Kota-kota di Indonesia yang tumbuh pesat menghadapi kerentanan serius akibat kenaikan permukaan air laut dan banjir pesisir. Mereka juga perlu meningkatkan akses terhadap layanan dan peluang bagi warganya, mengurangi polusi udara, dan menurunkan emisi karbon. Berbagai upaya yang dilakukan untuk menurunkan emisi karbon dan polusi udara masih berjalan sendiri-sendiri dan belum terkoordinasi dengan baik. Selain itu, upaya tersebut juga terhambat oleh sistem data yang belum konsisten dan keterbatasan kapasitas teknis.

Melalui dukungan dari UK PACT (Partnering for Accelerated Climate Transitions), WRI Indonesia mempercepat transisi nasional Indonesia menuju sistem mobilitas perkotaan generasi berikutnya melalui platform kolaboratif, pengembangan kerangka kebijakan, dan proyek percontohan strategis.

Proyek ini merupakan bagian dari komitmen UK PACT untuk mendukung transisi berkelanjutan Indonesia.  Melalui program Future Cities, UK PACT membantu Indonesia memajukan mobilitas perkotaan berkelanjutan. UK PACT adalah program pemerintah Inggris yang mendukung pembangunan inklusif dan rendah karbon.

UK PACT melalui WRI pada awalnya membantu kota-kota pesisir Indonesia seperti Surabaya dan Makassar mengembangkan strategi mobilitas perkotaan yang berkelanjutan dan inklusif selama pemulihan pasca-pandemi. Sejak saat itu, UK PACT memperluas dukungan untuk perencanaan transportasi dan dekarbonisasi Indonesia. Di tingkat nasional, WRI membantu percepatan dekarbonisasi transportasi melalui pengembangan kebijakan berbasis bukti dan peta jalan komprehensif, dengan dukungan sistem pengukuran, pelaporan, dan verifikasi (MRV) yang kuat dan terintegrasi.

Melanjutkan hasil kerja Fase 1 dalam perencanaan mobilitas tangguh iklim dan intervensi berbasis komunitas, proyek ini kini menargetkan penurunan emisi sektor transportasi sebesar 5% untuk mendukung target NDC Indonesia, melalui pengembangan alat pemantauan emisi yang komprehensif. Fase 2 akan menyelesaikan sistem pengukuran, pelaporan, dan verifikasi (MRV) untuk sektor darat dan perkeretaapian, serta memperluas ke transportasi udara dan laut. Proyek ini mendukung skema transportasi dalam Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) 2045 Indonesia melalui kebijakan transportasi yang berbasis data, inklusif, dan tanggap terhadap perubahan iklim.

Proyek ini dilaksanakan bersama WRI Indonesia pada kedua fasenya, dengan melibatkan Vital Strategies dan ARUP pada Fase 1, serta GEES ITB pada Fase 2.

Fase 1

Platform Kolaboratif, Pengembangan Kerangka Kebijakan, Proyek Percontohan

Tahap pertama dari program ini membangun landasan penting melalui platform kolaboratif dengan mendorong forum multipihak di Jakarta, Surabaya dan Makassar. Forum-forum ini menghubungkan pemerintah, masyarakat sipil, dan kelompok rentan, sambil mendorong pelembagaan Satuan Tugas Emisi Gas Rumah Kaca dan Mitigasi Perubahan Iklim Nasional.

Hasil utama dari program ini mencakup rekomendasi kebijakan kendaraan listrik berbasis baterai (KBLBB) berdasarkan 700 titik data komuter di Surabaya; desain kota yang adaptif terhadap iklim yang mengintegrasikan kawasan rendah karbon serta infrastruktur biru-hijau di kawasan Sudirman Loop Makassar dan Kota Lama Surabaya; penerapan bertahap perencanaan transportasi publik di Makassar dan Surabaya; serta uji coba konversi sepeda motor listrik.

Fase 1 memperkuat kerangka kebijakan melalui pengembangan basis data keselamatan jalan dan pelatihan dekarbonisasi transportasi, serta menyusun peta jalan dekarbonisasi untuk sektor transportasi darat dan perkeretaapian.

Fase 2

Inventarisasi Emisi Terintegrasi dan Pemantauan dan Verifikasi

Fase 2 beralih ke tingkat nasional dengan memperkuat kolaborasi bersama para pengambil kebijakan di tingkat pusat. Program ini meninjau praktik inventarisasi yang ada, mengidentifikasi kesenjangan utama, serta membangun kemitraan strategis dengan penyedia data kunci untuk sektor emisi maritim dan penerbangan yang di fase sebelumnya kurang terwakili. Saat ini, sebuah platform pemantauan terpadu sedang dikembangkan untuk menghadirkan wawasan menyeluruh mengenai emisi di seluruh moda transportasi: darat, kereta api, laut, dan udara. Upaya membangun sistem pemantauan emisi yang komprehensif ini akan memperkuat perencanaan transportasi berkelanjutan yang berbasis data dan bukti ilmiah.

Metodologi Kolaboratif dan Kerangka Mitigasi

Program ini memperkuat koordinasi antar-kementerian melalui Pokja PPTB, kelompok kerja di bawah Pusat Pengelolaan Transportasi Berkelanjutan, yang memfasilitasi kolaborasi antara Kementerian Lingkungan Hidup, Kementerian Perhubungan, dan Kementerian Energi. Panel ahli akan bersama-sama mengembangkan pendekatan standar untuk inventarisasi emisi serta pedoman pengukuran, pelaporan, dan verifikasi (MRV) yang komprehensif, guna memastikan pelacakan emisi yang transparan dan andal di seluruh subsektor transportasi.

Peta Jalan Implementasi NDC

Fase 2 juga mendorong komitmen iklim Indonesia dengan menghitung potensi penurunan emisi dari berbagai aksi mitigasi di sektor transportasi. Program ini akan membantu mengarusutamakan prinsip kesetaraan gender, disabilitas, dan inklusi sosial dalam strategi iklim, guna memastikan kelompok rentan turut merasakan manfaat dari investasi transportasi berkelanjutan, sekaligus mengaitkan tujuan iklim dengan upaya pengentasan kemiskinan.

Peta Jalan Transisi Energi

Program ini membangun fondasi bagi transformasi energi di sektor transportasi melalui pemetaan pemangku kepentingan dan analisis kebutuhan yang komprehensif lintas kementerian. Model energi tengah dikembangkan menggunakan data primer dan sekunder, termasuk melalui diskusi kelompok terarah (FGD) bersama para ahli dan perwakilan industri. Kelompok kerja bersama antar-kementerian kemudian memvalidasi model transisi tersebut dan merumuskan rekomendasi kebijakan yang dapat ditindaklanjuti untuk mempercepat penerapan energi bersih, melanjutkan keberhasilan platform kolaboratif yang telah dibangun pada Fase 1.