Poin penting
  • Sekitar 96% dari 511 TPA di Indonesia masih menggunakan sistem open dumping, dengan dominasi (sekitar 52%) berupa sampah organik, yang memproduksi emisi metana dalam jumlah besar dan berpotensi kebakaran.
     

  • Penelitian WRI Indonesia dilakukan di 5 TPA di Solok, Surabaya, Balikpapan, Mataram, dan Gorontalo  untuk mengetahui karakteristik sampah serta di  2 TPA di Surabaya dan Bogor menggunakan drone dan sensor metana.
     

  • SMART Waste Indonesia mengusulkan pendekatan Tier 2 IPCC untuk memperkuat kualitas data persampahan nasional dalam SIPSN, dengan data aktivitas lokal dan faktor emisi country-specific, serta mengembangkan platform aplikasi Methane Emission Toolbox (MET).

Jakarta, 19 Agustus 2026 – WRI Indonesia melakukan serah terima hasil kajian mengenai emisi metana dari sektor persampahan kepada Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup. Melalui inisiatif SMART Waste Indonesia, yang didukung oleh Global Methane Hub, hasil kajian yang dilakukan sejak 2024 menunjukkan pentingnya peningkatan kualitas data persampahan, metodologi inventarisasi emisi, serta pemantauan dan pengukuran emisi metana dalam aksi mitigasi pengurangan GRK.

Indonesia, sebagai salah satu negara yang berkomitmen pada Global Methane Pledge, terus memperkuat upaya pengurangan emisi metana hingga 30% secara global pada 2030, termasuk melalui sektor persampahan yang menjadi salah satu agenda prioritas nasional. Proyek SMART Waste Indonesia mendukung penguatan kapasitas pemerintah dan pemangku kepentingan dalam pengukuran, pemantauan, verifikasi, dan pelaporan emisi metana sektor persampahan, sekaligus mendorong penerapan sistem pengelolaan data dan pengukuran emisi yang lebih akurat sebagai dasar perumusan kebijakan dan strategi mitigasi.

Data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) Kementerian Lingkungan Hidup mencatat, dari total sekitar 511 TPA, diperkirakan sekitar 96% TPA masih menggunakan sistem open dumping, dengan komposisi sampah rumah tangga berupa sampah organik yang mendominasi. Pada tahun 2025 saja, Indonesia menghasilkan sekitar 144 ribu ton sampah per hari, sementara hanya sekitar 25% yang tercatat terkelola, sehingga meninggalkan potensi pembentukan emisi metana yang signifikan. Namun, data dan inventarisasi emisi masih menghadapi keterbatasan, termasuk ketergantungan pada metodologi estimasi dan belum optimalnya sistem pemantauan.

SMART Waste Indonesia mengupayakan usulan perhitungan inventarisasi emisi metana  menggunakan metode Tier 2 IPCC (Intergovernmental Panel on Climate Change), melalui peningkatan data komposisi sampah serta data aktivitas lokal  dan dikombinasikan dengan faktor emisi spesifik suatu negara (country-specific) yang lebih akurat. Usulan ini didukung melalui tiga kegiatan penting yang mencakup survei komposisi sampah, pemantauan emisi metana, dan pengembangan Methane Emission Toolbox (MET), sebuah platform untuk mendukung penguatan kualitas data persampahan nasional dalam SIPSN (Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional).

Survei lima TPA (mewakili kota kecil, kota besar, kota sedang, kota metropolitan, dan TPA regional di Indonesia, yaitu Solok, Surabaya, Balikpapan, Mataram, dan Gorontalo) pada 2025 lalu menunjukkan bahwa 52,02 persen timbunan sampah di lokasi survei masih berupa sampah organik dan 12,83 persen lainnya berupa kertas. Kedua jenis sampah ini akan menghasilkan metana ketika terurai dalam kondisi minim oksigen, sehingga terus menjadi sumber emisi sekaligus meningkatkan potensi kebakaran.

