Krisis iklim menjadi tantangan yang semakin nyata bagi keberlangsungan kopi gayo di Kabupaten Bener Meriah, Aceh. Kenaikan suhu, perubahan pola cuaca, dan musim yang tidak menentu menyebabkan penurunan produktivitas dan kualitas kopi, serta meningkatkan kerentanan tanaman kopi terhadap perubahan kondisi lingkungan.

Di tengah tantangan tersebut, rata-rata produktivitas kopi petani di Bener Meriah juga masih belum optimal. Petani rata-rata baru mampu menghasilkan green beans sekitar 600-750kg/ha/tahun. Rendahnya produktivitas ini tidak terlepas dari praktik budi daya yang belum sepenuhnya berkelanjutan, ketergantungan terhadap penggunaan pupuk dan bahan kimia, pengelolaan kebun yang belum efisien, hingga minimnya penerapan praktik terbaik agroforestri dan konservasi lahan.

Dalam jangka panjang, kondisi tersebut dapat menurunkan kualitas dan daya dukung lahan, sehingga kebun kopi menjadi semakin rentan terhadap dampak krisis iklim. Jika terus berlangsung, kombinasi antara krisis iklim dan praktik pertanian yang belum berkelanjutan tidak hanya mengancam produktivitas dan kualitas kopi gayo, tetapi juga berdampak langsung terhadap kesejahteraan petani yang menggantungkan hidupnya pada komoditas kopi.

Merespon tantangan tersebut, WRI Indonesia melalui inisiatif Sustainable Gayo Coffee yang didukung oleh HSBC Indonesia menyelenggarakan kegiatan Sekolah Lapang Good Agriculture Practice (GAP) bagi petani dari Desa Bale Redelong dan Waq Pondok Sayur, Kabupaten Bener Meriah, Aceh. Berlangsung pada 18–23 Mei 2026, kegiatan ini diikuti oleh 70 petani, termasuk petani perempuan dan kelompok usia muda.

Foto Peserta Sekolah Lapang GAP_Gayo
Tim WRI Indonesia bersama petani peserta Sekolah Lapang GAP dari Desa Waq Pondok Sayur

Sekolah Lapang GAP menjadi bagian dari upaya penguatan kapasitas petani dalam menerapkan praktik budi daya kopi yang lebih berkelanjutan dan adaptif terhadap perubahan iklim. Melalui kegiatan ini, petani mendapatkan pendampingan terkait kesesuaian lahan, penanaman, pemupukan, pengendalian hama terpadu, pengelolaan kebun, hingga panen dan pascapanen kopi. Selain itu, petani juga dibekali dengan materi terkait adaptasi perubahan iklim, deforestasi, dan degradasi lahan, serta penerapan agroforestri pada komoditas kopi.

Petani melaksanakan praktik pemangkasan tanaman kopi pada kegiatan Sekolah Lapang GAP
Petani melaksanakan praktik pemangkasan tanaman kopi pada kegiatan Sekolah Lapang GAP

Pendekatan agroforestri menjadi salah satu aspek penting dalam sekolah lapang ini, mengingat lokasi perkebunan sebagian besar di dalam kawasan hutan sehingga keberadaan pohon pelindung dan tutupan vegetasi memiliki peran penting dalam menjaga lingkungan yang dibutuhkan tanaman kopi gayo. Melalui pendekatan tersebut, petani didorong untuk memahami bahwa peningkatan produktivitas tidak harus dilakukan melalui ekstensifikasi, melainkan melalui pengelolaan yang lebih optimal, efisien, dan berkelanjutan.

Tidak berhenti pada praktik budi daya, inisiatif ini juga mendorong peningkatakan kualitas kopi melalui kegiatan Coffee Value Assessment (CVA) Cupping Experience yang dilaksanakan bersama Adena Coffee pada 24 Mei 2026. Kegiatan ini menjadi bagian dari dukungan pada tahap pascapanen, di mana petani diperkenalkan pada konsep basic sensory, cupping standard, dan Coffee Value Assessment (CVA), sebuah sistem penilaian terbaru dari Specialty Coffee Association (SCA) yang mengevaluasi kualitas kopi secara lebih komprehensif.

Narasumber dari Adena Coffee memberikan materi pengantar terkait jenis metode pengolahan biji kopi
Narasumber dari Adena Coffee memberikan materi pengantar terkait jenis metode pengolahan biji kopi

Peserta yang terdiri dari para petani champion dan petani muda diajak memahami bagaimana proses panen, fermentasi, pengeringan, hingga pengolahan pascapanen memengaruhi profil rasa dan kualitas akhir kopi. Pemahaman ini menjadi penting karena peningkatan produktivitas perlu berjalan beriringan dengan peningkatan kualitas, agar petani tidak hanya menghasilkan kopi dalam jumlah yang baik, tetapi juga mampu menghasilkan kopi spesialti dengan nilai tambah yang lebih tinggi di pasar.

Petani muda melaksanakan cupping untuk mengevaluasi kualitas, aroma, dan cita rasa kopi untuk kemudian dicatat dalam Coffee Value Assessment Form
Petani muda melaksanakan cupping untuk mengevaluasi kualitas, aroma, dan cita rasa kopi untuk kemudian dicatat dalam Coffee Value Assessment Form

"Keberlanjutan kopi gayo tidak hanya ditentukan oleh hasil panen, tetapi juga oleh bagaimana petani menjaga kesehatan tanah dan menghasilkan kopi yang sesuai dengan standar spesialti. Karena itu, Sustainable Gayo Coffee mendorong penguatan kapasitas petani mulai dari praktik budidaya berkelanjutan hingga pengolahan pascapanen, agar petani dapat meningkatkan nilau tambah kopi sekaligus menjaga kelestarian lingkungan" ujar Ricky Barus, Sustainable Coffee Project Lead, WRI Indonesia

Kedua pelatihan yang dilakukan memperlihatkan bahwa pendekatan dalam inisiatif Sustainable Gayo Coffee tidak hanya berfokus pada penguatan praktik budi daya berkelanjutan di tingkat kebun, tetapi juga mendukung petani dalam meningkatkan kualitas kopi melalui pengolahan pascapanen yang sesuai dengan standar kopi spesialti global. Rangkaian kegiatan ini diharapkan dapat mendukung terciptanya sistem produksi kopi yang lebih tengguh terhadap krisis iklim, bernilai tambah, dan tetap menjaga kelestarian lingkungan.

Gambar pratinju oleh Perdana Gultom/WRI Indonesia

Lihat juga:
jaringan pasokan