Pengantar

Percepatan adopsi teknologi rendah karbon menjadi salah satu kunci bagi Bali untuk merespons tantangan perubahan iklim sekaligus mewujudkan target emisi nol bersih pada 2045. Berbagai kebijakan dan target elektrifikasi transportasi telah ditetapkan, namun realisasi adopsi kendaraan listrik masih menunjukkan kesenjangan yang cukup besar, khususnya pada sepeda motor dan bus listrik. Kondisi ini menunjukkan bahwa keberadaan kebijakan dan teknologi belum secara otomatis mendorong perubahan perilaku masyarakat. Untuk memahami kesenjangan tersebut, penting untuk melihat adopsi teknologi dari sisi konsumen. 

Poin Penting

  • Adopsi kendaraan listrik di Bali masih jauh dari target yang ditetapkan pada RAD Percepatan Penggunaan KBLBB 2022–2026, dengan
    adopsi sepeda motor listrik 16%, mobil listrik 82%, dan bus listrik 0% dari target skenario moderat. Tantangan utama adalah biaya
    awal yang tinggi, infrastruktur pengisian daya yang terbatas, dan kekhawatiran masyarakat mengenai daya tahan dan jarak tempuh
    kendaraan listrik.
  • Meskipun kesadaran masyarakat terhadap kendaraan listrik tinggi, ketertarikan dan keinginan untuk mengadopsi masih rendah. Hal ini
    disebabkan oleh tingginya biaya awal dan kurangnya informasi serta pengalaman langsung yang meyakinkan, ditambah dengan belum
    adanya rasa urgensi karena teknologi saat ini dirasa masih mencukupi kebutuhan dan juga adanya prioritas pengeluaran lain.
  • Masyarakat Bali saat ini berada pada tahap early majority dalam siklus hidup adopsi teknologi. Mereka cenderung menunggu bukti lebih
    lanjut dan dukungan yang lebih kuat sebelum beralih ke kendaraan listrik. Namun demikian, penetrasi teknologi dalam mengakses pasar
    masih baru mencapai tahap innovators dan sedang menuju tahap early adopters.
  • Rekomendasi untuk percepatan adopsi teknologi rendah karbon meliputi: (1) penguatan komitmen, regulasi, dan kebijakan fiskal, (2)
    peningkatan kapasitas produksi, SDM, dan operasional, (3) pengembangan proses bisnis dan kolaborasi industri, (4) inovasi mekanisme
    pembiayaan dan efisiensi biaya, serta (5) pengembangan strategi komunikasi dan edukasi untuk penetrasi pasar.