten Kampar, perusahaan sawit, akademisi, organisasi masyarakat sipil, hingga kelompok petani dampingan Smallholder Hub.

Meninjau Perjalanan Dua Tahun Pendampingan Petani Sawit Swadaya

Dalam kegiatan ini, para peserta memperoleh gambaran mengenai perkembangan program yang telah dilaksanakan selama periode 2024-2026. Berbagai kegiatan yang dijalankan melalui inisiatif Smallholder Hub bertujuan mendukung peningkatan kapasitas petani, penguatan kelembagaan, penerapan praktik perkebunan berkelanjutan, serta peningkatan kesiapan petani dalam memenuhi berbagai standar keberlanjutan yang terus berkembang.

Selama dua tahun terakhir, Smallholder Hub telah menyelenggarakan berbagai pelatihan bagi petani sawit swadaya di Kabupaten Kampar. Materi yang diberikan mencakup Best Management Practices (BMP), Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3), Nilai Konservasi Tinggi (NKT), pengenalan prinsip dan kriteria RSPO, penguatan manajemen kelompok, gender dan literasi keuangan, serta penghidupan alternatif. Melalui berbagai pelatihan tersebut, petani dibekali pengetahuan dan keterampilan sebagai landasan untuk menerapkan praktik perkebunan sawit yang berkelanjutan.

Selain pelatihan, petani juga memperoleh pendampingan dalam penerapan praktik perkebunan berkelanjutan melalui analisis daun dan tanah, penerapan praktik pertanian regeneratif, pengembangan bisnis pupuk, penguatan kelembagaan kelompok, serta persiapan pemenuhan standar sertifikasi RSPO. Berbagai kegiatan tersebut dirancang untuk mendukung peningkatan produktivitas dan daya saing petani sawit swadaya secara berkelanjutan.

Premium Fee RSPO
Penyerahan secara simbolis Premium Fee RSPO oleh perwakilan Pemerintah Kabupaten Kampar kepada KP Kusuma Bakti Mandiri, salah satu kelompok petani binaan Smallholder Hub yang telah memperoleh sertifikasi RSPO

Hingga Juni 2026, inisiatif Smallholder Hub di Kabupaten Kampar telah mendampingi 11 lembaga petani dengan total 3.449 petani swadaya yang terdaftar. Selain itu, dua kelompok petani telah berhasil memperoleh sertifikasi RSPO sebagai bagian dari upaya transformasi petani sawit swadaya berkelanjutan dan peningkatan akses terhadap pasar berkelanjutan.

Perwakilan Pemerintah Kabupaten Kampar menyampaikan apresiasi terhadap berbagai upaya yang telah dilakukan dalam mendukung petani sawit swadaya di daerah tersebut.

“Pemberdayaan petani sawit swadaya membutuhkan komitmen dan kolaborasi yang berkelanjutan. Pemerintah Kabupaten Kampar mengapresiasi berbagai upaya yang telah dilakukan melalui inisiatif Smallholder Hub. Ke depan, sinergi antara pemerintah sektor swasta, akademisi, dan kelompok petani perlu terus diperkuat agar petani sawit swadaya dapat meningkatkan daya saing sekaligus berkontribusi terhadap pembangunan daerah yang berkelanjutan,” ujar Marahalim, Kepala Dinas Perkebunan, Peternakan, dan Kesehatan Hewan, Kabupaten Kampar.

Ruang Belajar Bersama untuk Memperkuat Komitmen Ke Depan

Selain meninjau capaian program, forum ini juga menjadi momentum untuk merefleksikan berbagai pembelajaran yang diperoleh selama dua tahun pelaksanaan inisiatif Smallholder Hub di Kabupaten Kampar. Berbagai pengalaman di lapangan menunjukkan bahwa peningkatan kapasitas petani perlu diikuti dengan penguatan kelembagaan dan dukungan yang berkelanjutan agar perubahan yang dihasilkan dapat bertahan dalam jangka panjang.

“Transformasi petani sawit swadaya tidak dapat dicapai melalui satu intervensi saja. Dibutuhkan pendekatan yang menyeluruh, mulai dari peningkatan kapasitas petani, penguatan kelembagaan, hingga dukungan dari berbagai pemangku kepentingan. Forum evaluasi ini menjadi momentum penting untuk merefleksikan capaian yang telah diraih bersama, sekaligus mengidentifikasi langkah-langkah yang perlu diperkuat agar dampak program dapat terus berkembang dan menjangkau lebih banyak petani,” ujar Ermaliza, District Coordinator Kampar, Smallholder Hub, WRI Indonesia.

Dari sesi diskusi dihasilkan sejumlah masukan terkait arah pengembangan program ke depan. Para peserta menekankan pentingnya melanjutkan kolaborasi yang telah terbangun, memperkuat koordinasi antar lembaga, serta memastikan berbagai program yang berjalan dapat saling mendukung dan menjawab kebutuhan petani secara lebih efektif.

Sebagai tindak lanjut, para pemangku kepentingan menyoroti pentingnya penguatan data lintas lembaga, peningkatan kapasitas petani, pengembangan praktik pertanian regeneratif, penguatan dukungan bagi petani yang belum mengarah pada sertifikasi RSPO, serta peningkatan akses terhadap berbagai program pendukung yang dapat membantu meningkatkan produktivitas dan kesejahteraan petani.

Ke depan, berbagai masukan yang dihimpun melalui kegiatan ini akan menjadi dasar untuk memperkuat implementasi inisiatif Smallholder Hub pada periode 2026-2028.  Dengan dukungan dan keterlibatan pemangku kepentingan, upaya pemberdayaan petani sawit swadaya di Kabupaten Kampar diharapkan dapat terus berkembang dan memberikan manfaat yang lebih luas bagi petani maupun sektor sawit secara keseluruhan.

Lihat juga:
minyak sawit