Kelapa sawit memiliki peran strategis dalam perekonomian Indonesia. Menurut data Kementerian Pertanian, pada tahun 2024, komoditas ini menyumbang devisa ekspor mencapai Rp343 triliun. Nilai fantastis ini bukan hanya berasal dari perusahaan, melainkan juga berkat kontribusi 2,5 juta petani swadaya yang menguasai sekitar 40 persen dari total perkebunan sawit di Indonesia. Di balik perannya yang strategis, komoditas sawit menghadapi meningkatnya tuntutan global terhadap rantai pasok yang bebas deforestasi dan rendah emisi, sehingga kebutuhan untuk mengukur dan memahami sumber emisi gas rumah kaca (GRK) menjadi semakin penting. Tidak hanya pada tingkat perusahaan, transparansi emisi juga perlu menjadi perhatian hingga tingkat petani swadaya sebagai bagian dari implementasi praktik pertanian berkelanjutan, sekaligus membantu penghitungan scope 3 bagi perusahaan di dalam rantai pasok.

Menjawab tantangan ini, WRI Indonesia meluncurkan Agri Carbon Tracker, yaitu platform terbuka berbasis web yang dapat diakses secara gratis untuk membantu inventarisasi emisi GRK. Platform ini dikembangkan berdasarkan metodologi GHG Protocol untuk mendukung penghitungan emisi yang lebih praktis, terukur, dan mudah diakses.

Sebagai bagian dan implementasinya, WRI Indonesia melalui inisiatif Smallholder Hub yang didukung oleh Unilever melaksanakan uji coba penggunaan platform Agri Carbon Tracker (ACT) untuk melakukan inventarisasi dan penghitungan emisi GRK pada kelompok petani sawit swadaya dampingan di Provinsi Riau. Kegiatan ini berlangsung pada 6-9 Mei 2026 di Kabupaten Kampar, Siak, dan Rokan Hulu.

  • Uji coba ACT dilaksanakan pada empat kelompok petani swadaya dampingan Smallholder Hub yang telah memperoleh sertifikasi RSPO pada tahun 2025, yaitu KP Kusuma Bakti Mandiri, FPS Sei Garo, KPM Karya Maju, dan KUD Intan Makmur.
  • Kegiatan diawali dengan memperkenalkan isu perubahan iklim dan kaitannya dengan sektor pertanian dan budi daya sawit. Setelah itu, dilakukan pengumpulan dan inventarisasi data aktivitas perkebunan yang menjadi sumber emisi GRK di tingkat petani. Data yang dikumpulkan mencakup identifikasi penggunaan pupuk, aktivitas pengelolaan kebun, operasional kantor koperasi, transportasi barang, dan aktivitas lainnya yang relevan terhadap penghitungan emisi karbon.
Pelaksanaan uji coba Agri Carbon Tracker di KPM Karya Maju
Pelaksanaan uji coba Agri Carbon Tracker di KPM Karya Maju

Data tersebut kemudian dimasukkan ke dalam platform ACT untuk menghasilkan estimasi emisi karbon pada tingkat individu petani maupun agregat kelompok. Proses ini sekaligus menjadi ruang pembelajaran bersama bagi petani, fasilitator lapangan, dan pengurus koperasi untuk memahami proses inventarisasi emisi, serta penggunaan platform ACT di lapangan.

Mengenal Agri Carbon Tracker

Sektor sawit memiliki kontribusi emisi yang berasal dari berbagai aktivitas, mulai dari perubahan tata guna lahan (land use change), pengelolaan lahan (land management), penggunaan pupuk, dekomposisi gambut, hingga aktivitas transportasi dan operasional di tingkat kebun. Mengacu pada pendekatan GHG Protocol, khususnya Land Sector and Removals Standard (LSRS), penghitungan emisi sektor berbasis lahan seperti perkebunan perlu dilakukan secara sistematis dengan mempertimbangkan batas organisasi dan operasional, perubahan tata guna lahan, manajemen lahan, serta faktor emisi lain yang relevan.

Penghitungan emisi GRK merupakan proses yang kompleks karena memerlukan tahap identifikasi, pengukuran, dan pelaporan emisi langsung dan tidak langsung dari berbagai sumber, serta penyerapan karbon dalam waktu tertentu. Kompleksitas ini menjadi tantangan bagi petani swadaya untuk dapat menghitung emisi yang mereka hasilkan. Petani swadaya menghadapi tantangan seperti tingginya biaya pengumpulan data, keberagaman pengelolaan kebun, ketidakpastian metodologi, hingga kompleksitas pengukuran emisi dari proses biologis.

Agri Carbon Tracker merupakan platform yang digunakan untuk membantu proses inventarisasi dan penghitungan emisi karbon dari aktivitas perkebunan. Melalui platform ini, data aktivitas petani dapat diolah untuk menghasilkan estimasi emisi GRK, mengidentifikasi sumber emisi, serta garis dasar (baseline) awal emisi karbon pada tingkat kelompok tani. Hasil inventarisasi ini diharapkan dapat menjadi dasar dalam penyusunan strategi penurunan emisi sekaligus memperkuat kesiapan petani sawit swadaya dalam menghadapi tuntutan rantai pasok global yang semakin menekankan aspek transparansi dan akuntabilitas penghitungan emisi.

HOME ACT
Halaman depan website platform Agri Carbon Tracker

“Penghitungan emisi pada sektor sawit memiliki tantangan tersendiri, khususnya pada tingkat petani swadaya yang masih menghadapi keterbatasan data dan kapasitas teknis. Melalui Agri Carbon Tracker, kami ingin menghadirkan pendekatan yang lebih praktis untuk membantu petani dan perusahaan memahami sumber emisi secara lebih teurkur dan transparan. Lebih lanjut, pendekatan ini diharapkan dapat mendukung penguatan rantai pasok sawit yang lebih rendah emisi dan berkelanjutan” ujar M. Izzudin Prawiranegara, Commodity Supply Chain Decarbonization Analyst, WRI Indonesia

Selama implementasi di lapangan, petani dan tim WRI Indonesia juga mengidentifikasi berbagai tantangan dalam proses inventarisasi emisi, mulai keterbatasan akses internet, kebutuhan pengumpulan data yang cukup detail, hingga perlunya estimasi untuk beberapa data yang belum tersedia. Hal ini menjadi masukan penting dalam pengembangan ACT agar dapat menjadi platform yang lebih inklusif mudah diakses, dan relevan dengan kondisi petani sawit swadaya di lapangan.

Penghitungan emisi GHG melalui platform ACT menjadi bagian penting dari upaya inisiatif Smallholder Hub dalam mendorong transformasi petani sawit swadaya menuju praktik perkebunan yang lebih berkelanjutan. Tidak hanya mendukung peningkatan kapasitas petani dalam memahami emisi dari aktivitas perkebunan mereka, inisiatif ini juga memperkuat kesiapan petani sawit swadaya untuk menjadi bagian dari rantai pasok sawit global yang semakin menekankan aspek transparansi, akuntabilitas, dan keberlanjutan.

Gambar pratinju oleh Pradana Gultom/WRI Indonesia

Lihat juga:
emisi gas rumah kaca