Bali Low Emission Zone Initiative (BLEZI)
Mewujudkan inisiatif kawasan rendah emisi di Bali yang adil dan inklusif melalui pendekatan sandboxing dan ko-kreasi
TUJUAN
Menciptakan kawasan yang berkelanjutan di Bali melalui penurunan emisi dari subsektor transportasi, pengembangan transportasi berkelanjutan, serta ruang perkotaan yang inklusif dan resilien dengan mementingkan keadilan sosio-ekonomi.
DI MANA
Provinsi Bali, Indonesia
MENGAPA
Selama tahun 2011-2019, indeks pencemaran udara di Bali terus meningkat, dengan rata-rata 2,24% per tahun. Hal ini disebabkan oleh pencemaran udara yang diakibatkan produksi emisi yang tinggi. Subsektor transportasi menjadi kontributor terbesar kedua dalam produksi emisi, menyumbang 40,66% dari total emisi di tahun 2024.
Transportasi berkelanjutan berpotensi menjadi solusi utama untuk menyelesaikan permasalahan emisi dan polusi di Bali. Sayangnya, saat ini penggunaan transportasi berkelanjutan tidak sampai 2% dari total proporsi penggunaan moda transportasi. Jika hal ini terus berjalan, emisi di Bali dapat memburuk hingga 2 kali lipat pada tahun 2045, mengancam kesehatan masyarakat, wisatawan, dan masa depan pariwisata Provinsi Bali.
Maka dari itu, Bali Low Emission Zone Initiative (BLEZI) hadir sebagai percontohan implementasi dari rencana aksi dan sandbox penelitian yang bertujuan untuk memperkuat kerangka regulasi dan perencanaan aksi Provinsi Bali di sektor transportasi. BLEZI turut memastikan keterlibatan masyarakat lokal serta akademisi dalam perencanaan aksi.
BAGAIMANA
Berangkat dari riset pemetaan kebutuhan dan kemampuan wilayah, WRI Indonesia bekerja sama dengan Pemerintah Provinsi Bali dalam berbagai intervensi adaptif melalui pendekatan sandboxing dan co-creation untuk menguji kawasan rendah emisi sebagai solusi dekarbonisasi berbasis kawasan.
Intervensi adaptif ini kami tuangkan salah satunya dalam bentuk riset House of Strategy BLEZI, yang diharapkan dapat menjadi panduan bagi pemangku kepentingan dalam perencanaan, pengembangan regulasi, dan implementasi LEZ di Bali.
Melalui pendekatan sandboxing, WRI Indonesia dapat menguji kebijakan dan intervensi secara terbatas agar potensi risiko dapat diminimalkan dan dampaknya dievaluasi sebelum diperluas ke tingkat yang lebih luas. Dari hasil riset kami, terdapat enam potensi area yang dapat menjadi percontohan sandboxing LEZ, yaitu Kota Denpasar, Kuta, Sanur, Ubud, Nusa Dua, dan Nusa Penida.
Pada tahap awal, WRI Indonesia akan berfokus di area Sanur dan Ubud dengan mendukung pemangku kepentingan lokal melalui riset dan pengembangan kebijakan, pendampingan komunitas, pengembangan kapasitas, dan implementasi program.
Secara khusus, WRI Indonesia mendampingi pengembangan Kawasan Rendah Emisi (KRE) Sanur bersama Dinas Perhubungan Kota Denpasar, Dinas Penataan Ruang Kota Denpasar, serta Yayasan Desa Adat Intaran diantaranya melalui pengembangan model usaha dan kapasitas pengelolaan shuttle Listrik serta reka ruang taktis kawasan Segara Ayu.
Di Ubud, WRI Indonesia turut mendukung pengembangan KRE melalui kolaborasi bersama Desa Adat dan Dinas Perhubungan Kabupaten Gianyar, yang berfokus pada integrasi energi terbarukan dan angkutan sekolah ramah lingkungan.
Dengan kegiatan berbasis komunitas (co-creation) seperti konsultasi publik, Focus Group Discussion, advokasi, dan lokakarya, WRI Indonesia berkomitmen dalam mendukung implementasi BLEZI yang partisipatoris dan secara aktif melibatkan pentaheliks (akademisi, masyarakat, pelaku usaha, pemerintah, dan media).
MITRA
Pemerintah Provinsi Bali, Pemerintah Kota Denpasar, Pemerintah Kabupaten Gianyar, Desa Adat Intaran, Yayasan Bina Wisata
DONOR
ViriyaENB