Selain survei komposisi sampah, proyek melakukan pemantauan emisi metana di TPA menggunakan drone dan sensor metana di TPA Benowo Surabaya dan TPA Galuga Bogor, dengan proses partisipatif dari pemerintah daerah melalui koordinasi dan dialog dalam pembentukan rekomendasi kebijakan serta dukungan terhadap penguatan sistem inventarisasi nasional.

wri-indonesia-survei-komposisi-sampah.jpg

Haruki Agustina, Direktur Mitigasi Perubahan Iklim, Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH), mewakili Menteri Lingkungan Hidup/Kepala BPLH Mohammad Jumhur Hidayat, menyampaikan, “Pengelolaan sampah memiliki peran penting dalam agenda pembangunan rendah emisi dan penanganan perubahan iklim di Indonesia. Pemerintah terus mendorong sektor limbah untuk berkontribusi dalam pencapaian target pengurangan emisi gas rumah kaca nasional, salah satunya melalui penyusunan peta jalan sektor limbah. Dalam konteks ini, inisiatif SMART Waste Indonesia, khususnya melalui penguatan metode pengukuran dan sistem MRV emisi metana, diharapkan dapat mendukung penyediaan data yang lebih akurat sebagai dasar perumusan kebijakan dan aksi mitigasi yang sejalan dengan kebijakan iklim nasional.”

Nirarta Samadhi, Country Director WRI Indonesia, menyebutkan, “Inisiatif WRI melalui SMART Waste Indonesia menunjukkan bahwa mitigasi metana tidak dapat hanya dilakukan ketika sampah sudah berada di TPA. Upaya perlu dimulai dari pengurangan dan pemilahan sampah dari sumber, pengalihan dan pengolahan sampah organik, hingga peningkatan pengelolaan TPA dan pemanfaatan gas metana.  WRI Indonesia mendorong penguatan kapasitas pemantauan, verifikasi, dan pelaporan, serta peningkatan kualitas data persampahan yang dapat mendukung aksi mitigasi metana yang tepat dan efektif.

wri-indonesia-di-tpa-benowo-sby.JPG

Penguatan data dan sistem MRV tersebut perlu berjalan seiring dengan perubahan paradigma pengelolaan sampah dari pendekatan kumpul–angkut–buang menuju pengelolaan sampah dari sumber, melalui pencegahan dan pengurangan timbulan sampah, pemilahan dari sumber, peningkatan daur ulang dan pengolahan sampah organik, serta pengurangan sampah yang berakhir di TPA.

Manjyot Ahluwalia, Regional Lead Asia, Global Methane Hub, dalam sambutannya juga menyampaikan apresiasi, “Indonesia menunjukkan kepada negara-negara Global South bahwa penanganan emisi metana dari sektor persampahan dapat dilakukan melalui proses monitoring dan pelaporan yang transparan, pengelolaan sampah berbasis data, serta pengelolaan sampah yang responsif terhadap iklim, baik di tingkat nasional maupun subnasional. Inisiatif SMART Waste Indonesia menunjukkan bagaimana ilmu pengetahuan, teknologi, data, dan kolaborasi kelembagaan dapat membantu memperkuat basis bukti untuk pengambilan keputusan di sektor persampahan.”

Dengan sistem monitoring yang semakin terintegrasi, pemerintah dapat mengidentifikasi sumber emisi dan wilayah prioritas, menentukan intervensi mitigasi yang paling efektif, serta mengarahkan investasi pada fasilitas dan upaya pengelolaan sampah yang memberikan manfaat pengurangan emisi terbesar. Dengan demikian, penguatan MRV dan pemanfaatan data melalui SMART Waste Indonesia dapat mendukung implementasi Zero Waste Zero Emission (ZWZE) yang lebih terukur dan berbasis bukti, sekaligus memastikanbahwa capaian pengurangan emisi metana dapat dipantau, dilaporkan, dan diverifikasi.

Foto untuk Siaran Pers bisa diakses di https://bit.ly/FotoWRI    

Tentang WRI Indonesia 
WRI Indonesia didirikan di Indonesia dengan nama Yayasan Institut Sumber Daya Dunia. WRI Indonesia adalah organisasi penelitian independen yang didedikasikan untuk berkontribusi pada pembangunan sosial ekonomi Indonesia yang inklusif dan berkelanjutan. Pekerjaan kami difokuskan pada lima portofolio: hutan, iklim, energi, kota, transportasi, dan laut. Kami mengubah ide-ide besar menjadi tindakan di nexus lingkungan, peluang ekonomi, dan kesejahteraan manusia. Untuk informasi lebih lanjut, silakan klik https://wri-indonesia.org/id. 


Tentang Proyek
SMART Waste Indonesia (Strengthening Methane Action through Reliable Tracking in Waste Sector) merupakan proyek WRI Indonesia dengan dukungan Global Methane Hub yang berlangsung pada September 2024–Agustus 2026. Proyek ini bertujuan untuk memperkuat pengukuran emisi metana, sistem MRV, serta kapasitas pemangku kepentingan dalam mengembangkan strategi dan aksi pengurangan emisi metana melalui pendekatan ekonomi sirkular.

Lihat juga:
metana